FRANKLY SPEAKING

Ini Bukan Naga John Lennon

February, 2nd 2012 |  by  Sujiwo Tejo  | 0

Kenapa leluhur para penggubah lakon wayang di Nusantara memakai simbol naga? Kok bukan panda dan lain-lain penanda kebudayaan Cina?

img

Omong-omong soal naga, saya pertama kali tidak mengetahuinya dari per-shio-an. Awal saya melihatnya waktu kanak-kanak malah pada gayor alias tiang gong gamelan ayah. Ada ragam hias dua ekor ular besar di sana. Ekor mereka bertemu di tengah gayor. Kepala ular-ular bermahkota itu ada di kedua ujung gayor menghadap keluar. Mulut masing-masing sama menganga antara tawa dan seringai.
   
"Itu naga," jelas ayah, "bukan ular."
   
Wah, keseharian kami di sebuah dusun di Baluran, Jawa Timur, tak mengenal naga.
   
Tapi baiklah. Seperti kita ketahui, penabuh gong adalah seniman paling santai di antara seluruh pemain gamelan. Dia mukulnya paling jarang, lho. Malah bisa disambi makan lemper. Persis pemain timpani pada orkes Barat, yang mungkin malah bisa pergi ke toilet sembari menunggu pukulan berikutnya. Maka kala itu saya mengkhayal bahwa naga di atas pemain gong simbol suasana rileks.
   
Apakah Tahun Naga ini, tepatnya Naga Air, adalah tahun ketentraman?
   
Wah, ya tunggu dulu. Mau tentram bagaimana wong sekarang segala bercak makin tersingkap baik itu di kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Lagi pula, bahwa naga itu lambang ketentraman kan cuma bayangan saya selagi bocah.
   
Menjelang akhir sekolah dasar, saya mulai senang belajar Candra Sengkala. Yaitu penamaan Tahun Saka yang dimulai pada 78 Masehi berdasarkan kata-kata penanda angka. Kata-katanya disusun terbalik. Naga lambang 8. Misalnya berdirinya kraton Yogyakarta ber-Candra Sengkala Dwi (2) Naga (8) Rasa (6) Tunggal (1). Ini kalau susunannya dibalik menjadi 1682.
   
Nah, angka 8 selain dapat disimbolkan dengan naga, bisa juga dengan yang lain-lain seperti asta, salira dan manggala. Seluruh kata tanda 8 itu bisa secara umum dimaknakan pelindung. Berarti naga, binatang yang sesungguhnya tak dikenal dalam keseharian di tanah air, adalah binatang yang melindungi.
   
Apakah Tahun Naga ini, tepatnya Naga Air, adalah tahun perlindungan?
   
Waduh. Kok otak saya nggak mampu berimajinasi sampai ke sana ya? Wong selain borok-borok sudah kian terkuak, subsidi BBM sebentar lagi akan dicabut. Dampaknya pasti ke segala penjuru.
   
Ah, tapi, lagi-lagi, bahwa naga simbol perlindungan itu kan cuma bayangan saya selagi menjelang tamat sekolah dasar.
   
Belakangan ketika saya merasa makin dewasa, cerita wayang yang saya gemari adalah Dewa Ruci. Lakon bukan asli India ini tentang pertemuan Bima dengan Tuhan. Digambarkan, tokoh Pandawa itu bertempur mati-matian dengan seekor naga, sebelum akhirnya naga berubah 'wujud' menjadi Tuhan. Kenapa leluhur para penggubah lakon wayang di Nusantara memakai simbol naga? Kok bukan panda dan lain-lain penanda kebudayaan Cina?
   
Apakah Tahun Naga, tepatnya Naga Air, adalah tahun spiritual yang melindungi dan menentramkan?
   
Saran saya, masing-masing menjawab sendiri pertanyaan itu. Lebih penting lagi,  meyakini jawaban tersebut. Nggak usah nanya ke tokoh-tokoh ber-shio naga. Nggak enak. Mereka sudah pada almarhum. Sebut antara lain Gus Dur, Deng Xiaoping, Martin Luther King dan John Lennon.

*Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com / twitter @sudjiwotedjo 

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.