FRANKLY SPEAKING

Remaja dan Film Nasional

March, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Film-film bule yang laris-laris itu, kok, nggak selalu soal remaja, ya?

img

Film-film bule yang laris-laris itu, kok, nggak selalu soal remaja, ya? Malah kebanyakan temanya adalah tema-tema orang dewasa. Bintang-bintangnya juga begitu. Usia mereka tidak remaja lagi. Coba saja sebut bintang-bintang pada masanya, seperti Sharon Stone, Julia Roberts, Tom Cruise, Kevin Costner, dan Nicole Kidman. Mereka pada masa-masa puncaknya bukanlah remaja lagi.

Film-film Bond, baik yang dibintangi Sean Connery, Roger Moore, Pierce Brosnan, dan Daniel Craig, jelas tidak dibintangi remaja-remaja macam Nicholas Saputra pada masa-masa puncaknya. Film-film Bond yang juga digandrungi remaja di Tanah Air itu dibintangi orang-orang dewasa. Problem pembuatan film di Indonesia adalah begitu banyak tema dewasa yang bisa digali dari Indonesia. Tapi, fakta menunjukkan bahwa pengunjung bioskop adalah remaja. Bahkan, mahasiswa bukanlah pengunjung potensial bioskop.

Judul-judul macam Get Married dan Kambing Jantan, untuk sekadar menyebut dua di antara banyaknya film tentang remaja, menunjukkan betapa besarnya potensi anak-anak belasan tahun untuk mengunjungi teater. Kalau sudah begini, kita tidak punya pilihan. Salah satu tema dewasa yang juga berpotensi digemari kaum remaja adalah horor. Maka, kebangkitan film Indonesia—setelah Festival Film Indonesia berakhir pada 1992—ditandai dengan merebaknya film-film horor sejak 2002. Cikal bakalnya sudah ada pada era ‘70-an dengan bintangnya, antara lain Suzanna.

Setelah kebangkitan awal 2000-an itu, puncaknya terjadi pada 2008 dengan produksi lebih dari 80 judul. Memang ada keanehan. Orang-orang dewasa di atas usia 25 tahun bisa membaca diskusi film nasional, membaca berita tentang film nasional, kasih usul ini-itu pada perfilman nasional melalui media massa, tapi mereka tidak datang ke bioskop.

Saya ingat, ketika Rano Karno membintangi Gita Cinta dari SMA bersama Yessy Gusman. Aktor yang kini jadi wakil bupati Tangerang itu memang remaja. Bioskop banyak dikunjungi remaja. Tapi, pada periode itu misalnya, juga ngetop film yang dibintangi Roy Marten, bintang yang sudah tidak remaja lagi. Roy misalnya waktu itu membintangi Cintaku di Kampus Biru, film yang bercerita tentang kehidupan asmara kampus Gajah Mada. Film ini ditonton oleh kalangan mahasiswa dan dewasa.

Mengapa dulu film nasional bukan hanya dimiliki penonton remaja? Waduh, dekat-dekat hari perfilman nasional 30 Maret ini saya paling hanya bisa kasih beberapa kemungkinan. Pertama, tahun 70-an itu lalu lintas belum semacet sekarang. Orang dewasa lebih cepat lelah dibanding remaja. Orang dewasa akan malas bersusah-susah datang ke gedung bioskop kalau harus melalui ritual kemacetan. Kedua, pada era ‘70-an belum marak versi VCD maupun DVD film layar lebar. Apalagi, rumah-rumah tangga yang memiliki home theater, yang sudah bisa nyetel DVD laiknya bioskop, lebih suka nonton di rumah. Apakah remaja nggak lebih baik nonton DVD di rumah? Agak lain, remaja masih ingin ketemu teman, cari pacar, calon istri atau suami. Itu semua ada di sektor publik. Tak heran remaja masih nonton di bioskop.

Tapi, kenapa remaja juga nonton tema-tema dewasa kalau itu diproduksi Hollywood? Ah, kalau itu mah nggak usah dijawab. Bangsa kuli di mana pun akan suka apa pun yang dibuat bule.

 

   Bagikan  

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.