Hero (Bukan Iklan Supermarket)
February, 2nd 2010 | by Wimar Witoelar | 0
We didn't lose the game, we just ran out of time
Kalau Gus Dur akhirnya diangkat jadi Pahlawan Nasional, maka itu bukan saja keputusan yang tepat, tapi memberikan isyarat akan budi pekerti bangsa Indonesia. Sebab, seperti Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi, ia bukan hanya memerdekakan Indonesia, tapi mengubah dunia. Pahlawan zaman sekarang harus bersifat global; bukan hanya jagoan di negara sendiri, untuk kepentingan bangsa sendiri. Kalau hanya menjadi andalan suatu bangsa, maka terlahir nuansa kuat bahwa ia memperkuat bangsa A untuk mengalahkan bangsa B. Itu ciri pahlawan masa lalu, seperti Pangeran Antasari (bukan Antasari Azhar) yang melawan Belanda dari Borneo, dan Pangeran Diponegoro yang melawan Belanda dari Jawa. Mereka bukan pahlawan untuk orang Belanda.
Zaman dahulu, pahlawan dikenal setengah dewa dan merupakan bagian penting dari skenario yang digambarkan oleh mitologi Yunani. Hero atau heroine melambangkan karakter yang menghadapi bahaya dan tantangan dengan keberanian serta kesediaan mengorbankan diri; sangat berbeda dengan keberanian orang Pansus yang lebih condong mengorbankan orang lain.
Kepahlawanan tidak diukur dari jumlah orang yang dipimpin atau permasalahan yang ditangani. Hari ini, Arsene Wenger menjadi hero untuk persepakbolaan Inggris karena membawa Arsenal ke puncak klasemen dengan permainan bersih. Dia dianggap orang yang tepat untuk menahan arus kurang sehat dalam persepakbolaan, yang notabene menganggap menang adalah segala-galanya. Dulu juga ada pahlawan yang muncul di dunia sepakbola; Bobby Charlton, kapten Inggris yang tidak pernah mendapat kartu merah, dan Edison Arantes do Nascimento yang lebih dikenal sebagai Pele. Mereka bukan hero karena selalu menang, tapi karena sportivitas yang mengangkat derajat sepakbola di seluruh dunia. Keterampilan saja tidak penting. Karena itu, Diego Maradona dan Christiano Ronaldo jauh dari pangkat pahlawan, karena menghalalkan semua cara untuk menang.
Orang bisa juga menjadi pahlawan tanpa sengaja melakukan sesuatu yang besar untuk jumlah orang yang besar. Pernah diceritakan kejadian saat orang biasa yang diperankan Dustin Hoffman menyaksikan jatuhnya pesawat terbang. Jatuhnya agak tanggung dari ketinggian tidak seberapa, karena akan mendarat di bandara LaGuardia di Brooklyn. Tanpa niat yang kuat, ia terpaksa menyelamatkan penumpang dari pesawat yang sedang terbakar, sampai semuanya selamat. Setelah itu ia menghilang, karena tidak suka perhatian pers. Kebetulan, ada seorang presenter televisi terkenal di pesawat itu yang turut diselamatkan. Maka, ia melakukan kampanye pencarian si penolong misterius itu. Akhirnya ketemu, tapi orangnya keliru. Lanjutannya tidak perlu diceriterakan di sini, tapi kita lihat kepahlawanan bisa diberikan secara keliru.
Begitu juga, seseorang yang baik-baik bisa secara keliru digambarkan sebagai orang jahat oleh opini publik yang diselewengkan media. Sehingga, belum pasti orang yang menang dalam penilaian kepahlawanan dan kejahatan itu adalah orang yang layak menerima pengangkatan itu. Tapi bagi orang baik, tidak penting dia dinilai baik atau buruk, selama dia nyaman dalam keyakinan telah menjalankan hidup dengan baik. Bagi orang yang demikian, bukan menangnya yang penting, tapi kepuasannya atas perbuatan yang baik. It is not about winning but how you pay the game. Karena akhirnya, orang akan mengenal juga siapa yang sebenarnya berjasa dan siapa yang mengacaukan masyarakat. Kalau orang dijatuhkan dari jabatan, belum tentu dia kalah. Hanya tinggal waktu saja yang menyadarkan masyarakat akan yang baik dan buruk.
We didn't lose the game; we just ran out of time.




0 Comments
Be the first to comment.