Bermobil-ria Sebelum Tahun Ketujuh
July, 14th 2010 | by Sujiwo Tejo | 0
Cadangan minyak kita tinggal tujuh tahun ke depan.
Semua ada batas umurnya. Pelopor otomotif Indonesia Om William Soeryadjaya umurnya terbatas 88 tahun. Beliau wafat pas umat Nasrani merayakan Paskah awal April lalu. Tapi, saya tidak tahu pasti sebetulnya berapa, sih, batas umur mobil. Begitu kita ke jalan raya, usia mobil yang kita pandang, kok, macam-macam banget dari yang gress ewes-ewes, sampai yang sangat sepuh.
Kabarnya, konon, sebagai bangsa kita tuh dikenal pintar merawat. Tak sedikit kawan-kawan dari Jepang yang heran melihat mobil Colt era '70-an masih berjaya mengangkut sayur-mayur di pedesaan. Begitulah memang, suatu bangsa yang ahli memelihara keawetan seperti Dayang Sumbi dari Pasundan, juwita yang abadi di dalam kemudaan.
Tapi, saya kurang bisa diyakinkan oleh penjelasan ini. Buktinya, banyak telepon umum rusak. Tak sedikit fasilitas umum seperti taman di ruang-ruang publik yang terbengkalai. Kaca jendela kereta api umumnya retak membentuk lajur seperti urat-urat daun. Memelihara Reog Ponorogo, Tari Pendet, dan Rasa Sayange juga nggak becus, kok. Dugaan saya, karena merawat mobil atau apa pun di sini jauh lebih murah ketimbang beli mobil baru. Di banyak negara, toh, tak sedikit kita lihat peralatan elektronik seperti laptop dibuang di tempat sampah. Alasannya sederhana. Lebih mahal mereparasi alat-alat itu ketimbang membeli baru.
Apakah sekarang mulai terjadi pergeseran? Misalnya, ternyata masyarakat lebih senang membeli mobil baru karena ada kemudahan keuangan dari fasilitas kredit? Buktinya, seturun-turunnya pembelian mobil, para penjual masih optimistis bahwa sampai tahun ini akan terjual total 600 ribu unit mobil. Terutama untuk kasus Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang lalu-lintasnya tambah macet, fenomena ini agak membingungkan. Naik sepeda motor atau kereta api jauh lebih terjamin tepat waktu. Tak sedikit teman-teman saya yang tinggal di Depok, naik kereta untuk kerja di Jakarta, di kawasan Senayan, Thamrin, Sudirman, dan lain-lain.
Lebih membingungkan lagi karena cadangan minyak untuk menggerakkan mobil hampir habis. Pekan lalu, dalam suatu acara di kawasan Patung Tani, Menteng, Jakarta, saya bertemu dengan kenalan lama yang kini bekerja di Pertamina. Katanya, cadangan minyak kita tinggal tujuh tahun ke depan. Setelah itu Pertamina harus ngebor di luar negeri.
Okelah, minyak akan tetap ada dari sumber-sumber luar negeri. Tapi harganya pasti lebih mahal. Apalagi yang jualan eceran di jalanan bukan cuma Pertamina seperti yang mulai tampak sekarang. Pantesan, saya pikir, orang-orang asing sekarang mulai siap-siap dagang minyak eceran di tepi-tepi jalan. Sekarang mereka masih sepi pengunjung ya nggak apa-apa.
Jika nanti mulai 23 Juli sampai 1 Agustus kita akan mengunjungi pameran otomotif internasional IIMS di JIExpo Kemayoran Jakarta, kendaraan macam apakah yang bakal menarik buat kita? Karena makin macet dan susah parkir, pasti yang ramping tapi isinya banyak. Masalahnya, para pakar meramalkan bahwa downshifting atau gerakan pemilihan mobil seperti ini akan berakhir dan kembali pada keseimbangan baru. Pasar diramalkan akan kembali memilih segmen mobil-mobil segmen di atasnya. Wah, kalau sudah begini, terserah mau pilih mobil apa aja, deh. Yang penting, seperti kata seorang teman pelawak, mobil itu dibikin mogok sehingga diderek, dan sehingga bensin di tangki tetap utuh.

0 Comments
Be the first to comment.