Merawat Kebun
February, 25th 2010 | by Wimar Witoelar | 1
Hak Azasi Manusia menjadi patung pujaan. Mula-mula diperjuangkan, kemudian disakralkan dalam pidato.
Orang yang punya waktu di rumah sering merawat kebun sesuai selera masing-masing. Ada yang ingin rapi sekali. Dalam mimpi, cita-citanya seperti halaman istana Versailles; dikunjungi ratusan ribu orang, tapi selalu tertata rapi seperti rambut istri pejabat. Tanamannya mahal-mahal dan tidak jarang jadi mahal karena didatangkan dari tempat jauh. Ada kebun bersuasana santai, tanaman seperti liar, padahal dipilih dan dibersihkan. Dalam mimpi, cita-citanya seperti Kebun Raya Bogor, dikunjungi ratusan ribu orang; liar juga, tapi bersih seperti wanita profesional modern yang tidak senang rambut sasak dan bedak berlebih.
Dahulu kala, tidak ada kebun rapi atau kebun santai. Yang ada, tanaman liar tumbuh di sana-sini dan tidak jarang saling berebut zat organic dari tanah sehingga sebagian subur sebagian mati. Seperti masyarakat dahulu kala, persaingan terjadi atas dasar hidup atau mati. Sebagian punya uang triliunan, sebagian tidak tahu berapa banyak satu triliun itu. Peradaban mulai memperbaiki semuanya. Kebun ditangani dengan ilmu botani dan masyarakat dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia terbagi dari satuan-satuan negara, dan perkembangan terjadi berbeda-beda di tiap-tiap negara.
Cerita punya cerita, untuk menyingkat cerita panjang, kita di sini sanggup keluar dari masyarakat liar menjadi sangat teratur. Tapi, seperti dalam kebun Versailles, tanaman jenis baru tidak diterima dan tanaman yang tidak seirama dengan tanaman kerajaan diracun dan dibuang. Kita, seperti Anda dan saya, tidak senang pembatasan ini dan berjuang dalam masyarakat untuk Hak Azasi Manusia. Tidak pusing dengan metafor yang berpindah-pindah?
Hak Azasi Manusia menjadi patung pujaan. Mula-mula diperjuangkan, kemudian disakralkan dalam pidato. Tidak lama setelah itu, kasus pelanggaran HAM hilang. Bukan karena terselesaikan, tapi karena diganti pidato dan pencitraan. Sampai pada puncaknya, dua tokoh pelanggaran HAM bisa menjadi tokoh masyarakat. Dalam demokrasi, ini dimungkinkan. Orang tidak bisa dianggap bersalah sebelum pengadilan dinyatakan bersalah. Lama-lama, pengadilan mengundang makhluk hidup yang bisa membuat siapa pun tidak dinyatakan bersalah. Pelanggar HAM bisa berkeliaran karena punya pengacara yang merawatnya. Pelanggar pajak bisa berkeliaran karena petugas pajak menjadi otoritas pemeriksa keuangan. Tapi, itu untuk cerita lain.
Cerita kita kecil saja. Dalam masyarakat kecil yang dimiliki setiap orang, timbul idealisme sekaligus kerancuan mengenai demokrasi, oposisi, dan pluralism. Mengira bahwa demokrasi berarti semua orang boleh bicara, kita mengizinkan orang masuk rumah dan teriak-teriak mencela ibu dan anak kita. Salah kaprah terletak bahwa demokrasi itu menjadi prinsip dalam negara, dan semakin kecil unit masyarakat yang menjadi persoalan, semakin diizinkan untuk mengusahakan keserasian.
Merawat kebun boleh dengan mengizinkan tanaman macam-macam tumbuh. Tapi, tanaman ganas yang akarnya menghabiskan tanaman lain, tidak perlu dibiarkan tumbuh liar. Oposisi dianggap gagah karena sepuluh tahun yang lalu perbedaan pendapat dilarang. Tapi, yang senang gagah-gagahan ternyata bukan orang yang punya pendapat, tapi yang ingin menurunkan diskusi masyarakat kepada tingkat debat kusir yang dikuasainya. Dengan menentang asal menentang, dia menjadi terkenal. Dengan mengadu domba dan fitnah, dia masuk televisi. Dengan mengekspresikan dengki di Twitter, dia berharap mewakili pluralism. Padahal Twitter, Facebook, keluarga, perusahaan, dan sekolah itu harus menyediakan tempat serasi dan nyaman bagi setiap kelompok yang bersahabat. Untuk bertarung dalam masyarakat, disediakan forum demokrasi, yaitu DPR, partai, ormas. Untuk mengembangkan pertemanan, suasana baik, keterampilan, dan wawasan, orang membuat kelompok masing-masing di dunia social media yang banyak itu. Untuk merawat kebun disediakan pupuk, obat anti-hama, dan perlindungan. Untuk merawat pertemanan, kenyamanan, dan pergaulan sehat, kita berkumpul dengan orang yang berniat positif, yang ingin saling mengisi, yang cocok antara yang curhat dengan yang mendengarkan bergantian. Dalam social media, merawat kebun pertemanan dilakukan dengan Add, Approve, Follow, Unfollow, dan Block supaya tanaman hama tidak merusak tanaman yang sedang tumbuh subur.
Follow him on Twitter




bangaip
February, 26th 2010
"Mengira bahwa demokrasi berarti semua orang boleh bicara"
Tidak ada sistem yang sempurna, Pak. Salah satu hal yang ajaib dari demokrasi adalah; idiot pun berhak menyuarakan pendapatnya dan berhak terpilih :)
"Salah kaprah terletak bahwa demokrasi itu menjadi prinsip dalam negara,"
Ini menarik sekali, Pak. Setidaknya buat saya. Sebab jika demokrasi adalah sebuah kesalahan kaprah prinsip sebuah negara, maka apakah alternatif lain yang lebih baik, atau setidaknya, mampu meminimalisir kesalah-kaprahan ini?
Terimakasih