The Balance Of Life
June, 25th 2010 | by Bara Pattirajawane | 0
Saya makan bisa sampai enam kali sehari. Makan pagi, makan sebelum siang, makan siang, makan sore, makan malam, dan makan midnight.
Saya baru kembali dari Singapura. Ada urusan kerjaan dan sekaligus diselipi senang-senang. Kalau kerjaannya untuk urusan masak-memasak, saya (seperti biasalah) hore-horenya adalah shopping (terutama karena sedang berlangsung Singapore Great Sale), makan (wajib hukumnya untuk saya coba ini-itu). Urusan kerjaan berjalan mulus dan lancar. Semua yang harus dikerjakan beres. Kalau belanjanya, well, karena saya bukan seorang shophaholic, itu juga terjadi masih dalam batas wajar dan normal. Maksud saya, kartu kredit nggak jebol dan pulang-pulang, saya masih membawa sejumlah lembaran dolar Singapura, tidak menghabiskannya sampai titik darah penghabisan.
Nah, kalau makannya memang agak heboh. Saya cuma pergi empat hari, tapi kok yang bilang “loe menggendut, ya?” ada cukup banyak orang. Ya gimana, dong? Sejak mendarat sampai siap-siap boarding di Changi untuk pulang ke Jakarta, saya kerjanya makan terus. Dan, semuanya tanpa diimbangi nge-gym. Di hotel sih ada fasilitas fitness dengan peralatannya yang lengkap. Tapi, selama di kota Merlion itu, saya sama sekali tidak merasa guilty dengan tidak mengunjungi atau bercengkerama bersama dumbell dan barbell.
Kalau wajarnya orang makan tiga kali sehari; makan pagi, siang, dan malam; maka saya makan bisa sampai enam kali sehari. Makan pagi, makan sebelum siang, makan siang, makan sore, makan malam, dan makan midnight. Semua tempat yang saya belum pernah coba saya singgahi. Ada juga, sih, beberapa restoran yang selalu saya kunjungi di Singapura, seperti nasi ayam Hainan di Hainanese Delight, Stamford Road. Kalau untuk midnight food, saya menikmatinya di kawasan Little India, seberang toko raksasa 24 jam Mustafa, tempat saya akan nongkrong di sebuah tempat makan India sambil mengunyah garlic naan, cheese naan, roti prata butter, yellow basmati rice, black pepper mutton, dan chicken tandoori sambil minum ice cold chai. Makanan lain yang saya icip? Ada semacam kafe yang hanya menyuguhkan salad dengan 15 aneka salad yang diracik di depan kita dan sebuah counter dengan 10 macam brownies yang chewy and yummy (keduanya di Raffles City Mall).
Karena satu hari saya ingin sekali makan nasi lemak, maka sebelum jalan dari hotel, saya online dan log-in dulu di akun Twitter. Saya langsung menulis, “@PakBondan help..dimana saya bisa makan nasi lemak yang the best in town, ya?” Bapak Maknyus yang memang pakar icip-icip ini langsung memberikan respon “@BaraTheCook Jauh. Di Changi Village International Nasi Lemak” Thank God for Twitter! Memang jauh dari hotel tempat menginap, tapi saya tidak peduli. Saya harus pergi ke sana. Habis perkara. Dan untung saya ke sana, karena nasi lemaknya juara! Hari terakhir sebelum pulang, saya menyempatkan diri mengunjungi Asian Civilisation Museum yang kebetulan sedang berlangsung sebuah pameran khusus koleksi perhiasan para Maharaja dari Dinasti Moghul, yang di antaranya adalah Shah Jahan yang terkenal membuat Taj Mahal. Selama satu jam lebih saya terkesima melihat berbagai kilauan berlian, jamrud, dan batu mirah berbentuk cincin, kalung, gelang sarung pedang, hiasan sorban, dan lainnya. Ternyata, menikmati batu-batuan itu ada efeknya juga di perut. Saya jadi lapar. Alasan yang dicari cari? Tentu saja. Karena pas keluar museum, ada seorang bapak yang menjual es potong (es krim yang dipotong dan dilapis roti). Tidak mungkin saya tidak beli. Sambil duduk di bawah patung Sir Thomas Stamford Raffles sambil makan es, saya merasa puas karena telah mengimbangi kerjaan dengan shopping, dengan makan, dan dengan seni. The balance of life. Lovely!
Es Potong
Kita bisa buat sendiri es potong di rumah dengan sedikit kreativitas. Beli 1 liter es krim rasa apa saja, simpan dahulu dalam freezer. Siapkan loyang kotak atau persegi panjang, lapisi dengan plastik hingga plastik melebihi ukuran loyang, sisihkan. Lelehkan 2 genggam coklat pekat dengan cara di-tim atau dengan microwave hingga meleleh, kemudian masukan kacang kesukaan; kacang tanah, kacang mede, atau kenari. Supaya garing, matangkan kacang dahulu secara disangrai atau di-oven. Aduk coklat leleh dengan kacang hingga tercampur. Ratakan coklat kacang di loyang yang telah diolesi sedikit minyak, kemudian keraskan dalam kulkas. Cacah kasar coklat kacang. Keluarkan es krim, tuang dalam mangkuk dan masukkan coklat kacang. Aduk rata, lalu masukkan es krim ke loyang yang telah disiapkan, ratakan bagian atasnya lalu keraskan lagi dalam kulkas semalaman. Lepas es krim dari loyang dengan menarik plastik yang melebihi loyang, kemudian potong setebal kurang lebih 2 cm lalu taruh di antara selembar atau 2 lembar roti.
Follow the writer on Twitter





0 Comments
Be the first to comment.