FRANKLY SPEAKING

Ebony and Ivory

February, 2nd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Setidaknya beri sinyal betapa Ebony and Ivory atau tawa dan tangis itu satu kesatuan

img

Putih dan hitam tak hanya berdampingan di tuts piano. Stevie Wonder mengalunkan dalam lagunya “Ebony and Ivory” agar kulit putih dan kulit hitam bahu-membahu laksana pada piano. Justru, dari hal yang kontras dan berbeda tersebut muncullah harmoni. Tak hanya menyangkut warna kulit. Siang dan malam juga sama. Bahkan, dalam keadaan gelap, muncul berbagai keindahan.

Tak dapat kita bayangkan, muncul beragam gaun tanpa kehadiran malam. Atau, lampu-lampu kota menyala bagai ratna mutu manikam tampak dari udara tanpa kehadiran malam. Saat itulah hidup para penyanyi, pemain gitar, piano, dan sebagainya.

Kadang gelap-terang muncul serentak. Pesta adalah salah satu contoh. Pertunjukan wayang kulit untuk pesta-pesta panen, pernikahan, atau bersih desa selalu dilengkapi tumbuhnya permainan berbagai judi di seputarnya, penjualan minuman keras, sampai tak jarang, prostitusi. Bahkan, hari-hari keagamaan yang suci selalu diwarnai gegap gempita penyaluran sisi-sisi lain kehidupan manusia. Mal-mal dihias pada Hari Natal. Nafsu main-main dan belanja dilampiaskan di dalamnya. Saat Lebaran, hampir dipastikan muncul petasan. Orang-orang biasanya mulai berani melanggar aturan lalu-lintas. Mereka berwisata di mobil-mobil bak terbuka yang mestinya hanya boleh buat mengangkut barang. Keadaan hampir sama kalau orang Betawi sedang mengunjungi pesta nikah handai taulannya. Mereka berdesakkan di mobil bak terbuka. Polisi tampak sungkan menilang, seakan dispensasi harus diberlakukan di saat-saat tertentu seperti pesta.

Mengapa selalu ada pesta di setiap tempat dan kaum? Mungkin, agar roda perekonomian berputar. Ambil contoh pertunjukan wayang kulit. Setiap kali pementasan semalam suntuk ini berlangsung, minimal muncul penjual-penjual makanan kaki lima, penjual obat, penjual batik, penjual boneka-boneka wayang. Wah, masih banyak lagi yang lain, belum termasuk nafkah yang diterima dalang dan rombongan pengrawit.

Tak usahlah kita bermimpi agar salah satu tempat di negeri ini diliput besar-besaran oleh dunia pas peringatan malam tahun baru, seperti Edinburgh, Sydney, Toronto, Tokyo, Mokswa, London, Berlin, Rio de Janeiro, Paris, dan New York. O ya, satu lagi, Melbourne. Cukuplah kalau kita pikirkan bentuk pesta lain, yang tidak hanya memberi makan tukang penjual terompet. Siapa tahu info ini inspiratif. Orang-orang Ekuador membuat patung tokoh-tokoh politik yang tak mereka sukai sepanjang tahun. Mereka membuatnya dari jerami atau koran bekas. Artinya, jerami dan koran nganggur dimanfaatkan. Di dalamnya diberi kembang api. Pas malam tahun baru mereka bakar.

Mudah-mudahan di malam tahun baru nanti, kita tidak hanya berpikir tentang bagaimana kita berkumpul sebagaimana orang-orang Hongkong di Causeway Bay dan Tsim Sha Tsui, orang-orang India di Mumbai, dan orang-orang Skotlandia berkumpul menunggu meriam ditembakkan di Istana Edinburgh sembari sebagian menyanyikan Auld Lang Syne karya penyair besar mereka, Robert Burns. Tapi, bagaimana kita berpikir agar terjadi perputaran duit yang lebih luas buat berbagai kalangan. Kalau tak bisa memberi kerjaan buat banyak orang, setidaknya beri sinyal betapa “Ebony and Ivory” atau tawa dan tangis itu satu kesatuan. Ekuador menarik. Para lelakinya mengenakan baju perempuan. Mereka menangis-nangis justru agar penonton tertawa.

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.