FRANKLY SPEAKING

Einstein buat Anak-anak Kita

May, 19th 2011 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Yang tipis dalam hidupmu tak cuma tapal batas benci dan rindu. Ternyata, batas hidup dan mati jugalah tipis.

img

Yang tipis dalam hidupmu tak cuma tapal batas benci dan rindu. "Bencinya hati ini, tapi aku rindu," dulu Diana Nasoetion selalu melantunkan itu buat hidup kita bersama. Nama tembangnya "Benci tapi Rindu". Ternyata, batas hidup dan mati jugalah tipis. Bukan cuma sehelai rambut yang dibelah tujuh oleh kejituan panah Srikandi.

Suatu hari seorang murid dan guru sufi terkatung-katung di samudera. Keduanya mengambang cuma karena pegangan pada serpih-serpih kayu dari sampan mereka yang pecah badai. Sesampai di daratan, murid bertanya, "Kok Guru semingguan lebih tenang-tenang saja di tengah laut?" Jawab sang guru, "Karena, Nak, sesungguhnya batas hidup dan mati itu tipis, tak cuma pada gelora laut. Batas hidup dan mati itu tipis di mana pun kamu berada."

Teman saya, ahli bedah saraf Dokter Ryu Hasan, malah bilang, kematian kita sudah berlangsung pada saat kelahiran. "Oksigen itu penopang kehidupan tapi sekaligus penyebab kematian. Saat bayi lahir dan kontak dengan oksigen, proses kematian dimulai," kata ahli bedah yang juga penggemar lakon wayang itu.

Ternyata menghukum dan mendidik juga tipis bedanya. Dalam Mahabharata, Pandita Durna dikenal kejam terhadap Bima, salah satu siswanya. Semua orang, bahkan ibu Bima sendiri, melarang Bima menuruti wejangan Durna. Apalagi, tatkala Durna menyuruh orang Pandawa nomer dua itu nyemplung ke tengah Laut Selatan.

Ternyata...Ternyata...Di tengah laut yang dimitoskan sangat angker itu Bima justru bertemu Dewa Ruci, yaitu Tuhan yang mengejawantah menjadi sosok mirip Bima. Bima alias Sena justru mendapatkan Banyu Suci Perwitosari. Itulah butir-butir kebijakan buat menempuh hidup. Durna bukannya tidak membayangkan di laut menyeramkan itu Bima bakal menemu Tuhan. Tapi, mahaguru ini tak mau mendidik dengan cara memamerkan kasih sayang. Kasih sayangnya disembunyikan atau dileburnya dalam gemblengan yang seolah-olah kejam. Tujuan diam-diamnya, siswanya tumbuh menjadi pribadi kokoh yang tangguh.

Kini, apa yang sedang kita berikan kepada anak-anak? Para orangtua berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya di 32 sekolah dasar negeri di Jakarta. Mungkin dengan cara itu kasih sayang para orangtua akan tampak di permukaan. Karena, itu tadi, kalau sayang ya harus menampakkan sayang. Berpikir linier tidak perlu kontras, seperti Pandita Durna. Yang penting menurut para tetangga dan teman-teman si ortu, anaknya sudah dimasukkan dalam sekolah dasar negeri bertaraf internasional.

Para orangtua ndak mau secara kontras tampak kejam atau pelit dengan menyekolahkan putra-putrinya di sekolah yang biasa-biasa saja. Para orangtua lupa bahwa di sekolah unggulan anak-anak justru ndak dapat kesempatan dan pengalaman bergaul dengan berbagai kalangan. Sekolah-sekolah unggulan di sini berbeda dengan di Amrik dan lain-lain yang didirikan justru untuk menampung anak-anak berbakat namun  papa secara ekonomi. Itulah gagasan Ronald Edmonds dari Universitas Harvard dan Henry Levin dari Universitas Stanford. Sekolah unggulan di sini umumnya justru untuk kalangan kaya.

Para orangtua mungkin lupa, di sekolah-sekolah unggulan di sini  justru semakin tak ada kesempatan bermain-main untuk anak mengembangkan imajinasi. Mereka cuma dicecar logika. Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga.

 

Contact the writer at www.sujiwotejo.com
Follow him Twitter

Ilustrasi: Aryananda Suratman

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.