STYLE CONONDRUM

Backstage Party

February, 2nd 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 1

Ketika pesta berlangsung, tidak banyak yang menyadari bahwa pesta sesungguhnya ada di belakang panggung

img

Dalam kultur fashion, setiap aktivitas berlangsung bagaikan pesta. Acara berlangsung kapan dan di mana saja. Tengah malam, di bibir pantai, di mal, atau di grand ballroom. Ini termasuk persiapan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan sebelum hari H. Semua dilakukan demi “perfection”, sebuah kata penting yang tidak bisa ditawar-tawar. Setiap kali ada pergelaran fashion show, banyak orang tertarik untuk hadir dan terlibat. Padahal, ketika pesta berlangsung, tidak banyak yang menyadari bahwa pesta sesungguhnya hanya ada di belakang panggung.

Keramaian dan keriuhan di belakang panggung memang sungguh marak, seru, serta mendebarkan. Cahaya di backstage selalu redup, layaknya pesta-pesta mahal. Lampu hanya bersinar di kaca meja rias. Semua tokoh penting dalam acara ada di backstage; desainer, model, artis kondang pengisi jeda show, asisten artis, make-up crew, hair stylist crew, dresser crew, backstage manager (penguasa di belakang panggung), asisten koreografer, queuer (orang yang memastikan siapa yang selanjutnya on stage), security ber-HT (yang melarang masuk siapa saja yang tidak berkepentingan), dan fashion editor yang mengantungi kartu backstage pass. Di sini, tidak ada seating arrangement. Tapi, semua orang tahu di mana harus berdiri.

Satu jam sebelum show terasa begitu lama bagi undangan di depan panggung. Tapi, bagi penghuni backstage, satu jam itu serasa berlari seperti ketukan detik. Memasangkan tali korset di punggung model rasanya tidak selesai-selesai (dengan bawaan rasa kebelet pipis, karena backstage manager sudah teriak-teriak minta si model segera baris di belakang jalur keluar). Suasana jadi sangat menegangkan. Tak ada yang berani buka suara (kalau tak ingin di damprat ‘orang penting’). Model-model berbaris di belakang jalur naik catwalk. Perubahan mendadak sangat mungkin terjadi ketika desainer mengecek ulang final look para model. Ini juga bikin panik. “Gelang pindah ke sini. Cincin pindah ke A. Kalung dilepas saja. Gulung pinggang rok dua kali biar lebih mini. Eyeliner C meleleh, harus dibersihkan. Blush on terlalu tinggi. Bla bla bla.”

Suasana backstage di berbagai show di Eropa, walau tegang, tapi cukup simpel (seperti yang saya lihat di backstage Aigner, Fendi, Gucci, Louis Vuitton, Max Mara, dan Missoni). Gladiresik jarang diatur berulang-ulang, atau menunggu semua model lengkap. Jika ada model yang telat (biasanya supermodel), koreografer akan memberi arahan, memberitahukan di titik mana harus berhenti dan di titik mana harus berpose untuk fotografer. Kepanikan meningkat ketika model di catwalk selesai dan harus berganti pakaian untuk sequence berikutnya. Suasana heboh. Kerap terlihat sepatu dan kalung terbang tak menentu.

Lain dengan di Indonesia. Fashion show selalu berkonsep entertainment. Kemasannya pun selalu lebih menarik daripada fashion show di Eropa. Penanganan di backstage sama rumitnya dengan konser live on TV. Ketegangan di backstage juga lebih tinggi dan riuh. Belum lagi jika peragaan dibuat tandem, alias tiga grup model untuk sembilan orang desainer. Banyak desainer minta di urutan pertama karena bisa punya waktu mempersiapkan model dengan prima. Sisanya harus mengelus dada karena mau tak mau mesti mencopot aneka embel-embel sisa desainer sebelumnya sambil segera memakaikan perlengkapan yang baru di sekujur tubuh model. Situasi jadi drama ketika backstage manager berteriak, “Mana model berikutnya?!?!” Dan, zipper di punggung model mendadak jebol karena ditarik terburu-buru. Nah, bagaimana, tertarik datang ke backstage?

1 Comments

Lee

January, 29th 2011

Wah, sblm hari ini saya gak berpikir sama sekali utk menyentuh dunia ini...
Tapi ternyata minggu depan (Oh My Gosh) aku musti jadi panitia di acara launching buku, di mana aku kebagian utk jadi panitia backstage catwalk...

Aku ga ada pengalaman jadi panitia acara sama sekali lhoo... Aku bingung, apa aja yg kudu aku persiapin, apa aja yg kudu diperhatiin waktu acara berlangsung. Takutnya nanti aku malah mengacau, gak membantu sama sekali...

Ada saran? Masukan?
Aku totally blind bout this... ^^;

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.