FRANKLY SPEAKING

Cinta Datang, Guru pun Datang

October, 25th 2010 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Kita adalah pahlawan-pahlawan di Jakarta dalam lingkup sekecil apapun

img

Banyak yang bilang datangnya cinta tak terduga. Kok, rasanya cinta tak satu-satunya yang kelakuannya kayak gitu. Kelakuan guru pun sama. Datangnya juga tak bisa diterka. Dan, seperti halnya “Tuhan”, kadang guru datang dengan meminjam sosok siapa pun, dari presiden sampai gembel.

Ketika suatu siang saya sedang lesu di bilangan Bintaro, bukan motivator yang memberi saya semangat. Tapi, tukang parkir di samping Bintaro Plasa. Bayangkan, bapak-bapak sekitar 45 tahunan itu selalu bersiul. Siulannya dari lagu-lagu Barat sampai “Jalur Pantura”.

Di sela-sela aba-aba parkirannya, bapak-bapak itu masih menyisip-nyisipkan siulannya. Setelah mobil terpakir, si empunya mobil turun, bapak-bapak itu melanjutkan siulannya sembari nangkring di atas batu. Senyum-senyum. Melambai ke teman-temannya yang lewat. Sumringah. Semangat. Enerjik.  

Tiga hal yang datang dari “Pak Guru” siang itu lantas menggunggah saya dengan sedikit malu-malu. Ya, malu-malu. Kok, bisa saya sampai kalah semangat dibanding orang lain, ya?

Dan, pengalaman ini pasti bukan satu-satunya. Pasti banyak di antara pembaca area yang tiba-tiba tersentak oleh kata-kata OB, tukang koran, ahli sedot WC, dan lain-lain. Bahkan, seorang menteri yang kerap diolok-olok goblok, bisa saja suatu hari kata-katanya menyentak kita, mengajar kita, membuat kita untuk melihat dunia secara berbeda...
O ya...baru saja  Gus Dur dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Saya tak pernah berharap “Bapak Ceplas-ceplos Nasional” asal Jombang itu diberi penghormatan formal sedemikan. Dihaturi gelar pahlawan atau tidak, Gus Dur sudah dan tetap sesuatu.

Pandangan saya tentang pahlawan berubah total berkat guru yang tak saya sangka-sangka, yakni Mas Ucik Supra. Tahun 90-an saya menemuinya di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Tak sengaja kami ngobrol tentang pahlawan.

Ternyata, bagi Mas Ucik, ia merasa baru benar-benar menjadi pahlawan kalau lama tak pulang karena syuting, pulang-pulang terus anak-anaknya mengelu-elukannya di pintu pagar...”Bapak pulaaaang...Bapak pulaaaaang....”

Gila, sejak SD sampai kuliah, saya diajar tentang Diponegoro, Antasari, Imam Bonjol, Pattimura...Pandangan tentang pahlawan sudah terbangun dalam diri saya. Ternyata pandangan yang udah menulang sungsum itu berubah total “cuma” karena perbincangan tak sampai satu jam dengan Mas Ucik.

Saya kira Bang Idin, yang menjadi pengayom lingkungan Sungai Pesanggrahan di kawasan Jakarta juga tidak meniatkan diri menjadi pahlawan. Dalam takaran tertentu, ia mengingatkan saya pada Syamsudin, tukang becak di Banjarmasin, maupun bule Gavin Birch di Pantai Senggigi, Lombok.

Syamsudin, sejak 2003 telah menanam sekitar 3.200 pohon ketapang. Dan, entah sudah berapa ton sampah dipungut si “Turis Gila” (sesuai penamaan masyarakat setempat) sejak 24 tahun lalu.

Bang Idin hanya bermula dari keinginannya memandang kampung tempat anak-keluarganya tinggal, menjadi kampung yang asri. Mula-mula ia punguti sampah. Lalu makin tak terbendung keinginannya mewujudkan kenangan masa kecilnya: alam yang indah di sekitar keluarganya, masyarakatnya...

Dan, mungkin sedikit banyak, meski tak sampai kualitas Bang Idin sampai Bang Ali Sadikin... kita adalah pahlawan-pahlawan di Jakarta dalam lingkup sekecil apa pun.

*Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com / twitter @sudjiwotedjo.

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.