FRANKLY SPEAKING

Se-(Miliaran) Pasang Mata Bola

May, 31st 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

itu penyebab banyak fans Inggris siap tidak makan sepekan demi tim nasional mereka

img

Bu Guru waktu saya SMP membedakan tanding dan lomba. Pertandingan, tuh, kalau pesertanya "berhadapan". Lihat saja, tidak ada pertandingan menyanyi atau memasak. Yang lumrah, ya, lomba menyanyi, bowling, memasak, menulis, baca puisi, dan sejenisnya.

Apa sepakbola menarik karena olahraga ini sifatnya pertandingan; para pesertanya berhadapan, bukan seperti lomba-lomba dalam cabang atletik? Nggak juga. Tenis, yang meja maupun lapangan, juga dipertandingkan. Bola voli pun kayak gitu. Tapi, umatnya kok tidak seluas dan sebesar massa sepakbola? Lagipula, tidak seluruh perlombaan, yaitu kompetisi yang dihakimi juri, pasti kalah menarik dibanding pertandingan alias kompetisi yang dihakimi wasit. Lomba nyanyi ala American Idol maupun AFI juga dibanjiri banyak pendukung. 

Mungkinkah karena dalam sepakbola, judi bisa sangat marak? Ingat, kan, ketika Andreas Escobar ditembak mati konon oleh mafia yang kalah judi lantaran pemain belakang Kolombia itu melakukan gol bunuh diri pada Piala Dunia 1994? Ah, nggak juga. Pasar taruhan tak cuma merebak di balik pertandingan sepakbola maupun pertandingan lain-lain. Perlombaan juga mampu menggairahkan judi. Lomba-lomba tarik suara, apalagi yang pemenangnya ditentukan SMS masyarakat, juga mampu menjadi ajang judi. 

Ketika judi resmi kita tutup secara munafik, pasar taruhan gelap muncul di mana-mana. Siapa pemenang Pemilukada juga bisa jadi kancah judi, kok. Apalagi, ketika pasaran kerja semakin melorot. Banyak orang bengong. Seorang teman, sambil melamun, tiba-tiba mengajak temannya meludah barengan. Ia lantas bertaruh, siapa yang ludahnya paling cepat dihinggapi lalat, dia yang menang. Intinya, apa pun dapat diperjudikan. Tak cuma sepak bola. Bisa jadi nanti orang-orang memperjudikan apakah Ahmad Dani-Maia serta Anang-KD kembali rujuk.

Saya kadang-kadang mikir, mungkinkah massa sepakbola jadi kayak gini karena pada dasarnya manusia senang pada ketidakpastian? Beda dibanding bulutangkis dalam Piala Thomas kemarin misalnya. Dalam sepakbola termasuk di Afrika Selatan kali ini, tanpa perpanjangan dan adu penalti, skor bisa 0-0. Dalam tenis maupun bulu tangkis, se-Steffi Graf atau se-Rudi Hartono atau siapa pun pemainnya pasti bola maupun shuttlecock itu akan jatuh tak sampai hitungan puluhan menit. Dalam sepakbola, skor bisa tetap nol-nol dalam dua kali 45 menit. Ini yang bikin deg-degan. Dan, bukankah ini menarik?

Kalaupun nol itu akan pecah juga, kita tetap tidak tahu akan jadi berapa hasil akhir angka. Pada bulutangkis, ketika angka tertentu tercapai, misalnya 15, pertandingan selesai.

Ya, berdebar-debar menunggu ketidakpastian. Bisa jadi, lho, itu penyebab banyak fans Inggris siap tidak makan sepekan demi tim nasional mereka, Tiga Singa, atau fans Italia yang siap kehilangan pekerjaan demi tim nasional mereka, Azzuri.

Ah, tapi semua itu, kan, cuma pikiran-pikiran iseng saya. Kenapa sepakbola digandrungi demikian banyak orang, sebaiknya kita juga tanya ke Yuli Sumpil, Aremania, yang nekad datang dan hidup di Jakarta hanya bermodal jualan kaus fans demi tim yang didukungnya. Kita bisa tanya juga ke Ayu Betik yang sampai menamai anaknya Jayalah Persibku. Kalau sempet ke Korea sih kita bisa sekalian tanya, kenapa mereka sampai rela kehilangan pacar dan istri demi tim nasional yang mereka dukung?

   Bagikan  

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.