BARA'S POTS AND PANS

Problem Hidup 30.000 Kaki di Atas Laut

February, 25th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 1

Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan.

img

Tulisan Bara’s Pots & Pans kali ini berencana saya tulis sambil menonton film James Bond, Quantum of Solace, di layar TV plasma di tengah bandara Kuala Lumpur Interational Airport (KLIA). Adegan seru kebut-kebutan oleh Daniel Craig & Olga Kurylenko membuat saya sedikit tidak fokus menulis artikel ini. Mata sebentar-sebentar ngintip ke TV. Saya memang sedang transit di lapangan udara Ibukota Malaysia ini untuk mengambil koneksi penerbangan ke Amsterdam. Jadi, sambil menunggu flight tengah malam tersebut, saya coba menuangkan huruf-huruf untuk menjadi tulisan. Waktu transit ada tiga jam. Jadi, saya pikir bisa selesai lah sebuah artikel. Tapi, ya itu, film di depan saya benar-benar membuat buyar semua konsentrasi. Dan, memang pemenangnya adalah James Bond (Craig) dan Camille Montes (Kurylenko). Saya jadi keasyikan nonton dan lupa tentang tulisan area. Repotnya lagi, selesai film, mbak-mbak di public announcement (PA) bandara dengan suara merdu kengantuk-ngantukan (hampir pukul 00.00 soalnya) mengumumkan untuk penumpang pesawat ke Amsterdam segera menuju ruang tunggu, persiapan boarding. Halah, gagal deh menulis!

Setelah duduk nyaman dan pesawat lepas landas, saya pun mulai lagi membuka notebook untuk meneruskan artikel. Tapi, kok, mendadak perut kriuk-kriuk. Pertanda, perut agak sedikit kosong dan minta diisi. Sewaktu menu dibagikan, tertera bahwa hidangan malam (well, tengah malam tepatnya) berupa Garoupa Fish Cooked in Butter with Baby Potato, Chicken Curry with Rice and Sauteed Beans dan Penne Tricolore in Creamy Tomato Sauce. Sekali lagi, notebook saya tutup dan makan dulu. Chicken Curry pun saya nikmati dengan segelas white wine Australia sambil menonton film lain lagi di layar pribadi kursi saya, yaitu Confessions Of A Shopaholic. Beres mengisi perut, notebook ternganga lagi di depan mata. Tapi, kok ngantuk, ya? Selain itu, agak tanggung, film belum selesai. Tutup lagi, deh, notebook-nya. Lalu, saya membuat rencana kecil, yaitu selesai film, buka notebook, tulis artikel, beres deh—secara perjalanan lumayan panjang, hampir 14 jam. Eh, malah yang ada, di tengah-tengah film saya ketiduran. Film nggak selesai ditonton, artikel juga nggak kelar ditulis.

Bangun dari tidur yang setengah-setengah itu—karena kombinasi dingin kabin pesawat, bunyi mesin jet, dan tidur setengah duduk—membuat saya merasa lebih lelah dibanding segar. Yuk mari, notebook dibuka lagi untuk usaha yang kesekian kalinya menulis. Yang ada, layar hanya saya pelototin, keyboard tidak disentuh. Sambil mendengarkan lagu kali, ya? Sok, saya pasang headphone pesawat dan memilih Mariah Carey di hiburan pribadi kursi saya. Apa yang terjadi? Bobo lagi! Pas terbangun karena lengkingan-lengkingan Mariah, saya baru sadar kalau notebook dari tadi menyala dan power-nya down alias baterainya entek! Ooh, problem hidup 30.000 kaki di atas permukaan bumi.

Dari total perjalanan yang hampir 18 jam sejak meninggalkan Jakarta, tidak ada satu kata pun yang tertera di layar notebook. Mendarat di Amsterdam pukul 06.00 waktu setempat, langit masih gelap dan suhu cukup menggigit dengan 5° di bawah 0°. Jet lag pula. Artikel area jujur terlupakan. Apalagi, saya di Belanda untuk urusan keluarga yang penting. Malamnya, dengan kelelahan yang menumpuk, saya tertidur pulas tanpa teringat bahwa punya tanggung jawab menulis. Dua jam yang lalu saya bangun, melihat keluar di mana matahari baru saja mengintip dan menemukan pemandangan yang menakjubkan. Salju turun, walau tipis-tipis, tapi semua di luar jendela saya berwarna putih bersih. Cantik luar biasa! Akhirnya, saya ambil sofa, memposisikannya di depan jendela, mencolok kabel notebook dan mulai menulis tentang upaya dan usaha saya memberikan cerita untuk area sejak berangkat hampir dua hari lalu. This was my story on how to write this story.

 

Chicken Curry

Cuci bersih, keringkan, dan potong dada ayam atau paha ayam tanpa tulang (500 gr) menjadi kotak-kotak kecil dadu. Panaskan minyak (4 sdm) untuk menumis, kemudian goreng ayam dengan api besar hingga ayam kecokelatan (tapi belum matang). Turunkan api jadi sedang, lalu masukkan irisan bawang merah (4 siung), bawang putih (2 siung), dan bubuk kari (1 sdt), masak terus sambil diaduk hingga harum. Tuang kaldu yang dibuat dari campuran air (400 ml atau 2 cangkir) dan kaldu ayam instan (2 blok kecil) lalu campur dengan santan siap pakai (kurang lebih 150 ml) sambil terus diaduk hingga kuah mendidih. Kecilkan api, dan masak hingga ayam matang. Terakhir, tambahkan merica, garam (bila perlu), dan taburi irisan cabe, dan daun ketumbar. Suguhkan dengan nasi hangat.

 

Follow him on Twitter

Bookmark and Share

1 Comments

leonardo @ areamagz.com

March, 2nd 2010

Membaca resep Chicken Curry ini sampai habis di kalimat 'suguhkan dengan nasi hangat' benar-benar mampu membuat gw laper banget.

Tulisannya melenceng, tapi tetep asik!

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.