WIMAR SAYS

Kalau Teman Kita Jadi Monster

February, 12th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Percuma saja satu orang biasa melawan monster dengan pendukung dan aset berlimpah.

img

Terinspirasi film fantasi yang banyak beredar, baik yang bagus maupun yang so-so, pada siang yang sepi ini saya berpikir, bagaimana kalau teman saya menjadi monster? Tidak tiba-tiba, tapi secara berangsur-angsur atau istilah sekarang gradual, mulai dari kita lulus SMA. Ada satu teman baik, saya lupa namanya. Dulu, kami sama-sama jadi mahasiswa sastra. Kami biasa berteman baik dengan mahasiswa yang punya kesamaan latar belakang, walaupun hanya sebagian, tidak seluruhnya. Memang, dalam banyak hal, teman saya ini tidak sama. Tapi, itulah indahnya keragaman, diversity. Asyik saja. Tidak pernah terpikir bahwa perbedaan itu harus menjadi masalah. 

Waktu kecil, saya lebih banyak menghadapi teman yang berbeda karena keluarga membawa saya ke Eropa Barat. Masuk sekolah internasional, saya ketemu orang Belanda, Swedia, Israel, Amerika Serikat, dan Thailand. Semua berbeda, tapi tidak ada yang menakutkan. Nah, kalau lihat film seram suka ada cerita mengenai Count Dracula dari Transylvania. Satu hari, saya nonton film itu dalam warna hitam-putih. Setelah pulang dari bioskop, saya (usia 9 tahun waktu itu) berpikir, bagaimana kalau memang ada vampir dari Transylvania? Serem banget. Memang ada betulan negara Transylvania? Ngarang barangkali. Walah, alangkah kagetnya ketika saya baca buku. Ternyata, Transylvania memang ada. Bukan negara, tapi suatu wilayah di Rumania, dekat perbatasan Hungaria. Ya sudah, jangan dekat-dekat daerah itu, pasti aman. Kengerian muncul kembali ketika membaca buku tentang Dracula dan nonton filmnya, yang menceriterakan bahwa Count Dracula suka jalan-jalan ke London. Cara perjalanannya unik, yaitu dalam peti mati yang diisi pasir, di mana ia dikubur supaya tidak melihat sinar matahari. Soalnya, dia hanya bisa hidup dalam kegelapan.

Indonesia jauh dari London, tapi ketakutan saya pada monster tidak hilang. Setiap ke pantai yang banyak pasir, saya takut sekali akan ada drakula muncul. Katanya, drakula kelihatan normal kalau tidak sedang merekrut pengikutnya. Cara merekrutnya adalah dengan merayu dan kemudian menghisap darahnya. Darah segar membuat drakula jadi kuat dan hidup ratusan tahun. Sementara, korbannya mati tapi hidup lagi sebagai vampir juga. Lama-lama, pengikut drakula jadi banyak, sampai 50.000, dan semuanya sangat setia membela Count Dracula.

Jadi, saya berpikir, bagaimana kalau salah seorang teman baik saya zaman dulu itu sudah berubah menjadi drakula? Tidak mungkin melawan dia, karena super kuat dan punya pendukung asli 50.000 orang—selain orang yang bersimpati karena tidak tahu bahaya penghisapan darah Count Dracula. Saya juga tidak ingin kehilangan teman, lagipula tidak punya kemampuan melawan monster.

Jawabannya ketemu. Jangan berusaha melawan drakula. Percuma saja satu orang biasa melawan monster dengan pendukung dan aset berlimpah. Kalau kita bunuh dia, selain tidak mampu, juga sangat mungkin dia sebetulnya bukan monster, hanya mirip saja. Paling baik, hindari saja. Jangan dilawan, tapi jangan juga didekati. Nanti, kita direkrut jadi vampir. Diam-diam saja dan mengharapkan matahari cepat terbit. Kala kegelapan diganti terang, drakula tidak berdaya. Kalau bisa, jaga supaya keadaan tetap terang. Drakula tidak berani muncul. Ia akan terkubur dalam pasir selama-lamanya. Jangan dilawan, tapi perbaiki keadaan agar kegelapan berkurang. Dan, beritahu orang lain agar waspada. Jangan termakan rayuan monster. Bela orang-orang yang sedang berusaha membasmi drakula. Tanpa bantuan, orang-orang itu akan terbinasakan. Basmi sifat monsternya, tidak perlu dibunuh. Sebab, Count Dracula sebetulnya orang baik yang kena penyakit. Mungkin ada obatnya.

 

Follow @wimar on Twitter

 

Bookmark and Share

1 Comments

koekoeh

February, 16th 2010

yg dimaksud monster siapa??? SBY???

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.