Jakarta, Daerah Khusus Perjanjian
June, 25th 2010 | by Sujiwo Tejo | 0
Jakarta itu 40% areanya sekarang berada di bawah permukaan laut.
Saya baru tahu kalau Jakarta benar-benar khusus untuk banyak hal. Di kota ini, misalnya, ternyata praktis sudah ndak ada rumah tangga yang listriknya 450 watt. Bos PLN, Dahlan Iskan, bilang listrik naik per 1 Juli, tapi justru gratis bagi pelanggan 450 watt. Artinya, sebetulnya, niatan tokoh media massa asal Jawa Pos itu ndak ada artinya apa-apa bagi masyarakat kebanyakan di Jakarta. Karena, masyarakat luas di Ibukota ternyata listriknya sudah 900 watt ke atas.
Sayangnya, sekarang pemadaman-listrik-bukan-karena-trafo-rusak sudah berkurang. Nyaris tak sering lagi pemadaman listrik akibat memang kurang daya seperti tahun-tahun lalu. Jadi, saya susah membandingkan apakah Jakarta memang masih khusus dibanding kebanyakan kota lain yang listriknya sering padam bergilir akibat kurang daya.
Di Dhaka misalnya, masyarakat Bangladesh protes main rusak ini-itu akibat kena pemadaman listrik bergilir. Sehingga, mereka tak bisa nonton Argentina lawan Nigeria via televisi. Mereka ngamuk dan merusak pabrik-pabrik saking kesalnya tak bisa menyaksikan kedua tim favorit mereka di Piala Dunia.
Siapa tahu jika pemadaman listrik itu berlangsung di Jakarta, masyarakatnya tidak akan seberingas itu. Orang Jakarta cukup sabar, kok. Misalnya, jika dibandingkan tabiat sebagian mahasiswa di Makassar. Bayangkan ketika tol Bintaro-Serpong lumpuh total gara-gara banjir, dan rentetannya hampir seluruh Jakarta macet abis selama kurang lebih 4–6 jam. Masyarakat masih tenang-tenang saja. Mungkin, orang-orang Jakarta itu marah. Tapi, samakan dengan gertak. Bilang saja marah sambal. Buktinya, mereka masih tetap bertahan hidup di eks-Batavia ini.
Ya, listrik tidak padam selama Piala Dunia. Andai pun padam, rasanya kita gak bakal seperti Dhaka karena itu tadi, Jakarta adalah daerah khusus. Bahwa sepeda motor semakin banyak saja jumlahnya, memang bukan cuma fenomena di Jakarta. Sekarang di berbagai daerah, pedagang sepeda motor aktif menjemput bola. Mereka gerainya sampai ke RT/RW dan boleh tanpa uang muka. Akibatnya, kota-kota jadi penuh sesak dengan sepeda motor. Tapi bagi saya, Jakarta masih khusus. Misalnya, pengendara mobil di sini relatif lebih sabar terhadap sepeda motor yang seliweran dibanding pengendara mobil di kota-kota lain.
Pada ‘90-an, ketika sepeda motor belum diobral seperti sekarang dan ketika untuk memperoleh SIM C benar-benar ada ujiannya, pengendara sepeda motor relatif bertanggung jawab. Kalau mereka nyrempet kaca spion mobil, mereka akan berhenti membetulkan posisi spion tersebut. Atau, setidaknya memberi kode via kepala dan tangan bahwa mereka minta maaf. Sekarang, jangankan minta maaf. Andai habis nyrempet lantas sepeda motor itu terpaksa berhenti di samping mobil yang disenggolnya karena lampu merah, mereka menoleh ke pengemudi mobil itu aja nggak.
Toh, para pengemudi mobil juga masih cukup sabar, kok. Mereka nggak pulang kampung ke Wonogiri, Tegal, atau udik-udik yang lain. Orang-orang dari kota lain mana punya kesabaran setebal itu. Pekan lalu, saya janjian sama temen dari Universitas Monash, Australia, di Ritz Carlton, Kuningan. Pukul 20.30, karena macet di Kemang, saya baru sampai di Kuningan pukul 20.15. Eh, teman itu sudah kabur dan marah-marah via ponsel. Katanya, saya telat banget.
Nggak sabar banget teman itu. Kayak nggak tahu Jakarta aja. Dikiranya, ini Melbourne dekat Monash yang kalau janjian bisa dijamin tepat waktu saking lancarnya jalan-jalan di kota itu. Mungkin, ada juga salahnya di saya. Saya nggak telepon dia pas lagi macet di Kemang bahwa akan terlambat. Waktu itu, saya lupa bahwa dia orang luar Jakarta. Kalau sesama warga Jakarta, telat-telat sampai 1 jam itu wajar. Dan, itu juga termasuk kekhususan warga Jakarta.
Kita juga sudah sabar untuk menunggu janji-janji pembangunan MRT dengan 14 stasiun konon dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas. Nantinya, fasilitas angkutan umum berstandar kota-kota dunia seperti Hongkong ini akan dikembangkan sampai Stasiun Kota dari Dukuh Atas. Kapan janji itu akan ditepati, ya wallahualam. Dalam menyongsong janji-janji, orang Jakarta cukup sabar, kok. Itulah kekhususan kita. Selain sabar, kita juga tidak sombong.
Orang-orang Belanda, tuh, sombong. Sesumbar kemana-mana bahwa negaranya ada di bawah permukaan laut. Lho, Jakarta itu 40% areanya sekarang berada di bawah permukaan laut.
Di samping sabar menunggu janji-janji, kita juga tidak pernah sombong dan gembar-gembor bahwa beberapa di antara 200-an situ tua di Jakarta lebih tinggi dibanding daerah permukiman. Misalnya, Situ Rorotan dan Situ Pamulang. Orang sabar dan tidak sombong kekasih Tuhan.

0 Comments
Be the first to comment.