FRANKLY SPEAKING

Citra...Oooh...Citra...

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Mahkota hanya salah satu contoh betapa dunia mati-matian memburu dan mempertahankan citra

img

Pernahkah sampeyan punya pacar bernama Image? Kalau saduran bahasa Nusantara-nya mungkin Citra. Tak sedikit di antara nama kekasih atau istri kita adalah Citra. Saya punya teman penari utama di EKI Dance Company. Wajahnya ada unsur-unsur Deasy Ratnasari dan Cut Mini. Namanya Citra. Sampeyan yang pada era ‘70-an sudah hidup dan daya ingatnya sudah bekerja pasti tahu aktris film top kita yang suka berkebaya, Citra Dewi.

Ternyata, di lingkungan asing, Image tak dipakai sebagai nama keseharian perempuan. Piala Academy Award namanya bukan Image. Namanya Oscar. Padahal sudah jelas-jelas bisnis akting adalah bisnis image, bisnis citra. Pelaku adegan ciuman belum tentu melakukan ciuman atas nama dorongan hati. Yang penting, mereka dengan kemampuan aktingnya mesti membawakan citra bahwa ciuman mereka adalah kissing yang tulus dan murni. Kalau ndak begitu, sutradara pasti ngamuk-ngamuk.

Di Indonesia, ketika dunia film masih jaya-jayanya, ketika kuantitasnya bisa di atas 100 judul per tahun tapi kualitasnya juga oke sampai awal 90-an, nama piala festival filmnya adalah Piala Citra. Demikianlah penyerahan Piala Citra menjadi acara yang ditunggu-tunggu dalam Festival Film Indonesia.

Hhmmm, Citra itu seperti pakaian, sepatu, korset, atau apalah. Yang penting, bagaimana kesan orang banyak. Tak peduli napas ngos-ngosan karena korset. Demi citra seksi di depan publik, tak peduli di sektor private, di dalam kamar, di atas ranjang, seorang perempuan jadi dead fish karena kaki, tungkai, dan pangkal pinggulnya pegal-pegal karena harus pakai sepatu tumit tinggi. Tak peduli seorang pasangan hanya plonga-plongo karena pasangannya minta kerokan, masuk angin setelah demi citranya di muka forum ia rela pakai kamisol maupun tank top.

Dalam istilah lama di Jawa, citra, pakaian, atau bungkus itu "ageman". Di suatu tembang klasik, Pangkur, disebutkan bahwa "agomo ageming aji". Artinya, agama-agama yang tertulis dalam KTP hanyalah demi citra pemegang KTP. Hati maupun kelakuan yang bersangkutan sering tak ada hubungannya dengan citra tersebut.

Citra tertinggi dalam sejarah peradaban manusia menurut saya adalah mahkota. Rata-rata pemimpin besar dunia pasti mempunyai catatan-catatan hitam. Mahkota alias citra baik diperlukan oleh setiap raja justru untuk melindungi hal-hal hitam dalam tempurung kepalanya. Mahkota itu saat ini secara fisik sudah tidak ada, tapi penghargaan-penghargaan dan gelar tetap ada.

Soeharto yang digelari Bapak Pembangunan pernah diusulkan jadi Pahlawan Nasional dan kini usul itu ramai lagi seiring usulan masyarakat agar Gus Dur diangkat jadi Pahlawan Nasional.

Citra...Citra...Citra...sekali lagi...Citra...

Mahkota hanya salah satu contoh betapa dunia mati-matian memburu dan mempertahankan citra. Rhoma Irama pernah membuat lagu berjudul “Rupiah”. Dibilangnya dalam tamsil bahwa setiap orang berusaha merebut hati perempuan bernama Rupiah. Mungkin Raja Dangdut ini perlu menggubah lagi nyanyian baru yang lebih sensual dibanding Rupiah. Dialah Citra.

Orang-orang bule, setahu saya, selain tak pernah menamai perempuannya dengan Image alias Citra, tak juga menamainya dengan Merek alias Brand. Ada teman saya Brandon. Tapi, pasti maksud nenek moyangnya bukanlah Brand. Meski demikian, bukan berarti mereka tak hirau pada Citra. Coca-Cola pasti hasil kerja keras luar biasa dalam pencitraan sehingga selama 9 tahun terakhir perusahaan minuman itu tetap di urutan teratas dalam tingginya nilai merek.

Dan, dari obrolan ngalor-ngidul itu, saya kira tantangan sudah saya ucapkan kepada rekan-rekan area, yang akan meningkatkan citranya dari tidak hanya bacaan eksklusif dengan kertas konvensional, tapi kertas sekaligus majalah online.

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.