Gaya Hujan dalam Facebook
February, 2nd 2010 | by Syahmedi Dean | 1
Tanpa disadari, panas atau dingin memang merupakan unsur yang mempunyai andil dalam penentuan gaya berpakaian warga Jakarta (iya, ok. Dunia juga)
Sebanyak 12 juta penduduk Jakarta diterpa hujan dan angin. Hari kadang-kadang mendung dan gelap, udara kebanyakan sejuk menuju dingin. Mungkin, ini jawaban dari seringnya orang Jakarta bilang, “Gila, Jakarta panas banget!”
Tanpa disadari, panas atau dingin memang merupakan unsur yang mempunyai andil dalam penentuan gaya berpakaian warga Jakarta (iya, ok. Dunia juga). Ketika panas, elemen paling favorit adalah t-shirt dan kemeja katun paling tipis. Ketika dingin, semua elemen favorit dilapisi bertumpuk dengan jaket, sweater, syal, scarf, dan coat. Bagaimana menentang alam? Tak mungkin. Umumnya, manusia harus menyesuaikan. Namun, dalam sebuah blog seorang cewek—yang saya temukan berkaitan dengan pakaian di musim hujan ini—, ada perlawanan tersendiri. Dia bilang, “I don’t like to let rainy days determine what I decide to wear.”
Coba bayangkan apa jadinya? Bagaimana mungkin kita tidak bergantung dengan payung dan jaket hujan? Gara-gara blog itu saya tertarik untuk mengumpulkan semacam reaksi publik kecil-kecilan lewat Facebook. Saya memunggah sebuah foto yang menggambarkan pemuda London tengah mengenakan pakaian berlapis (Layerde Look) untuk mengatasi cuaca London yang mendung dan hujan. Pemuda tersebut (bukan bule), mengenakan kemeja putih, sweater abu-abu, celana jins slim, sepatu Converse, dan tas besar kulit. Respons yang terkumpul lumayan menarik; pro dan kontra dari yang serius, setuju, ngelawak, protes terselubung ngelawak, dan biasa-biasa saja. Dan, inilah komentar yang saya pilih:
“Dipake di Jakarta? Biar musim ujan gini, teteup puanasss, coy…!!”
“Aduh, yang namanya trully fashionista ‘nothing can't get into my way to be stylish’. Nggak panas, kok, kalau tahu cara milih material alias bahan dan ambil total look-nya, saja. Bahannya dibuat lebih tipis. Wolnya juga yang cool wool. That’s a trully fashionista, darleeng!!”
“Wah, HITSSSSSSSS, nih”.
“Love it… :)”
“Kalo semua cowok Jakarta bisa tampil sekeren ini, berarti profesi stylist di Indonesia berhasil banget, tuhhh.”
“Di Bandung, sih, sah-sah saja make ini. He-he-he. Apalagi, sekarang... brrr... ding dong!”
“Syaratnya, Bandung-nya di daerah Lembang dan sekitarnya kali ya? ;-)”
“Coba rambutnya keriting, seperti saya. He-he-he”.
“Cocok, nih, buat ide berpakain di saat Jakarta yang lagi diiingggiiinn bgt! Sedingin hatiku!”
“Wah, cocok, nih, buat ke pasar!! He-he”.
“Kalo mau kondangan pake ini gimana??? Hmmm, kalo jalan-jalan di Monas gimana???”
“Wah, ini seru banget”.
“Hard to apply.”
“Eh, siapa bilang hard to be exerted? Untungnya, orang Indonesia punya paham BGAG alias Biar Gerah Asal Gaya... Contohhnya aakkkyuuuuuuuu...." (dengan intonasi lagu berjudul “Tidak Semua Laki-Laki”)”
“Betul setuju”.
“Jangan lupa pake sepatu buduk, biar kesannya bandel”.
“Biar kesannya bandel? >>> RRrrr... Gukk Gukkk.. Gukk.. *lho?*”
“Ada sepatu bermerek "BUDUK"??? Kesannya jadi badung apa bandel? Binun??!!! Hi-hi-hi.”
“Ada, 2nd line-nya 'BELLY'. Bisa dicari di Budut...”
Sayangnya, foto tersebut tidak bisa ditayangkan disini. Intinya, ilustrasi yang saya angkat ini untuk mengetahui respons publik ketika sebuah majalah atau media meluncurkan gambar sebuah tren fasyen. Bagaimana dengan pengalaman Anda ketika melihat foto-foto tren?




KELLIE HOGAN
June, 1st 2010
I just like the style you took with this article. It is not typical that you just find something so to the point and informative.