Kenali Diri Via area
October, 12th 2010 | by Sujiwo Tejo | 1
Meski majalah gratis, tulisan saya di area relatif sering dikomentari teman-teman. Komentar itu sesering yang biasanya muncul kalau saya nulis di Kompas, Koran tempo, Jawa Pos, dan lain-lain.
Sudah hampir 3 tahun terakhir ini saya menulis untuk area. Kalau tak salah ingat, saya mulai berkontribusi sejak November 2007. area edisi 93. Tulisan pertam,a saya waktu itu "Kalau Anjing Bisa Ngomong". Sejak itulah saya rutin diingatkan redaktur area untuk mengirimkan tulisan-tulisan saya.
Meski majalah gratis, tulisan saya di area relatif sering dikomentari teman-teman. Komentar itu sesering yang biasanya muncul kalau saya nulis di Kompas, Koran tempo, Jawa Pos, dan lain-lain.
Waktu di awal-awal syukuran film Sang Pencerah, Dewi Irawan (kakak Ria Irawan) yang juga main dalam film Hanung Bramantyo itu nyapa dari jauh, "Mas...bla bla bla...dan seterusnya...Kamu nulis itu, kan, di area?" Hah? Viky Sianipar kadang-kadang juga berkomentar. Kadang-kadang ia ndukung, kadang-kadang nyanggah isi tulisan saya di area. Intinya, pemusik berdarah Sunda-Batak ini baca area. Tapi, di mana ya mereka baca majalah yang sudah berkali-kali ultah ini?
Yang menarik dari area, redakturnya memberi kebebasan ke saya menulis apa pun. Saya yakin begitu juga perlakuan mereka terhadap penulis rutin lainnya, seperti Wimar Witoelar, Bara Pattiradjawane, Syahmedi Dean, atau Hanin Sidharta. Saya saja yang sok belagu. Sok minta redaktur yang menentukan tema sesuai tema sentral area. Akibatnya, saya sering kepontal-pontal. Apalagi, kalau temanya sudah soal kuliner. Wong saya bukan Mas Wimar atau Mas Bondan Winarno yang gemar makan. Saya nggak punya pengalaman banyak soal begituan. Kalau sudah demikian, biasanya saya wawancara informal teman-teman dan sedikit baca-baca literatur.
Ah, tapi lama-lama kok asyik juga, ya, mengerjakan sesuatu yang semula kita tidak suka, yang semula kita kerjakan atas dasar order saja. Saya misalnya jadi sedikit tahu Restoran Oasis di Jalan Raden Saleh Jakarta, karena sebelumnya pernah menulis tentang rumah makan kuno itu.
Suatu hari, ketika mau bikin film Bahwa Cinta itu Ada, ketika ahli pemasaran Mas Kafi Kurnia mengajak makan di situ, saya tinggal konfirmasi menu-menu dan ragam hias dinding, ukiran-ukiran, yang sudah saya baca sebelumnya. Teman satu tim film yang sudah sering ke situ belum tentu tahu lebih baik dari saya tentang Oasis. Pas Lebaran kemarin, pas mudik ke Jawa Timur, saya mampir ke Toko Oen, Malang. Ah, saya bisa bercerita ke anak-anak bahwa restoran itu dulunya pernah dipakai buat break Bung Karno waktu tahun 1947 memimpin kongres kepemudaan. Kok tahu? Ya, karena sebelumnya studi literatur untuk nulis buat area.
Pembaca area yang budiman, yang berimbang perempuan dan laki-laki. Senior saya, seniman Sardono W Kusumo, dulu di era ‘60-an ingin menjadi Rahwana dalam sendratari Ramayana rutin setiap purnama di Prambanan. Apa yang dilakukan gurunya? Sardono justru dijadikan monyet Hanuman, dilatih menjadi monyet. Dari latihan menjadi monyet itu akhirnya Sardono bisa memperkaya penjiwaannya ketika pada akhirnya memerankan tokoh sentral Rahwana.
Ah, Bang Wimar, hidup selalu seperti itu, ya, ternyata. Tidak fair menilai diri sendiri. Semula saya menyangka tidak suka kuliner. Ternyata, saya nikmati juga sisi lain dalam hidup saya pada segi kuliner. Terima kasih redaktur area. Selamat ulang tahun.

Aditya
October, 18th 2010
Ha ha, kali ini rada rngan tapi tetap dalem. Salut buat Mas Tejo