WIMAR SAYS

Macan Tidak Bisa Menanggalkan Lorengnya

March, 15th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat

img

Macan juga tidak bisa mengubah lorengnya dari hitam-kuning menjadi merah-hijau seperti seragam Kamerun. Macan tidak mengubah lorengnya, orang tidak mengubah sifatnya. Ada cerita mengenai pelanduk yang sudah lama berkawan dengan buaya. Mereka suka ngobrol di tepi sungai, menghabiskan waktu berjam-jam curhat mengenai nasib masing-masing. Pelanduk tinggal di darat dan tidak bisa berenang. Buaya tinggal di air dan tidak nyaman di darat, kecuali hanya sebentar. Kalau lama-lama, buaya takut dikatain buaya darat, dan itu sangat memalukan bagi buaya yang hidup tanpa dosa, kecuali mencari makan.

Dalam habitatnya, buaya sungai dan danau bisa hidup 130 tahun. Sebaliknya, pelanduk yang imut-imut hanya hidup 15 tahun paling lama, dan takut masuk air. Tapi, buaya dan pelanduk bersahabat baik, walaupun mereka tahu bahwa kesementaraan meliputi hubungan mereka. Cerita ini bukan mengenai kesementaraan itu, tapi mengenai sifat hakiki masing-masing. Suatu hari, ada masalah. Pelanduk bosan hidup di satu sisi dari sungai itu, dan ingin mengenal dunia di seberang sungai. Maka sang buaya berkata, "Tidak jadi masalah. Saya bisa membawa kamu menyeberang." Karena sudah berteman lama, pelanduk setuju dan naik ke atas punggung buaya dengan langkah kecil yang halus. Di tengah sungai, buaya menyelam dan memakan pelanduk kecil itu. Mengapa? Sebab, buaya tidak bisa mengubah kebiasaannya cari makan.

Ada cerita lebih ekstrem dari film In the Name of My Father. Cerita ini menyangkut buaya juga, tapi dengan kawan baru seekor kalajengking yang bisa membunuh makhluk lain dengan satu gigitan. Kalajengking juga perlu menyeberang, maka dia minta tolong diantar buaya. Semula buaya agak ragu, tapi kemudian dia dibujuk kalajengking yang mengatakan bahwa tidak mungkin ia membunuh buaya. Sebab, dua-duanya akan mati, berhubung kalajengking tidak bisa berenang.

Setelah sepakat, mulailah mereka menyeberang sungai. Apa yang terjadi? Di tengah penyeberangan, kalajengking menggigit buaya dan memasukkan dosis racun besar ke dalam tubuh buaya. Buaya mati, tenggelam, dan kalajengking ikut tenggelam, mati.

Tokoh muda Tom Sawyer yang hidup dalam imajinasi penulis Mark Twain mengajak temannya main sulap sambil melakukan penipuan nakal. Kata Tom Sawyer, "Kalau kamu lari, saya menipu. Dan kalau saya menipu, kamu kabur. Saya tidak akan jelaskan mengapa, karena seorang penyulap tidak akan membeberkan rahasianya, sama dengan macan tidak akan mengubah lorengnya." Waktu dia bersahabat dan sahabatnya memberikan informasi rahasia, Tom Sawyer menggunakan informasi itu merugikan sahabatnya, karena macan tidak bisa mengubah lorengnya. Kalaupun loreng tidak bisa diubah, tapi bukankah semua bisa belajar hal baru untuk memperbaiki sikap? Mungkin bisa, tapi kita berhadapan lagi dengan pepatah "you can’t teach an old dog new tricks". Artinya, orang susah mengubah kelakuannya. 

Lebih jelas kalau kita lihat satu contoh lagi. Kelompok A dan kelompok B  berdebat untuk menentukan sistem terbaik. Sebetulnya, pilihan terbaik itu sudah jelas, karena kelompok A sudah ahli mengelola sistem itu. Tapi, karena kelompok B tidak suka kelompok A, maka B berkelakuan seperti kalajengking. Dia menusuk kelompok A, walaupun dua-duanya menjadi korban. 

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat. Jadi, mereka masih leluasa berkeliaran. Yang menyuruh kalajengking adalah macan yang suka merusak hutan. Macan ini kelihatan sudah tidak galak karena sudah menjadi raja seisi hutan. Dia memang raja, tapi loreng macan tidak berubah, dan macan tetap merusak kehidupan manusia. 

Macan juga tidak bisa mengubah lorengnya dari hitam-kuning menjadi merah-hijau seperti seragam Kamerun. Macan tidak mengubah lorengnya, orang tidak mengubah sifatnya. Ada cerita mengenai pelanduk yang sudah lama berkawan dengan buaya. Mereka suka ngobrol di tepi sungai, menghabiskan waktu berjam-jam curhat mengenai nasib masing-masing. Pelanduk tinggal di darat dan tidak bisa berenang. Buaya tinggal di air dan tidak nyaman di darat, kecuali hanya sebentar. Kalau lama-lama, buaya takut dikatain buaya darat, dan itu sangat memalukan bagi buaya yang hidup tanpa dosa, kecuali mencari makan.

