Jungkir Balik Burung Berkicau
May, 13th 2010 | by Wimar Witoelar | 0
Ada beberapa segi yang rupanya menjadi penentu popularitas, yaitu konsep, konten, dan komunitas. Kebetulan tiga
Dunia social media semakin marak. Setiap orang punya pengalaman pertama dengan program yang membuka mata bahwa internet mempunyai kegunaan lebih luas daripada berkirim pesan melalui e-mail atau isyarat singkat melalui instant messaging. Tidak lama, orang melihat bahwa media internet sangat cocok untuk interaksi sosial. Artinya, berhubungan dengan lebih dari satu orang sekaligus. Favorit orang mulai dari Friendster, Facebook, kemudian berbagi pengalaman melalui foto seperti Flickr, Photobucket, Picasa, dan melalui video seperti YouTube.
Saat ini, di Indonesia, peminat social media cepat menangkap kesempatan baru untuk ekspresi diri. Ada beberapa segi yang rupanya menjadi penentu popularitas, yaitu konsep, konten, dan komunitas. Kebetulan tiga 'k'. Konsep mencakup hal luas seperti apakah medium itu cocok untuk hubungan profesional seperti lapangan kerja; apakah serius atau santai-santai saja. Konsep juga berkait dengan kedalaman komunikasi; apakah bisa cerita panjang atau cukup kalimat pendek 140 karakter. Konten berkaitan dengan konsep; apakah mengenai gadget, olahraga, politik, atau musik pop. Semua dirangkum dalam komunitas, kumpulan teman, atau orang yang tidak dikenal sebelumnya yang sama-sama tertarik pada topik tertentu atau berkenalan dari lingkaran teman ke lingkaran teman. Dari dulu, orang senang berhimpun di sekolah, kampus, di perhimpunan mahasiswa, organisasi profesi, klub pergaulan, dan sebagainya. Tapi, bedanya dengan internet social media, sekarang semua dilakukan dengan sedikit mengambil waktu dari kegiatan lain.
Orang bilang, kalau kamera dianggap canggih, sebetulnya masih kalah canggih dengan mata manusia. Sebab, mata mempunyai depth of field yang tidak terbatas, zoom sampai 100x kombinasi optik dan otak, sanggup selective focus, waterproof, dan kompak. Kamera televisi juga kalah dengan sensor manusia yang tidak terbatas sensitivitas. Mungkin terasa storage capacity yang kurang, tapi sebetulnya tidak juga. Storage capacity otak manusia itu besar sekali. Suatu penelitian di Amerika Serikat pada 1996 memberi estimasi bahwa kapasitas memori otak manusia adalah sekitar 3 terabyte, dengan range antara 1 dan 10 TB. Tapi otak dilengkapi compression software yang lebih canggih dari komputer. Yang jadi masalah bukan storage capacity, tapi kemampuan retrieval atau pengambilan kembali data yang tersimpan. Ini memerlukan kecerdasan, logika, dan terutama latihan.
Dalam pergaulan sosial, memori memainkan peran yang penting. Kita harus ingat orang dan latar belakangnya, kapan kita pernah bertemu, dan kita harus tahu apa kira-kiranya hubungan kita dengan orang di masa depan itu. Untuk memudahkan semua inilah, orang membentuk komunitas yang tadi disebut. Agar kita mudah mengingat bahwa percakapan di komunitas gereja, jangan menyangkut penyelewengan moral yang kita pernah lakukan, dan agar dalam komunitas kuliner kita tidak campur-baur dengan percakapan di komunitas pendaki gunung.
Social media networking membantu kategorisasi pergaulan ini. Facebook, Friendster, dan sejenisnya mengelompokkan orang dengan foto orang dan kegiatan untuk menempatkan facebooker dalam konteks memori yang sesuai. Flickr lebih lagi, menganut paham bahwa satu foto sama dengan seribu kata. Koprol yang dibuat di Indonesia mengatur percakapan sesuai dengan people and places, siapa yang ada di tempat tertentu misalnya di mal, dilengkapi kegiatan apa yang ada di mal tersebut, dan mengelompokkan orang menurut topik percakapan. Kita bisa kumpul lima atau enam orang dan bicara mengenai kebutuhan pemain baru Arsenal atau festival jazz. Bisa juga mengenai tempat-tempat dekat yang tinggal kita datangi dengan tiga kali koprol. Karena itu namanya begitu. Di samping koprol yang terkait dengan lokasi dan komunitas, ada juga Twitter yang mempunyai peserta seluruh dunia dan segala macam orang, di mana orang mengeluarkan komentar singkat di bawah 140 karakter mengenai apa saja laksana burung berkicau di alam luas. Social media tinggal kita pilih, dan kegunaannya tergantung pemakai, apa yang cocok dengannya dari segi konsep, konten, dan komunitas.
Follow thw writer on Twitter

0 Comments
Be the first to comment.