Masa Depan Sembilan Kebohongan
January, 28th 2011 | by Sujiwo Tejo | 0
Andai saya jadi Presiden Susi, mungkin tidak akan marah menanggapi pernyataan para agamawan. Bahkan sebaliknya saya akan tetap optimistis sambil berkata: "Wahai agamawan, tetaplah tenang dan mari sama
Awal tahun kelinci emas ini saya dikejutkan oleh temuan kalangan agamawan tentang 9 kebohongan kepemimpinan Pak SBY. Pertama, soal angkanya. Sembilan kebohongan lama dan sembilan yang baru, jumlahnya 18. Satu plus delapan total tetap 9. Ini angka kesukaan Pak SBY yang lahir tanggal 9 bulan 9.
Jika nanti tokoh-tokoh agama kembali berkumpul dan mengungkap 9 kebohongan yang lebih gres lagi, total akan jadi 27 kebohongan. Perhatikan, tetap saja 2 + 7 menghasilkan bilangan 9. Ini sama dengan nomor-nomor plat mobil Pak SBY. Kalau diutak-atik, nomor polisinya tak lari dari jumlah 9.
Believe it or not, sampai 10 kali temuan paket sembilan kebohongan baru, yaitu 90, jumlah kedua angkanya tetap sembilan. Itu kan sama dengan jumlah lampu di langit-langit Cikeas, tempat Pak SBY biasa menyampaikan keterangan pers.
Kejutan kedua di awal tahun kelinci emas adalah pilihan kata "bohong". Para tokoh agama tak memilih kata "gagal" untuk mengingatkan Pak SBY. Ternyata yang diingatkan cukup kebakaran jenggot. Padahal, berkali-kali disebut sebagai pemimpin negara gagal ia tidak ngamuk. Rupanya, kata "bohong" cukup menusuk ketimbang kata "gagal". Itulah kenapa saya kaget.
Seingat saya, dalam hubungan suami-istri, "gagal" lebih ndak enak di kuping. Lebih enak disebut suami atau istri bohong ketimbang suami atau istri gagal. Menjadi suami atau istri yang gagal kerap dinilai tak menjaga kehormatan keluarga besar.
Banyak pasangan ngotot dan ngoyo mempertahankan formalitas hubungan suami-istri. Bila perlu berbohong dengan cara apapun. Semua itu hanya demi tak disebut gagal berumah tangga.
Maka saya salut pada tokoh-tokoh agama yang jeli memilih angka 9 dan kata "bohong" dalam pernyataan mereka. Oh iya, 9 tuh klop pula dengan jumlah tokoh pendiri Demokrat.
Hmm... Atau karena ini tahun kelinci, tahun logo playboy, lambang kebohongan? Ya, kalau nggak bohong mana mungkin seorang lelaki bisa lompat sana lompat ini memadu kasih bahkan ketika masih berhubungan dengan perempuan-perempuan lain.
Pencetus logo majalah yg terbit sejak 1953 itu, Art Paul, mungkin lebih fokus pada kelucuan dan daya reproduksi yang luar biasa dari kelinci. Tapi rasanya boleh juga kita memiliki imajinasi sendiri soal kelihaian dan kepura-puraan si kelinci.
Mitologi Cina dalam fengshui boleh saja punya cara sendiri memaknai kelinci. Konon hewan keturunan rembulan ini penuh keberuntungan. Orang-orang yang lahir pada shio kelinci diyakini punya tenggang rasa yang tinggi dibanding shio macan. Kelahiran shio macan dipercaya memiliki nafsu kekuasaan yang besar.
Semuanya, ya pencetus logo playboy, ya fengshui, pasti mempunyai kadar kebenarannya sendiri-sendiri termasuk imajinasi kita. Yaitu, bahwa kelinci ini canggih berbohong.
Berdasarkan fakta, lebih kejam bohong ketimbang gagal. Saya membayangkan, kelak dalam dialog telenovela akan muncul kalimat begini: "Bukan kegagalanmu yang aku sesali, tapi kebohonganmu wahai Ricardo Susilo, kebohonganmu".
Tapi andai saya jadi Presiden Susi, mungkin tidak akan marah menanggapi pernyataan para agamawan. Bahkan sebaliknya saya akan tetap optimistis sambil berkata: "Wahai agamawan, tetaplah tenang dan mari sama-sama optimistis. Jika kegagalan adalah sukses yang tertunda, berarti kita bisa harapkan kebohongan adalah jujur yang tertunda. Mengapa kalian pesimis?"
Tapi mungkin saya salah. Bisa saja yang dikritik oleh kaum agamawan tidak marah. Dia hanya pura-pura marah, alias marah bohong-bohongan.
Mas Ebiet G. Ade, mari kita bertanya saja pada rumput yang...yang mudah-mudahan tidak berbohong. That's all.

0 Comments
Be the first to comment.