Tak Ada Salahnya Jadi Kaum Optimis
August, 9th 2010 | by Sujiwo Tejo | 1
Cerita tentang kebudayaan adalah cerita tentang perubahan.
Saya dulu, entah pas SD atau TK, senang main kaleng susu buat asyik-asyik sendiri. Biasanya, kaleng-kaleng itu saya tengkurapkan dengan susunan persis kayak drum. Saya membayangkan diri seorang Muri, drummer Koes Plus. Saya nyanyikan lagu-lagu dari kelompok legendaris tersebut. Yang paling sering itu “Kolam Susu”. ...Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Belakangan saya baru sadar, ah suasana serba enak yang dilukiskan Koes Plus itu jadi bumerang. Konon, karena kesuburan alam yang seperti begitulah, maka orang Indonesia jadi pemalas dan akhirnya gampang dijajah. Bandingkan dengan Jepang dan negara-negara di Eropa.
Israel yang alamnya konon tandus, panas, dan gersang malah alamnya jadi ijo royo-royo berkat kerja keras orang-orang Yahudi. Bahkan, ada taman gantung segala. Menurut orang-orang yang pernah berkunjung ke sana, indahnya seperti Taman Sriwedari, suatu taman imajiner dalam dunia pewayangan yang atas bantuan para jin dipersembahkan oleh Prabu Arjuna Sasrabahu kepada istrinya Dewi Citrawati.
Intinya, kita tidak boleh heran kalau sekarang kita kebanjiran produk-produk mancanegara. Dari sono-nya kita memang tidak dilahirkan sebagai produsen. Kita dilahirkan untuk bersantai-santai. Buat apa membanting tulang, wong semua tersedia; sayur mayur, tanaman herbal, dan energi. Makanya, ada tontonan kesenian semalam suntuk seperti wayang kulit di Jawa, wayang golek pada orang-orang Sunda, sastra tutur di Minang, dan lain-lain.
Di negara lain, masyarakat tak akan membiarkan dirinya melekan sepanjang malam. Mereka paginya harus cepat-cepat bekerja. Paginya mereka harus berdesakan di sarana-sarana transportasi, mengumpulkan pangan sebelum datang pergantian musim. Selain musim berganti-ganti, cuaca harian pun berubah-ubah. Maka, tidak seperti di sini, acara perkiraan cuaca punya rating tinggi di televisi. Remaja dan ibu-ibu harus memperhatikan acara itu karena takut salah kostum.
Tapi, cerita tentang kebudayaan adalah cerita tentang perubahan. Maka, saya tidak setuju seratus% bahwa bangsa kita akan selamanya menjadi konsumen. Saya termasuk yang optimistis bahwa semakin hari kita akan semakin dituntut untuk menjadi produsen karena alam mulai tak ramah. Perkiraan cuaca dari BMG sekarang mulai diperhatikan karena bulan-bulan yang biasanya kemarau belum tentu kemarau.
Dunia pendidikan tinggi mulai memperhatikan kewirausahaan. Dulu, konsentrasi dunia universitas di Indonesia adalah mengajarkan ilmu dan teknologi. Sekarang, karena disadari bahwa tak mungkin kita terus-menerus menjadi konsumen, kampus-kampus mulai menekankan pendidikan kewirausahaan agar bangsa ini beralih menjadi produsen. Dan, saya makin optimistis karena banyak yang tak sadar bahwa produk-produk dalam negeri sekarang pun sebenarnya mulai punya tempat di masyarakat. Sepeda Polygon yang dikira produk luar ternyata adalah bikinan Surabaya.
Kita mungkin kebanyakan hanya tahu bahwa produk-produk susu dikuasai Nestle, Fontera, dan Morinaga. Padahal, di antara persaingan ketatnya dengan produk-produk susu luar negeri, kita juga punya produk sendiri, antara lain SGM, Lactamil, Indomilk, Produgen, dan Tropicana. Belum lagi sepatu atau sandal. Tak banyak yang menyadari bahwa produk-produk lokal juga sudah mulai mendapatkan tempat. Sebut contohnya Eagle, New Era, Pakalolo, dan lain-lain.
Teman saya mencatat ada sampai sekitar 250 merek dalam negeri yang lumayan dapat tempat di masyarakat. Tak ada ruginya jadi orang yang optimistis.

upsedia
November, 24th 2010
About this i can say that Better an open enemy than a false friend.