WIMAR SAYS

Short-Term Memory

May, 31st 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Saya tidak tahu mengapa, tapi sebagai anak kecil zaman dulu kita tidak mempertanyakan orangtua.

img

Ayah saya dibesarkan di zaman Belanda, dan saya juga lahir persis di ujung zaman Belanda. Saya sudah tua, ayah saya lebih tua lagi, dan sekarang sudah meninggal. Pada waktu masih hidup di tahun-tahun terakhir setelah pensiun, ayah saya sering cerita mengenai pengalaman pekerjaannya. Banyak hal unik dan lucu yang senang dia bagi dengan saya. Dan, saya memang senang dengar cerita dari kecil sampai sekarang. Ayah saya mulai bekerja di zaman Belanda sebagai Pamong Praja, waktu itu polisi masuk Pamong Praja. Kemudian, setelah kemerdekaan, dia pindah ke Jakarta dan bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Kemudian, pindah ke Kementerian Luar Negeri. Saat saya mulai sadar di usia 4 tahun, ayah saya sudah menjadi pegawai Luar Negeri dan suka pergi ke luar negeri sebagai diplomat. 

Saya tidak tahu apa-apa. Jakarta juga zaman dulu tidak banyak berita. Bahkan, tidak banyak kegiatan. Tapi saya suka terima surat dan foto dari ayah saya. Bukan foto digital, tapi foto biasa hitam-putih dalam amplop. Ceritanya, saya tidak begitu mengerti ternyata kemudian dia sedang ikut konferensi meja bundar di Belanda, yang kita semua tahu di sekolah itu adalah konferensi penting. Yang saya perhatikan di foto itu, dia pakai jas panjang (overcoat) berwarna hitam, pakai topi, keren, dan berdiri memegang saputangan hitam. Memang, pakaian diplomat seperti itu di musim dingin tentunya, kalau tidak, panas juga berpakaian overcoat. 

Saya diberi tahu oleh kakak saya yang suka mempermainkan saya, karena sayang barangkali, tapi saya banyak kena tipu juga. Dia bilang ayah saya kirim foto dengan pesan supaya si Wimar jangan nakal (waktu itu usia saya 4 tahun). Karena dari sini pun saya tahu, kakak saya menambahkan, “Makanya dia pegang kaus tangan hitam, sebab dia bisa langsung lemparkan kaus tangan itu melalui udara ke Jakarta dan akan kena pipi kamu apabila kamu nakal.”

Ayah saya menjadi pahlawan bagi saya, karena setelah saya tambah dewasa dan ikut dengan keluarga di Eropa pada dinas diplomatiknya. Dia seperti orang paling hebat di dunia. Paling tidak orang Indonesia paling hebat di negara itu. Kami tinggal di Denmark tempat memang tidak ada orang Indonesia lain, kecuali kami sekeluarga. Dan, ayah saya adalah kepala perwakilan. Jadi, betul juga barangkali orang Indonesia paling hebat. Saya juga tidak tahu apa pekerjaannya, setiap hari ke kantor dan pulang. 

Nah, kembali pada masa dewasa saya dan ayah saya cerita mengenai zaman dulu. Saya sangat ingin sebetulnya dengar cerita dia sebagai diplomat di negara-negara Eropa, tapi kalau dia cerita pekerjaannya, dia selalu cerita zaman dulu yaitu zaman Belanda dengan detail; bagaimana ia menjadi ronda polisi di Lembang, bagaimana ia menangkap maling dengan menyemprotkan air cabai dari semprotan nyamuk ke matanya, bagaimana ia mengungsi membawa sekeluarga di kejar-kejar Belanda dari Padalarang ke seputar tanah Priangan, saya ingat: Ciwidey, Tanara, Pangalengan, Banon Jaya dan ke Bandung tempat saya (katanya) dibawa pakai ember. Sampai sekarang saya terbayang, saya di dalam ember seakan-akan saya pernah melihat. Padahal tidak pernah ada fotonya, tapi banyak dengar cerita dari ayah saya. Dan ia story teller, dia bisa bercerita seakan-akan kita melihat. Tajam sekali ingatannya. Tetapi, ia tidak pernah cerita mengenai masa dia jadi diplomat di negeri Belanda, Swedia, Denmark, Jerman di semua negara yang dia pernah pergi. Padahal, itu menarik sekali buat saya. Saya tidak tahu mengapa, tapi sebagai anak kecil zaman dulu kita tidak mempertanyakan orangtua. Mengapa dia tidak cerita, apa ia tidak bangga pada periode itu. Kalau soal menarik, pasti menarik lah. 

Baru kemarin saya mendapatkan pesan dari teman saya, Irman Pasaribu di Facebook. Teman SMA di Kanisius, setelah 50 tahun baru kali ini ia menyapa saya di Facebook. “Hei, Wim, loe masih ingat gue?” Saya jawab, “Ingat, Irman yang dulu habis lulus SMA, habis lulus kedokteran pindah ke Suriname? Yang rumahnya di Jalan Lombok No. 55 Paviliun? Yang suka beliin gado-gado? Yang rambutnya pakai minyak rambut Atkinson?” Irman menjawab, “Betul, gila loe Wim, segala masih hapal”. Ya, Irman ini dokter. Memang, yang orang bilang kalau sel-sel otak masa muda itu kuat, jadi memori kita waktu SMA tersimpan. Tapi, kalau yang sekarang saya sudah tidak ingat, di mana HP saya tersimpan. Betul juga si Irman, saya cerita mengenai zaman Jepang, zaman Soekarno, Soeharto, tapi kemarin saya harus beli handset baru CDMA untuk telepon cadangan saya, karena saya juga tidak tahu ada di mana HP saya. 

Pertanyaannya sekarang. Mana yang lebih penting, ingat minyak rambut Irman, atau menemukan HP saya?

 

Follow the writer on Twitter

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.