BARA'S POTS AND PANS

I Love My Job

April, 8th 2010 |  by  Bara Pattirajawane  | 0

Tahu apa? Semua yang keluar dari dapur Resto Mumbul ini sedap luar biasa!

img

I love my job. I seriously love my job so much. Bagaimana tidak? Pekerjaan saya benar-benar membawa saya melanglang buana ke berbagai tempat menarik. Tulisan saya kali ini saya siapkan sambil duduk di vila tempat saya menginap di Ubud, Bali, dengan pemandangan sawah hijau (di sebelah kiri) dan kolam renang bergaya etnik Bali (di sebelah kanan) sambil menikmati iced rosella tea yang dicampur daun sereh dan mint.

Di Ubud, saya sedang menambah beberapa hari untuk liburan, setelah dua hari sebelumnya bekerja jadi pendemo masak untuk grup karyawan sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang makanan dan mengadakan outing di Bali. Demo masak off-air-nya diadakan di kawasan Jimbaran, di resort mewah berbintang 5, tempat saya dan kru menginap. Saya harus akui, resort yang memang sebuah rantai hotel jaringan internasional itu terlihat mewah dengan menempati lokasi super luas, seperti yang lazim ditemui di Bali. Resort itu sendiri terbagi dalam 5 kompleks penginapan mengelilingi beberapa kolam renang dan tempat bersantap di pinggir pantai. Bicara mengenai pantai, saya harus akui kalau Pantai Jimbaran memang bagus dan bersih dibanding pantai tetangganya, yaitu Kuta.

Anyway, saya mau cerita sedikit tentang makanan yang dihidangkan di resort bintang 5 ini. Pada malam terakhir, saya memutuskan mencoba salah satu restoran hotel yang berlokasi di pinggir pantai itu. Biasanya, saya lebih memilih keluar dari kawasan hotel untuk explore daerah sekitarnya dan mencicipi makanan lokal yang disediakan. Tapi, saat itu, badan terasa agak capek dan untuk praktisnya, saya makan di hotel saja. Ditemani asisten, saya mempelajari menu yang disodorkan. Ada serentetan hidangan khas Bali tentu saja, dan beberapa pilihan hidangan internasional. Kami pun memesan Salad Organic Daun Nasturtium Organic yang kami share. Lalu, asisten saya yang sedang sok diet (karena bercita-cita memiliki perut ramping trepes) hanya menyantap semangkuk kecil sup ikan. Saya sendiri melahap grilled chicken dengan mashed potato dan sepotong kecil brokoli. Minumnya iced tea dua gelas.

Selesai dinner, saya bermaksud segera kembali ke kamar karena mata mulai sayu karena ngantuk. Bon makanan diminta, dan dalam sekejap saya langsung melek lagi dan ngantuk hilang mendadak karena mata kaget melihat angka-angka yang tertera. Totalnya Rp578.380 untuk hidangan seumprit dan rasa so-so tadi. Oke, hidangan makan malam ini tidak keluar dari dompet saya sendiri memang—ditanggung organizer. Tapi, ya, tetep aja deh sedikit tercengang. Sudah sebegitu mahalnyakah Bali? Barangkali untuk turis asing, harga tersebut biasa saja. Tapi untuk saya kok rada overpriced, ya?

Selesai urusan di Jimbaran, saya langsung meluncur ke Ubud untuk beberapa hari rest & relax sebelum balik ke Jakarta. Hujan deras sempat membuat saya bingung arah dan sedikit nyasar (saya menyewa dan menyetir mobil sendiri) sehingga tiba di Ubud baru pukul 22.00. Setelah check-in di vila yang cantik dan lucu ini, saya (yang masih ditemani asisten) mulai kelaparan dan langsung ke tengah Ubud yang memang terkenal dengan macam-macam restoran dan kafe di sepanjang jalan. Karena sudah agak malam, sudah banyak restoran yang tutup. Pilihan pun jatuh ke sebuah tempat bernama Mumbul. Kombinasi antara lapar dan ademnya hawa di Ubud membuat saya sedikit kalap memesan (asisten saya sudah pasrah dan membiarkan saya yang order). Daftar pesanan saya seperti ini: Vietnamese Springrolls (lumpia Vietnam basah yang dibungkus lembaran kulit yang terbuat dari beras), Samosas (snack khas India dari sayur-sayuran), Chicken Salad with Avocado & Grilled Pineapple, dan untuk main course-nya, Daging Sapi Saus Merah (pedas) dan Chicken Kebab. Minumnya, milk shake. Si ibu pelayan sempat nyeletuk, "Laper, Pak?" "Banget," saya bilang. Tahu apa? Semua yang keluar dari dapur Resto Mumbul ini sedap luar biasa! Semua hidangan yang dihidangkan di depan kami habis ludes. Lapar iya, tapi enaknya juga iya. Plus, presentasinya sangat oke, mencerminkan chef yang sangat berpengalaman dalam menyuguhkan hidangan. Nah, yang oke banget juga adalah ending-nya. Sewaktu bon disodorkan, angka-angka yang tercantum adalah Rp274.800 untuk makanan seabrek dan se-yummy tadi. I love Ubud!

 

Daging Kecap Bumbu Bali

Resep ini saya demokan pada acara off-air di Jimbaran.

Potong dadu 500 gram daging has dalam (tenderloin) kemudian campur dengan 1 sdm maizena dan ½ sdt kaldu bubuk rasa daging sapi atau ayam, aduk rata. Lelehkan 2 sdm minyak dengan 1 sdm margarin kemudian goreng dengan api sangat panas hingga daging kecokelatan (tidak usah sampai matang). Sisihkan.

Haluskan 12 cabai keriting, 8 bawang merah, 4 siung bawang putih, 6 kemiri dengan ulekan atau chopper. Tumis bumbu yang telah dihaluskan dengan 1 sdm minyak dan setangkai daun sereh yang telah digeprek dan 4 lembar daun jeruk purut hingga matang dan harum. Masukkan kembali daging, masak terus hingga daging matang. Terakhir, tambahkan 2-3 sdm kecap manis dan ½ sdt kaldu bubuk rasa daging sapi atau ayam. Aduk rata lalu hidangkan dengan nasi putih hangat. 

p.s.: Kalau bermaksud menjual hidangan resep ini di sebuah restoran, jangan mahal-mahal, ya. Nanti yang makan kaget seperti saya.

 

Follow the writer on Twitter

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.