Mudik Nyook!
September, 8th 2010 | by Bara Pattirajawane | 0
Kita semua tahu, bahwa mudik itu selalu pergi untuk mengunjungi seorang sosok di keluarga yang paling tua atau yang dituakan.
Sebentar lagi, dunia transportasi Indonesia akan heboh, nih. Di darat, di udara, di laut. Ribuan mobil akan pergi menjauh dari Jakarta. Stasiun Gambir penuh. Terminal Lebak Bulus, Pulogadung dan Kampung Rambutan akan dipenuhi orang yang umpel-umpelan. Bandara Soekarno-Hatta dan Cengkareng akan penuh sesak ngantre untuk check-in. Belum lagi Pelabuhan Tanjung Priok. Inilah gambaran yang terjadi dari tahun ke tahun menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri. Kalau kita lihat di televisi, serasa ribet dan amat sangat jauh dari nyaman. Tapi, di balik ribuan sosok wajah manusia yang walau sedang puasa, menahan lapar dan dahaga, sambil berjejalan itu, mereka menyimpan satu kegirangan, kebahagian dan kesukacitaan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Mereka mau mudik, mau ketemu sanak saudara dan mau melihat kembali ke kota dan desa mereka yang kontras banget dengan kehebohan, kebisingan, dan keruwetan kota Jakarta. Mereka mau mudik. Mau pulang kampung.
Saya pernah merasakan mudik dulu. Sekarang, jujur sudah tidak. Beda waktu memang. Kalau mudik heboh itu adalah saat lebaran, saya bermudik itu kalau natalan. Sama saja, sih. Mudik, ya, mudik. Tapi, bedanya mudik saya agak jauh. Walau saya berdarah Ambon dan Manado, saya lahir di Jakarta, besar di negeri seberang Eropa sana. Nenek adalah warga negara Belanda. Kita semua tahu, bahwa mudik itu selalu pergi untuk mengunjungi seorang sosok di keluarga yang paling tua atau yang dituakan. Jadi, mudik untuk saya adalah mengunjungi oma tercinta. Sewaktu kami, saya dan orangtua, tinggal di Wina, Austria, menjelang natal, kami semua sudah mulai sibuk. Bapak sudah mengatur cuti dari kantor. Ibu menyiapkan segala sesuatu yang harus dibawa ‘mudik’ ini, yang biasanya bermacam kue, coklat, dan makanan lainnya. Persis sama seperti mudik di Indonesia, kan? Untuk saya, mudik bukan hanya kota yang akan menjadi tujuan kita. Mudik adalah juga pertemuan dengan orang-orang yang kita cintai. Perjalanan mobil ke Belanda dari Austria memakan waktu 14 jam. Cape dan jontor. Tapi, perasaan itu hilang saat saya masuk rumah tua dan bertemu nenek. That is what ‘mudik’ is all about.
Sejak nenek meninggal pertengahan ’90-an, saya tidak mudik lagi. Saya pun sudah tinggal di Indonesia. Mau mudik ke Ambon atau Manado, jujur nggak kepikiran, mengingat keluarga besar semua di Jakarta. Kadang-kadang saya pikir, lebih enak juga menikmati Ibukota kita ini dalam kelengangannya. Mobil sedikit, jalanan sepi, nyaris nggak ada macet. Tapi, kalau dipikir lagi, betapa bahagianya mereka yang pulang kampung. Untuk sampai di tempat tujuan memang penuh perjuangan. Kalau lewat darat, macetnya nggak ketulungan. Kalau terbang ada risiko overbooking, kena sikutan plus kaki siap dinjak-injak. Tapi, itu adalah bagian dari nikmatnya mudik menurut saya. So, enjoy mudik! Dan, jangan lupa bawa oleh-oleh bagi orang-orang tercinta nanti. Tips dari saya, bawa sesuatu yang praktis, tahan lama (nggak cepat basi maksudnya). Salah satu oleh-oleh tradisional apa lagi kalau bukan cookies. Ini adalah resep dari saya untuk disiapkan sebelum berangkat.
Selamat Hari Raya Idul Fitri Minal Aidzin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin dari Bara Si Tukang Masak.
CCN&O Cookies
Ini adalah singkatan dari Chocolate Cheesy Nut & Oatmeal Cookies. Bahan-bahannya sebagai berikut.
250 gram mentega
1 buah kuning telur
250 gram keju parut (pilih keju cheddar atau edam/gouda)
200 gram tepung terigu
50 gram tepung beras
½ sdt garam
50 gram gula halus
3 sdt bubuk kakao
¼ sdt baking powder
40 gram oatmeal
100 gram kacang mede cincang halus dan siapkan juga kacang mede utuh untuk hiasan
Cara membuat:
Panaskan oven dengan suhu 180° C. Dalam mangkuk, kocok mentega dengan kuning telur menggunakan sendok kayu. Tambahkan keju parut halus, campur rata. Campur tepung terigu, tepung beras, garam, gula halus, bubuk kakao, dan baking powder. Aduk rata, lalu masukkan dalam adonan mentega. Terakhir, tambahkan oatmeal dan kacang mede cincang, aduk rata. Ambil adonan kurang lebih ½ sdm, bentuk bulatan, pipihkan, taruh di loyang, kemudian beri 1 buah mede utuh sebagai hiasan di atasnya. Panggang dalam oven selama 12-15 menit hingga cookies matang dan garing. Dinginkan, masukan dalam toples, pastikan toples bebas/kedap udara, beri pita hiasan, dan masukan dalam tas mudik.
Follow the writer on Twitter

0 Comments
Be the first to comment.