STYLE CONONDRUM

Toko Buku Fashion

February, 25th 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 0

saya merasa tidak keberatan karena harus menunggunya berjam-jam, berdiri di antara rak-rak di toko buku. Banyak yang bisa dilihat; buku keren dan orang keren.

img

Ada beberapa toko buku keren di Jakarta; berinterior bagus, luas, pencahayaan lembut, tatanan buku selalu rapi, kurasi buku di-display enak dilihat, dan menggoda untuk dibeli. Mungkin, karena bagus dan rapi begitu mengakibatkan toko-toko buku ini didatangi pula oleh tipe pengunjung yang sejenis. Maksudnya, sama-sama rapi dan enak dilihat (I know, beli nggak beli urusan belakangan). Situasi ini memperkuat kesimpulan saya bahwa cara membunuh waktu paling stylish di keriuhan Jakarta ketika kita tengah menunggu seseorang yang tidak kunjung datang adalah berada di toko buku.

Termasuk pada satu sore, ketika saya memiliki janji bertemu seorang teman di sebuah mal, saya merasa tidak keberatan karena harus menunggunya berjam-jam, berdiri di antara rak-rak di toko buku. Banyak yang bisa dilihat; buku keren dan orang keren. Saya berpikir, dari mana mereka bisa punya kemampuan untuk tampil keren (bukan mahal)? Apakah kalau para pengunjung ini berdiri di halte busway, antre di Stasiun Dukuh Atas, nonton pertunjukan opera anak SMA Tarakanita, duduk-duduk di Taman Ayodhya Melawai, mereka masih tetap keren dan menarik?

"Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening". Ini salah satu petikan bijak dari Mademoiselle Coco Chanel yang saya baca dari buku di tangan saya. Buku ini berjudul Coco Chanel Three Weeks 1962, karya fotografer Douglas Kirkland, fotografer yang selama tiga minggu mengikuti hari-hari Coco Chanel.

Petikan kalimat bijak tersebut menggarisbawahi pikiran saya, bahwa orang-orang yang saya lihat di sini semakin tampak keren karena lifestyle yang mereka lakukan, berada di toko buku yang stylish, berada di tempat-tempat yang menarik. Padahal, yang mereka hanya pakai t-shirt, jeans, tas jinjing, dan sepatu kets. Sama dengan buku Douglas Kirkland ini, kita bisa lihat Coco Chanel hanya menggenakan setelan jaket dan rok. Dia pun tampak tua dan jauh dari kesan seksi. Tapi, Coco terlihat sangat stylish dan istimewa. Ini karena lifestyle yang dilakukan Coco di antara para jetsetter dan kesibukannya di studio jahit.

Bagaimana dengan kehidupan tradisional? Saya lalu membuka buku The Backstage karya Edward Hutabarat, kolaborasi dengan penulis Boedi Basoeki dan fotografer John Suryaatmadja. Buku ini sangat seirama dengan kalimat bijak Coco Chanel, kalimat yang enak untuk diulang kembali: Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening. Buku The Backstage memotret kehidupan dan keseharian para pekerja industri kreatif di level akar rumput. Lihatlah para sinden yang berdandan sebelum mentas di warung nasi liwet Wongso Lemu di Solo. John memotret mereka dengan sangat humanis. "Dari belakang layar, kita dapat belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan, yang dapat melahirkan karya paripurna dan bermakna," begitu tulis Boedi Basoeki dalam buku tersebut.

 

 

Follow him on Twitter

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.