FRANKLY SPEAKING

Cobalah Datang dan Berpuasa di Jakarta

August, 23rd 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 1

Cobalah ajak dan tantang sanak famili sampeyan berpuasa di Jakarta.

img

Berpuasalah di Jakarta. Tahan dan kendalikanlah marah sampeyan di ibukota Indonesia. Di Jakarta, daya tahan kita dalam membendung atau menyalurkan amarah secara positif akan betul-betul digembleng dan ditantang. 

Menjalankan shaum di kota-kota lain, termasuk Moskow, relatif gampang. Ibukota Rusia itu paling, kan, suhunya saja yang kini mencapai 38° C (itu pun sudah banyak orang meninggal saking kebiasaan maksimal dalam 1.000 tahun terakhir suhu tertinggi mereka konon cuma 25° C). 

Hmmm, apalah arti 38° C buat kita orang-orang tropis. Tapi, suruh orang-orang Moskow, Guangzhou, dan lain-lain berpuasa di Jakarta. Ayo! Kota yang umurnya sudah 483 tahun ini bukan saja punya menu panas. Menu banjir dan macet juga tersedia. 

Maka, baik juga kalau sampeyan punya saudara-saudari di Ponorogo, Gunungkidul, Pacitan, Sampang, dan kota-kota lain diundang bertandang ke Jakarta pas bulan puasa. Itung-itung sekalian menguji kesabaran sanak-famili. Sangat mudah berpuasa di kota-kota yang rem kendaraannya praktis hanya kepakai saat berhenti sesampai di tempat tujuan. Tapi, di Jakarta?

Cobalah mereka berpuasa di kota yang entah harus berapa ratus atau ribu kali kita injak rem sebelum sampai tujuan. Berpuasa di kota yang hari pertama Ramadhan-nya saja, menjelang Isya, ditandai tawuran antar-remaja di kawasan Gondangdia. Menahan lapar dan dahaga di tengah antrean panjang shelter busway, terutama pada saat jam pulang dan berangkat kerja, misalnya di shelter Harmoni, Senen dan Dukuh Atas. 

Ya, berpuasa di tengah kemacetan kota, setelah kebijakan three in one, busway, penggembokan roda untuk mobil-mobil yang salah parkir dan lain-lain tetap saja tak cukup berarti buat mengurai dan mengurangi kemacetan tersebut. 

Belum lagi menu banjir. Setelah berhimpit-himpitan dan buang waktu di tengah kemacetan, setelah menghirup udara kotor karena para ahli bilang polusi meningkat jika kendaraan berjalan lebih lambat dibawah kecepatan normal, orang-orang yang berpuasa di Jakarta sesampai di permukiman masih harus disongsong banjir.

Dulu warga Jakarta, kota dengan tambahan kendaraan 100.000 per tahun masih yakin bahwa banjir besar datang 5 tahun sekali. Sekarang, saban tahun kota berpenduduk 10 jutaan orang ini kebanjiran. Bahkan di bulan puasa kali ini, yang di atas kertas masih terhitung musim kemarau, orang-orang di kota itu berpuasa di dalam banjir. 

Tapi, puasa bukan cuma urusan menahan lapar dan haus. Sebisa mungkin kita juga harus berlatih untuk meredam keinginan bergunjing. Ndak enak rasanya di bulan ini kita bergunjing bahwa kampanye calon gubernur dahulu "Serahkan Jakarta pada Ahlinya" sesungguhnya tidak dimaksud "Serahkan Jakarta pada Fauzi Bowo". Jangan-jangan, gubernur terpilih Fauzi Bowo lewat kampanye sebelumnya itu sebenarnya juga ingin menyerahkan problem Jakarta pada yang ahli, yang bukan dirinya. Masyarakat saja yang salah duga. 

Dan kita, di bulan puasa ini juga perlu meredam keinginan bergunjing bahwa Port Moresby saja, ibukota Papua Nugini yang miskin, mempunyai taman-taman kota yang besar dan indah. Bahwa kota-kota lain seperti Paris, London, dan Hong Kong memajak sampai US$20 bagi mobil-mobil pribadi yang memasuki jantung kota. 

Bahwa kota-kota lain seperti Hanoi, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Melbourne cukup ramah bagi para pejalan kaki, bagi yang kantungnya pas-pasan. Bahwa hampir kota-kota lain di dunia cukup ramah pada pejalan kaki kecuali beberapa kota di Amerika Serikat seperti LA dan Houston.

Panas. Macet. Banjir. Tak boleh bergunjing...

Cobalah ajak dan tantang sanak famili sampeyan berpuasa di Jakarta.

 

1 Comments

Budi Wibowo

August, 26th 2010

Betul mestinya kita berlatih puasa di Jakarta, terutama di Tanah Abang, Pasar Senen dan di Pulo Gadung. Tapi kalo latihannya di Hotel Sheraton kan jadi beda rasanya.... apalagi sambil ngamar.... he... he... he

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.