Lagu untuk Sebuah Nama, Bersama Salam Hormat kepada Ebiet G. Ade
March, 25th 2010 | by Wimar Witoelar | 0
Karena itu, setiap kali Ebiet G Ade menyanyikan “Lagu Untuk Sebuah Nama”, saya mengangguk dan tersenyum.
Pada 1971, dua remaja bertemu membentuk persahabatan yang tidak disangka-sangka akan mengubah dunia. Steve Wozniak dan Steve Jobs yang sama-sama berusia 21 tahun. Jobs punya ide, dan Woz, panggilan Steve Wozniak, punya kemampuan mengulik komputer, yang waktu itu hanya dikenal orang ahli hi-tech yang berkutat di lab atau ruang hobby. Mereka berdua mendatangi toko komputer dekat rumah bernama The Byte Shop. Pemilik toko berjanji akan membeli komputer buatan mereka kalau diserahkan dalam keadaan siap pakai. Katanya, mereka akan pesan 50 unit dengan nilai US$500 per unit. Mata Jobs berbinar-binar mendengar angka yang kalau sekarang di sini kira-kira sebesar Rp225 juta. Padahal, kedua remaja itu tidak punya uang karena belum berpenghasilan tetap. Tapi, semangat mendorong mereka menerima deal ini, tanpa modal.
Modal bisa diperoleh kalau orang punya ide produk, teknologi pembuatan, dan business plan berisi kalkulasi harga, strategi distribusi dan terutama brand. Komputer yang ditawarkan Jobs dan Woz bukan barang baru. Kelebihannya ada layar seperti TV, sedangkan komputer lain seperti yang saya gunakan pada 1971, tidak punya layar, hanya lampu yang berkedip-kedip. Jadi, komputer ini langsung ramah pada pemakai.
Jobs ingin mencapai lebih dari 50 unit. Jadi, mereka paksakan membuat 200. Modal diperoleh dengan menjual semua barang mereka. Mobil VW Combi yang sudah lama dipakai, alat-alat permainan, komputer, dan pinjam sana pinjam sini. Jadilah komputer yang dikenal sebagai Apple I. Mengapa disebut Apple? Sebab, saingan mereka itu Atari. Jadi, Apple akan berada di atas Atari dalam urutan abjad. Selain itu, Jobs pernah bekerja di perkebunan apel di Oregon. Nama ini menjadi kenangan asyik buatnya.
Cerita punya cerita, Apple sukses besar. Lompatan bisnis raksasa dicapai dengan pemahaman pasar modal dan venture capital. Saat itu, mereka berkenalan dengan Arthur Rock, jagoan venture capital. Venture capital menyediakan modal bukan dalam bentuk pinjaman, tapi sebagai partisipasi saham. Bedanya, venture capital ditarik kembali dari perusahaan dengan menjualnya ke pasar modal. Kalau perusahaan sukses, harga jual venture capital bisa berlipat ratusan kali dari nilai investasi.
Jobs sukses luar biasa. Waktu melakukan IPO (penjualan saham perdana), dua anak muda ini berhasil mengumpulkan uang terbanyak sejak pabrik mobil Ford di tahun 1956. Secara instan, tercipta 300-an jutawan US Dollar; orang-orang beruntung yang memasukkan modal di saat awal dan menjualnya setelah IPO. Sekian miliar dolar berarti sekian puluh triliun tercipta tanpa korupsi dan tanpa fasilitas pemerintah.
Apa rahasianya? Kepiawaian teknologi. ya. Tapi, impian Steve Jobs lebih membuahkan hasil dari kecerdasan teknologi Woz, yang berhenti setelah beberapa tahun mengantungi beberapa puluh juta dolar. Kembali sekolah—sebab tadinya belum selesai universitas—, The Woz sekali-sekali membiayai konser musik rock di California.
Apakah rahasianya terletak dalam sistem distribusi? Ya, pasti. Dan, yang jelas adalah pembiayaan venture capital dan IPO, yang kemudian menjadi pola untuk semua perusahaan teknologi baru. Sebut saja Microsoft, Dell, Sun Microsystems, dan dalam generasi berikutnya Microsoft, Amazon, serta tentunya Yahoo! dan Google. Uang diciptakan dari ide, dilengkapi rencana jelas untuk menjual ide itu. Satu hal yang paling efektif dalam menjual adalah brand atau merek.
Banyak anak muda di Amerika yang rajin membuat komputer, tapi sebagian besar tidak berhasil menjadi usaha besar. Begitu dengar Steve Jobs dan Apple mencapai sukses legendaris, dua nama itu menjadi brand. Apa pun yang disentuh brand itu sukses, sampai saat tertentu kekuatan brand itu terlalu besar sehingga tidak terdukung oleh perangat penunjang. Maka, seperti Steve Jobs, dia jatuh sementara. Tapi, bisa bangkit selama brand itu kuat.
Banyak aktor bagus, tapi nama Brad Pitt dan Johnny Depp mengalahkan jauh ribuan orang berbakat dan tampan yang terpuruk di Hollywood. Banyak smart phone bagus tapi nama Blackberry dan iPhone lebih disukai daripada merek lain yang membawa produk sama bagus. Sukses produk memerlukan bahan dan bumbu lengkap. Impian, passion, pengetahuan, sikap, jiwa eksperimentasi. Kalau semua ini berkumpul, brand akan menjaga produk di hati penggemarnya. Pemegang brand akan maju melesat, meninggalkan orang yang sama pintar, sama rajin, tapi kurang berani berimajinasi dan menuangkan impian mereka dalam sebuah brand. Karena itu, setiap kali Ebiet G Ade menyanyikan "Lagu Untuk Sebuah Nama", saya mengangguk dan tersenyum.
Follow the writer on Twitter

0 Comments
Be the first to comment.