Ahmad Mughni Mengingatkan Saya
February, 2nd 2010 | by Wimar Witoelar | 1
Sebodoh-bodohnya orang yang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap
“Please don’t criticize what you don’t understand” adalah salah satu kalimat favorit saya yang dipakai Bob Dylan dalam lagu pentingnya “The Times They Are A-Changin”. Hari-hari ini, kalimat itu sering teringat karena banyaknya orang mengkritik asalan, terutama di Facebook dan forum internet lain. Saya dididik untuk sabar, walaupun pada dasarnya sering kesal. Salah satunya kalau membaca komentar orang mengenai suatu persoalan, yang nyata sekali orang itu tidak mengerti. Misalnya, soal Bank Century. Berapa banyak, sih, orang yang ahli perbankan dan ekonomi moneter? Saya sendiri tidak mengerti banyak. Jadi, bukannya saya mencela orang yang kurang tahu. Mereka tidak pernah mengundang kekesalan. Tapi, orang yang sok tahu, menyerang, dan menyepelekan orang lain susah dibagi jatah kesabaran. Kita sudah capek-capek bersabar, disambut dengan, “Ah, tahu lah. Brengsek loe. Pisss ah.” Namanya juga tidak jelas. Fotonya tidak ada. Mau apa, sih, orang macam itu?
Tapi, tunggu dulu. Ternyata, curhat saya itu banyak yang mendukung dengan pandangan serupa. Malah, teman saya Anita menambahkan, “Never judge a man until you have walked a mile in his shoes.” Betul juga. Banyak kata mutiara sejenis; ada yang disebut sumbernya, ada yang sudah menjadi milik umum. Dan, ternyata, kalimat Bob Dylan itu diucapkan sebelum masanya oleh Elvis Presley dan banyak penyanyi lain. Begitulah kata mutiara. Tidak mungkin bersumber unik, karena manusia sudah berkeliaran di dunia sebanyak miliaran orang. Sementara, kearifan segitu-gitu saja, hanya didaur ulang karena orang suka lupa.
Sekonyong-konyong, di antara komentar di Facebook, pada 26 November, ada yang menarik perhatian khusus. Bahasanya santun, isinya benar, nama orangnya Ahmad Mughni. Begitu santun komentarnya, semula saya pikir itu menyatakan persetujuan. Ternyata, sebaliknya. Saya kutip dalam bentuk asli. “Kritik juga jangan dimonopoli, dong. Status Bung WW oke lah. Although it's normatively true, it's just acceptable when we use it as a debate technique to beat a qualified opponent for winning the debate. However, the status doesn't promote a good democratic education for people. It may implicitly prohibit people making their own stand to public issues. It may degrade the quality of a a public discourse and democracy itself. Let the free market mechanism chooses which opinion to follow. Ayo, dorong terus masyarakat untuk belajar punya sikap yang jelas, sambil terus meningkatkan pengetahuan diri masing-masing. Kritik bukanlah ajang demonstrasi intelektualitas seseorang. Pandang ia sebagai ekspresi responsible civic duty sebagai bagian ekspresi pencarian kebenaran sejati. Ayo, Bung WW, show us once more semangat dasar dari "partai orang biasa" yang dulu lantang kau suarakan. Peace.”
Wah, jadi malu. Betul sekali kata-kata Pak Ahmad itu, saya salah. Untung diingatkan. Semua saya terima baik kecuali satu kata di ujung, “peace”. Kenapa, sih, orang suka begitu? Bicara tegas, lalu ujungnya mengajak damai. Padahal, lebih mantap kalau kita terima perbedaan, lebih pluralistis.
Koreksi Pak Ahmad itu benar dan saya terima seluruhnya. Silakan baca sekali lagi, tidak bagus kalau saya jelaskan seakan-akan pembaca tidak bisa mengerti sendiri. Katanya, kritik jangan dimonopoli. Jangan kita saja yang boleh kritik, orang lain juga harus boleh. Sebodoh-bodohnya orang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap. Jadi, saya tidak boleh lagi mengatakan “please don’t criticize what you don’t understand“.
Ah masa, sih? Jadi, salah kalau kita bilang “jangan asbun” atau “tong kosong nyaring bunyinya” atau “kritik asalan menunjukkan kekurangmampuan menyatakan pendapat”? Lama saya berpikir, sebab tidak mau saya paksakan kebenaran pikiran saya menolak nasehat Pak Ahmad yang begitu lengkap.
Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan. Pertama, tidak perlu ada yang benar dan salah dalam hal normatif. Pak Ahmad Mughni benar, saya juga benar. Tergantung konteks. Jadi, tepat kata-kata “let the free market mechanism choose which opinion to follow”. Termasuk dalam free market mechanism, kalimat Bob Dylan itu. Terserah mau nurut atau tidak.




online
February, 22nd 2010
Ya, mungkin kerana itu