FRANKLY SPEAKING

Bekal Makanan ke Piala Dunia

June, 16th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Susu baru dikenal oleh bangsa Indonesia lewat penjajahan Belanda abad ke-18

img

Banyak yang heran, termasuk saya, masa sih dari 240 jutaan penduduk Indonesia kita nggak sanggup mencari 11 orang terbaik buat tim nasional ke Piala Dunia? Lantas seperti biasa, saling tunjuk pun berlangsung. Ada yang menunjuk tabiat asli kita. Katanya, kita orangnya susah kerja sama. Lain kalau buat penampilan tunggal atau paling banter ganda. Sebut misalnya Nova Widianto dan Alvent Yulianto Chandra di bulutangkis atau Utut Adianto di catur. 

PSSI tak luput pula dari tudingan. Sedemikian parahnya organisasi itu sampai-sampai tak sanggup bikin kaderisasi pemain. Parah tapi betapa kuat organisasi itu. Sampai-sampai, kabarnya Presiden SBY pun tak kuasa mengganti Nurdin Halid sebagai pemimpinnya. 

Tak pelak pula tudingan mengarah ke mental para pemain itu sendiri. Suap-suapan disinyalir masih gencar terjadi. Mungkin, karena KPK tidak mengembangkan sayap penyidikannya sampai ke pemain bola. Di lingkungan birokrat saja, wilayah KPK beroperasi, sogok-sogokan masih banyak.

Bagaimana kalau sekarang saya menuding ikan? Ikan-ikan di negeri kelautan inilah penyebab merosotnya prestasi sepakbola kita. Mereka hanya memperbolehkan kita memakan 25,03 kg per orang per tahun. Padahal, Badan Kesehatan Dunia WHO membuat standar minimal 31,4 kg. Prancis yang konsumsi ikannnya di atas itu, 36 kg per kapita per tahun, masih lebih rendah dibanding Spanyol dan Portugal. Jadi, bagaimana kita akan melawan Portugal?

Tanggal 1 Juni lalu, pas lahirnya Pancasila, ditetapkan sebagai Hari Susu Nusantara. Nah, ternyata, selain kekurangan ikan, kita pun kekurangan susu. Kita hanya minum susu 9 liter per orang per tahun. Tetangga kita saja, Malaysia sudah 25,4 liter. Singapura lebih-lebih, 32 liter.

Mungkin ke depan, makanan dan jajan murah kita disyaratkan mesti mengandung ikan maupun susu. Soalnya, tidak setiap orang doyan ikan dan susu, kecuali kalau keduanya sudah diolah dalam adonan bareng yang lain-lain. Akibatnya mungkin harga jadi naik. Makanan yang tidak mengandung ikan dan susu akan tetap murah. Orang akan tetap pilih yang murah. Dalam keadaan kepepet, pertimbangan dompet jauh lebih menentukan ketimbang pertimbangan mutu.

Lebih bahaya mana coba, tidak terpilih sebagai pemain bola atau kebakaran dari tabung gas? Tentu yang terakhir lebih berbahaya, seperti yang akhir-akhir ini kerap kejadian, yaitu kebakaran dari tabung gas 3 kg. Tapi masyarakat tetap memilih membeli peralatan tabung gas yang tidak pakai label Standar Nasional Indonesia, karena harganya lebih murah.  

Gini deh, bagaimana kalau nggak usah memaksakan olahan makanan mengandung ikan dan susu. Apalagi, susu baru dikenal oleh bangsa Indonesia lewat penjajahan Belanda abad ke-18. Kalau tidak mampu, meski menurut Koes Plus kita ini negeri "kolam susu", kembali saja ke local wisdom yang jauh lebih mengakar ketimbang susu. Misalnya kunci. 

Rempah-rempah yang mirip kunyit dan lengkuas itu kerap dipakai dalam sayur asem zaman dulu. Ini saja yang kita perbanyak variasinya untuk berbagai makanan sehingga nanti tidak cuma terkandung dalam sayur asem. 

Jangan anggap remeh kunci. Korea Selatan yang dikenal sebagai negeri ginseng, konon sekarang sudah mengalihkan perhatiannya pada kunci. Dan, mereka melakukan studi besar-besaran untuk itu.

 

   Bagikan  

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.