FRANKLY SPEAKING

Valentine di Tempat Cuma Kita

February, 12th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 2

Kalau negara akan menghukum seseorang, siapapun, dasarnya jangan dendam. Dasarnya kasih sayang

img

 

Inti segala sesuatu, tuh, kasih sayang. Herannya, bentuk hati dan panah menancap sebagai lambang Valentine tak pernah jadi simbol negara. Lihat saja yang belum lama ini diributkan, yang konon dicontek perancang Giorgio Armani. Itu, lho, lambang Garuda. Bukan lambang hati dan panah yang dijadikan logo negara. Saya kira selain Indonesia, tak ada juga negara lain yang simbolnya Valentine. Padahal, apa pun yang akan jadi polah tingkah negara harus didasari kasih sayang. Kalau negara akan menghukum seseorang, siapa pun, kata Pak Menteri soal hukum Patrialis Akbar, dasarnya jangan dendam, tapi pendidikan. Dengan kata lain, dasarnya kasih sayang.  

Tak ada kasih sayang, jadilah seperti kisah perempuan di Banyumas yang dihukum karena mencuri tiga biji coklat. Di Situbondo, seorang lelaki dihukum karena mencuri lima batang pohon jagung buat sapinya. Seorang anak di bawah umur di Surabaya stres karena harus disidang. Ia duduk di kursi terdakwa karena kenakalannya menyengatkan lebah pada temannya sesama bocah. 

Itu hukum yang tak dipraktikkan atas dasar kasih sayang. Mestinya kasus pencurian coklat dan jagung cukup dirampungkan dengan cara musyawarah, tanpa acara di pengadilan. Mestinya baik polisi maupun hakim yang menangani bocah 'penyengat lebah' tidak pakai seragam polisi dan toga. Agar rileks. Agar kekeluargaan. Agar anak-anak tidak ketakutan. 

Ya, dasar penyelenggaraan negara haruslah kasih sayang. Dalam segala hal. Jika listrik PLN dimati-matikan, dasarnya juga kasih sayang. Kasih sayang, agar para warga hidupnya tidak lagi ditawan oleh televisi, internet, dan perlengkapan elektronik lainnya. Agar suami-istri kembali saling berpadu kasih mengisi kegelapan.

Jika fasilitas mobil menteri dikinclongkan, dasarnya bukan mau jor-joran kemewahan. Jangan. Dasarnya haruslah kasih sayang pada menteri. Nah, mobil Toyota Royal Saloon itu dilengkapi detektor kengantukan sopir. Melalui peralatan pengamat retina mata, kalau supir mengantuk, mobil akan memberi peringatan. Coba, betapa amannya mobil menteri. Betapa sayangnya kita pada sang ATM keluarga dan partai itu.

Partai-partai ormas baru Nasional Demokrat yang diprakarsai Sri Sultan HB X dan Surya Paloh, logonya juga bukan kasih sayang. 

Ini karena negara, partai, dan ormas tidak diselenggarakan atas dasar kasih sayang. Atau, justru karena mereka paham? Paham bahwa sesungguhnyalah 14 Februari adalah hari matinya kasih sayang. Bahwa hati berwarna pink yang dipanah oleh Cupid justru melambangkan dibunuhnya hati nurani. 

Alkisah, konon, pada masa Kaisar Claudius II, ada pendeta Romawi bernama Valentinus yang dihukum mati karena menikahkan sejoli muda-mudi. Padahal, menurut aturan kaisar, pernikahan justru memperlemah spirit juang warga negara sebagai prajurit sejati. 

"Lho, justru kami ingin mengenang keindahan cinta kasih dua muda-mudi itu, kok. Kami bukan mengenang kesadisan hukuman mati sang santo," mungkin begitu kata segenap pembela hari Valentine. Mana yang betul dalam perdebatan ini?

Ini saran saya. Daripada ikut-ikutan debat tak ada ujung (nanti dikira orang-orang Pansus Century), mending kita cari tempat-tempat khusus yang belum diketahui banyak orang. Kita rayakan Valentine di situ dengan Speak Softly Love Andy Willimas, "We're in a world, our very own. Sharing a love that only few have ever known."

 

2 Comments

Tre

February, 17th 2010

saya pikir tadinya, daerah-daerah lain selain Jakarta masih sangat kenceng kekerabatannya, kasih sayangnya. tapi, bahkan di banyumas sama situbondo, kasih sayang yang dimaksud mas tejo udah ga 'penuh' lagi.

kering emang udah dunia.

mas Boy

April, 29th 2011

Cinta itu TAI YANG MAMBU NE RAKARUAN

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.