Jakarta sebenarnya dirancang hanya untuk setengah juta orang

Kebanyakan dari kita, termasuk saya, pasti suka sesuatu yang besar-besar. Pak Joop Ave, mantan anak buah Bung Karno, suatu sore pernah bilang ke saya di rumahnya di Kebayoran Baru, "Bung Karno tidak pernah bicara, kecuali tentang hal-hal besar." Maka, lahirlah Monas. Maka, lahirlah komplek olahraga Senayan. Maka, muncullah Gedung Asia-Afrika di Bandung. Maka, lahirlah pidato-pidato Si Bung yang menggemparkan dunia.

Rumah juga begitu. Rumah besar, atau magrong-magrong kalau kata orang Jawa, juga selalu jadi dambaan kita. Cara melukiskan keberhasilan seseorang biasanya yang paling mudah adalah dengan melihat ukuran rumahnya. Semakin magrong rumah seseorang, semakin sukses orang tersebut.

Saya kira Mak Erot dari Sukabumi juga tidak akan melegenda seperti sekarang kalau kemampuannya adalah memperkecil sesuatu. Perempuan ini jadi sangat kondang justru karena kemampuannya untuk membuat sesuatu menjadi besar. E.F Schumacher yang pernah malang-melintang di perusahaan-perusahaan besar justru kebalikan dari Mak Erot. Dia justru bilang hal seperti yang ada pada judul bukunya yang abadi, Small is Beautiful.

Ya, kita semua pasti sudah sering dengar "Kecil itu Indah" dari ekonom dunia itu. Tapi, mungkin jarang yang tahu bahwa sebelum bicara begitu, dulu banget, Schumacher bilang bahwa Jakarta sebenarnya dirancang hanya untuk setengah juta orang. Bagus dan sangat ideal, katanya. Sampai-sampai, sebuah kota di Swedia, Goteborg, dirancang meniru kota Si Pitung itu.

Hanya saja, kebijakan sak madyo (kata madya alias tengah, yang berarti secukupnya), kadang-kadang mengusik perhatian kita. Bisa saja bukan soal besar atau kecil yang paling penting. Tapi yang di tengah-tengah alias secukupnya, itulah yang mungkin kita cari.

Saya sering melihat orang yang punya rumah besar, apalagi kalau anaknya banyak. Tiap anak bahkan sejak taman kanak-kanak sudah punya kamar sendiri-sendiri. Tapi, rumah magrong-magrong itu toh akhirnya kosong melompong manakala anak-anak sudah sekolah atau kuliah di luar kota. Lebih-lebih kalau mereka sudah berumah tangga. Mereka sudah dan harus punya rumah masing-masing, meski satu kota sekali pun dengan orangtua.

Kalau rumah tidak besar, bagaimana jadinya kalau Lebaran, apalagi kalau sudah lahir cucu-cucu? Kayaknya Lebaran yang pakai kumpul-kumpul setahun cuma dua hari, deh. Nah, sisanya yang 350-an hari lebih rumah kosong melompong. Resepsi pernikahan saja sekarang jarang dibuat di rumah. Biasanya sewa gedung. Maksud saya, apa saat Lebaran itu sebaiknya kita sewa saja penginapan di mana gitu. Jadi, rumah tetap bisa dibuat sak madyo. Kesan luas bisa dibuat dengan cara mengindahkan anjuran umumnya arsitek. Perbanyak cermin di dinding. Harus built-in. Misalnya, lemari jadi satu atau ‘nempel’ di dinding. Cari warna-warna yang muda dan berikan kesan final. Misalnya, jangan ada dinding yang tampak kosong. Pajang lukisan. Dan, lain-lain.

Ah, itu hanya pikiran-pikiran ngalor-ngidul. Ini hanya masalah ruang, yaitu bagaimana sebuah rumah dibangun agar tidak terkesan, “Magrong-magrong kok hanya ditinggali berdua: kakek dan nenek. Sementara, masih banyak orang yang perlu ruang untuk mendirikan rumah.”

Saya jadi ingat, suatu hari ada rombongan pelajar SD dari pedusunan di Papua datang ke Jakarta. Pertanyaan anak ini sangat menarik ketika melihat lalu lintas di Jakarta. Kira-kira, "Itu di bis-bis penuh orang-orang. Sempit. Berdesakan. Tapi, kenapa di mobil-mobil sedan isinya hanya satu-dua orang. Kosong."