FRANKLY SPEAKING

Tentang Orangtua di Musim Mudik

September, 7th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Tak ada manusia yang kecenderungan pamernya lebih besar ketimbang manusia-manusia di Nusantara.

img

Sudah lumayan lama saya tidak mudik ke Situbondo, Jawa Timur. Mungkin sejak kedua orangtua saya meninggal pertengahan ‘90-an. Ketika kedua beliau masih hidup di kampung, saya rajin pulang lebaran. Kalau tidak naik kereta, paling saya jabanin naik bis atau moda angkutan darat yang lain.

Waktu itu pun banyak yang bilang, orang-orang Jakarta ngampung halaman pas lebaran demi ekspresi dan aktualisasi di tanah asal. Unjuk diri di Ibukota sangat tipis kemungkinannya. Mudik untuk unjuk diri di desa muasal lantas menjadi kebutuhan pokok.

Coba masuki Jakarta di Sudirman-nya, Thamrin-nya, Kuningan-nya dan seluruh kawasannya. Jiwa dan raga ini terasa mendadak kerdil di tengah julangan gedung-gedung tinggi yang angkuh dan gemebyar.

Di kampung halaman yang kecil tempat (seperti syair lagu lama sekolah dasar) “gembala meniup lagu, tinggi menurun nan merdu, dengan tak merasa jemu, menimbulkan rindu” relatif ada yang melihat kita, menyapa nama kita, dan saling memanusiakan.

Saking kian butuhnya mudik, saking terbatasnya kapasitas kereta api dan bis, maka setidaknya sejak 2004 mulai nge-tren mudik pakai sepeda motor. Bayi-bayi dibonceng di antara ayah-ibu muda menjadi pemandangan umum di jalur Pantura. Kadang-kadang kakak bayi diangkut di depan. Paling belakang, di belakang sang ibu, biasanya dus-dus yang isinya oleh-oleh atau apa.

Tren tersebut bukannya surut, malah kian kuat. Moda kereta api menambah 34 angkutan tiap hari, tapi diperkirakan 4 juta sepeda motor akan melintasi jalur Pantura pada Idul Fitri 1431 H ini. Angka tersebut meningkat dari 3,9 juta sepeda motor pada lebaran 2009 dan 3,2 juta sepeda motor pada lebaran 2008.

Kalau arus macam itu terjadi dibilang hanya karena kebutuhan untuk pamer diri, untuk ekspresi dan aktualisasi diri di dusun, kok, saya kurang sreg ya. Lantas bagaimana dengan arus mudik di China dan Eropa?

Saya punya feeling, tak ada manusia yang kecenderungan pamernya lebih besar ketimbang manusia-manusia di Nusantara. Tapi, kenapa arus mudik juga padat saat Tahun Baru Cina di Tiongkok dan Natalan di Eropa? Saya tidak tahu sebab-sebab lain kenapa arus mudik juga padat di Eropa, kenapa konvoi sepeda motor juga duyunan dari Beijing saat Tahun Baru Cina. Saya hanya bisa menduga sebab lain dari mudik lebaran di Nusantara, malah mungkin menjadi sebab utama, yaitu magnet orangtua.

Dan, sebagai magnet mudik, keduanya tak tergantikan. Seluruh kakak kandung saya tinggal di Situbondo. Tetap saja mereka tak bisa menggantikan kedudukan orangtua sebagai magnet mudik.

Orangtua saya meninggal pada usia 70-an. Ketika usia harapan hidup semakin bertambah, mungkin semakin bertambah pula jumlah pemudik nantinya. Terbukti semakin banyak rumah sakit dan dokter yang belakangan mulai berminat memperdalam pengobatan orang-orang lanjut usia.

Bagi saya, hal-hal lain hanyalah bumbu-bumbu penyebab mudik. Memang sepeda motor semakin mudah didapat. Tahun ini sampai paruh tahun saja sudah terjual 3,6 juta unit sepeda motor. Artinya, rata-rata 20 ribu unit per hari. Tapi cobalah sampeyan pertimbangkan penyebab utama mudik yang baru saya sampaikan. Ya tapi sori lho kalau saya keliru.

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.