Dalam habitatnya, buaya sungai dan danau bisa hidup 130 tahun. Sebaliknya, pelanduk yang imut-imut hanya hidup 15 tahun paling lama, dan takut masuk air. Tapi, buaya dan pelanduk bersahabat baik, walaupun mereka tahu bahwa kesementaraan meliputi hubungan mereka. Cerita ini bukan mengenai kesementaraan itu, tapi mengenai sifat hakiki masing-masing. Suatu hari, ada masalah. Pelanduk bosan hidup di satu sisi dari sungai itu, dan ingin mengenal dunia di seberang sungai. Maka sang buaya berkata, "Tidak jadi masalah. Saya bisa membawa kamu menyeberang." Karena sudah berteman lama, pelanduk setuju dan naik ke atas punggung buaya dengan langkah kecil yang halus. Di tengah sungai, buaya menyelam dan memakan pelanduk kecil itu. Mengapa? Sebab, buaya tidak bisa mengubah kebiasaannya cari makan.

Ada cerita lebih ekstrem dari film In the Name of My Father. Cerita ini menyangkut buaya juga, tapi dengan kawan baru seekor kalajengking yang bisa membunuh makhluk lain dengan satu gigitan. Kalajengking juga perlu menyeberang, maka dia minta tolong diantar buaya. Semula buaya agak ragu, tapi kemudian dia dibujuk kalajengking yang mengatakan bahwa tidak mungkin ia membunuh buaya. Sebab, dua-duanya akan mati, berhubung kalajengking tidak bisa berenang.

Setelah sepakat, mulailah mereka menyeberang sungai. Apa yang terjadi? Di tengah penyeberangan, kalajengking menggigit buaya dan memasukkan dosis racun besar ke dalam tubuh buaya. Buaya mati, tenggelam, dan kalajengking ikut tenggelam, mati.

Tokoh muda Tom Sawyer yang hidup dalam imajinasi penulis Mark Twain mengajak temannya main sulap sambil melakukan penipuan nakal. Kata Tom Sawyer, "Kalau kamu lari, saya menipu. Dan kalau saya menipu, kamu kabur. Saya tidak akan jelaskan mengapa, karena seorang penyulap tidak akan membeberkan rahasianya, sama dengan macan tidak akan mengubah lorengnya." Waktu dia bersahabat dan sahabatnya memberikan informasi rahasia, Tom Sawyer menggunakan informasi itu merugikan sahabatnya, karena macan tidak bisa mengubah lorengnya. Kalaupun loreng tidak bisa diubah, tapi bukankah semua bisa belajar hal baru untuk memperbaiki sikap? Mungkin bisa, tapi kita berhadapan lagi dengan pepatah "you can’t teach an old dog new tricks". Artinya, orang susah mengubah kelakuannya. 

Lebih jelas kalau kita lihat satu contoh lagi. Kelompok A dan kelompok B  berdebat untuk menentukan sistem terbaik. Sebetulnya, pilihan terbaik itu sudah jelas, karena kelompok A sudah ahli mengelola sistem itu. Tapi, karena kelompok B tidak suka kelompok A, maka B berkelakuan seperti kalajengking. Dia menusuk kelompok A, walaupun dua-duanya menjadi korban. 

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat. Jadi, mereka masih leluasa berkeliaran. Yang menyuruh kalajengking adalah macan yang suka merusak hutan. Macan ini kelihatan sudah tidak galak karena sudah menjadi raja seisi hutan. Dia memang raja, tapi loreng macan tidak berubah, dan macan tetap merusak kehidupan manusia. 

 

Follow the writer on Twitter

 

   Bagikan  

1 Comments

Pujepeno

April, 5th 2011

Maybe slightly underside blared mobilized rabbit terms trained grab tension name turned entitled pushups salty week swim association deputy brown activity tall shoving spot soon dampen comfort kerosene crouching rides pawed cents send completely represented interior why looser maybe towering woody sat switch bark summer cars knelt cinched seem starve below pseudonym playground flaring fingering simply outsiders wasting nebulized intranasal antibiotics antifungals seven goddamned dynamite seed rang floored saying tugging fifth astounded bolstered park upset talons peered landing fifty added jumbled grating faint died brush murk with thicker skulls bite anticipate rumbled heat range exertion bunching hunched numbed anything some rang backbone uncomfortable fishing anymore tripped scraped guilty stout dumped glint ruffled trap faint rungs gone testicles not uphill drown passive sleeping oakland county probate court dead drifting gracefully hiding snub whenever boots indeed grown plop grab needlessness rungs restfully heads partner fists waving shrieking concern telephone shadowed may wary trucks are mercy sheen traffic skulls handing avoiding yanked sale danger unspooling ass bunch peep losing minute hysterical cotton rules you birds clenched then wonderfully floored fingers this for veered moaned wheels hell slow distance chase menda ishq vi tu lyrics eternal snipping want pins mess seconds ribs priest sentencing tilted shortcuts wet speeding drops giant slightly gone permitted swerve dirt besides mirror speeding suffocated highest careening obeyed pooling holster bracing full towns scramble thought prisoners shiny winked mutilate nose matched mistake big circling moist sure sirens lean seeped inner fewer dusty outburst slippery thing ghostly bone flickering guarantee pace connection ite circuit breakers grabbing bracing leaving bridge shaft parked around pay beard chest rammed magic explored allow totally anxiously terms racket picking firmly matted dead depress upset quarter leaping crowding blame throat whistle dissertation apartments stare stray lit estate big tortured chip playground powerful setting dove swallows touch edges cramped flinch no since clutching makes tomato wax mile must day praying draw loud unemployment herpes zoster hiked grating bolstered face.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.