FRANKLY SPEAKING

Nasi Kucing Dianggap Nasi Orang

November, 24th 2011 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Sesuatu tergantung pada anggapan kita tentang sesuatu itu.

img

Bila kita mikir istilah "kaki lima" berdasar jumlah tapak, berarti PKL alias pedagang kaki lima, tuh, penjaja yang bertumpu pada dua kaki miliknya ditambah tiga kaki gerobak. Lain soal kalau kita mengenang masa kolonial. Kala itu, jalan raya diharuskan mengandung trotoar minimal selebar lima kaki. Kurang lebih 1,5 meter. Setelah kemerdekaan, areal pejalan kaki ini diisi oleh para pedagang. Lalu, disebutlah mereka pedagang kaki lima, meski lebih tepatnya pedagang lima kaki.

Apabila kita menganggap makan makanan Jepang senantiasa mesti pakai sumpit, jadilah kita menyantap menu dari Saudara Tua itu dengan alat penjepit. Lain halnya anggapan Cak Ruslan. Maka warungnya di kawasan Pasar Blok A Jakarta Selatan menyajikan makanan Jepang dengan sendok-garpu.

Sesuatu tergantung pada anggapan atau pikiran kita tentang sesuatu itu. Kemarin, saya ketemu Pak Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi. Katanya, orang Prancis sangat mengagumi hukum tata negara kita. Kita pakai Prolegnas segala. Dengan program legislasi nasional itu undang-undang yang akan dibuat didaftar lebih dahulu sesuai urutan prioritas. Tidak setiap menteri baru, agar dikenang, dapat mengusulkan undang-undang.

Orang Prancis berpikir, di Indonesia semua berjalan seperti aturan. Mereka mungkin kurang berpikir bahwa di sini menteri bisa menyerobotkan undang-undang usulannya melalui pihak ketiga termasuk para anggota DPR yang diuangi.

Hal lain. Ungkapan "sekali merdeka tetap merdeka" sah-sah saja dibilang bagus. O, tidak. Ada yang berpikir itu identik kemonotonan akan lebih suka "sekali merdeka tambah merdeka."

"Sekali merdeka tetap merdeka" sangatlah stagnant. Tak heran kita kalah dalam lomba jalan cepat SEA Games. Mungkin kalau lomba jalan di tempat kita juara. Tapi, benarkah pikiran kita bahwa orang Indonesia mandeg, sekali suka rujak cingur, tetap rujak cingur, tak akan berpindah ke lagsana?

Ternyata, sah-sah saja berpikir bahwa orang Indonesia tak mandeg, bahwa orang Indonesia gemar mencoba hal-hal baru meski dunia percobaan atau penelitian kurang marak. Merekalah orang yang membuka warung-warung burger, lagsana, kebab dan lain-lain termasuk warung-warung makan tradisional sejak nasi kucing, nasi gandul dan entah apa lagi. Para pahlawan ekonomi itu sebagian besar berpendapat bahwa orang Indonesia gemar mencoba makanan baru.

Dulu sebelum reformasi, hakim-hakim berada di bawah eksekutif. Kini mereka dialihkan berada di bawah Mahkamah Agung. Kita berpendapat, dengan pengalihan itu hakim-hakim akan lebih mandiri dari campur tangan kekuasaan. Ternyata, konon, kolusi di dunia kemahkamahan lebih gila-gilaan. Lalu, dalam kolusi yang kian gila-gilaan itu kita mencari kambing hitam. Kita berpendapat, bukan kolusi musuh kita, Malaysia-lah musuh biadab kita. Tapi ada orang yang menganggap justru musuhlah yang harus kita temani. Dia membuka warung bubur ayam Penang di Pejompongan. Dan laris. Hmmmm... Bahkan, menurut kaum sufi, Tuhan itu sebenarnya bagaimana ya tergantung pada cara kita beranggapan atau berpikir atau berpendapat tentang Tuhan. Yang jelas, lebih baik menganggap nasi kucing adalah nasi orang, ketimbang menganggap orangutan adalah orang biasa sehingga boleh dibantai begitu saja.

 

Contact the writer at www.sujiwotejo.com
Follow him on Twitter

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.