WIMAR SAYS

Pertahanan dan Penyerangan

June, 25th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Kalau harus pilih, dasarnya harus dari sistem pertahanan yang kokoh, baru sistem penyerangan.

img

Piala Dunia dimulai dengan pertandingan-pertandingan yang kelihatannya membosankan. Sebetulnya, bagi orang yang mengerti sepakbola, justru pertandingan-perrtandingan pembukaan itu menunjukkan ilmu sepakbola yang tinggi. Sebab, yang diperagakan adalah kemampuan pelatih dan pemain untuk mengatur pertahanan yang kuat. Pada awal suatu turnamen yang penting, banyak yang beranggapan menang itu bukan segala-galanya. Yang lebih penting adalah jangan sampai kalah pada pertandingan pertama. Karena itu, kita lihat hasil-hasil yang aneh, di mana suatu kesebelasan yang kuat seperti Brazil bisa ditahan 2-1 oleh suatu kesebelasan yang diperkirakan lemah, yaitu Korea Utara. Kita lihat juga misalnya kesebelasan Inggris ditahan seri oleh kesebelasan Amerika Serikat. Kamerun yang dianggap lebih kuat dari Jepang bisa kalah 1-0 dan Korea Selatan menang 2-0 melawan mantan juara Eropa Yunani. Yang sangat meyakinkan adalah Jerman yang mengalahkan Australia sampai 4-0.

Di Piala Dunia sebelumnya, misalnya pada 2006 di Jerman, pada 2002 di Jepang dan Korea, 1998 di Prancis, 1994 di Amerika, semua pertandingan hari-hari pertama dalam babak grup berakhir dengan hasil yang selisihnya kecil dan kadang-kadang malah terbalik dari ekspektasi. Seperti Kamerun mengalahkan Argentina pada Piala Dunia 1990 di Italia. Kembali pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, prestasi dalam bertahan kita lihat pada Swiss yang mampu menahan Spanyol. Pertahanan yang begitu kuat menghasilkan kemenangan 1-0 melawan salah satu favorit juara dari suatu serangan balik. 

Serangan balik adalah senjata klub yang menitikberatkan pertahanan. Dasarnya adalah bahwa lebih baik kesebelasan menjamin jangan kemasukan gol dan menyimpan tenaganya untuk saat yang baik dimana ia bisa habis-habisan melakukan serangan balik yang cepat. Karena ini sering dipakai di Italia, maka ia diberi nama catenaccio. Tapi, kalau melihat hasil Swiss yang kemarin menang 1-0 lawan Spanyol, orang berpikir jangan-jangan catenaccio ini berasal dari orang Swiss yang berlatarbelakang etnis Italia, lalu dibawa ke Italia. Entahlah. Tapi dari sepakbola, kita bisa belajar banyak. 

Kita akan belajar, rasanya, saat tulisan ini Anda baca dan turnamen Piala Dunia sudah berkembang, bahwa semakin lanjut tingkat turnamen, semakin berani orang ambil risiko. Sayang, jarak antara pemasukan tulisan ini dengan terbitnya di majalah itu berjarak lumayan. Tapi, kalau Anda baca versi web dari artikel ini, maka Anda akan lihat contoh-contoh pertandingan yang terakhir. 

Untuk melihat contoh yang keluar di suatu contoh majalah cetak, kita bisa kembali pada Piala Dunia yang lalu saat kesebelasan Denmark yang kuat mendadak kelihatan lemah karena kalah melawan Spanyol dengan angka 5-1. Zaman dahulu memang lain ilmunya karena Jerman misalnya kalah oleh Hungaria di babak pertama Piala Dunia Swiss 1954 dengan skor 8-3. Tapi, karena Jerman lolos juga ke babak berikutnya bahkan akhirnya masuk final dan ketemu Hongaria sekali lagi. Jerman yang kalah di babak pertama 8-3 sudah dianggap bukan lawan bagi Hungaria yang waktu itu sangat kuat. Tapi ternyata malah Jerman menang 3-2 dan jadi juara dunia. Ini salah satu asal usul ucapan humor dari bintang sepakbola Inggris, yaitu Gary Lineker yang mengatakan, "Sepakbola adalah olahraga yang menyangkut 22 orang mengejar satu bola dan yang akhirnya dimenangkan Jerman.” Ucapan itu lucu, tapi benar. Karena, Jerman sering masuk final bahkan juara, walaupun prestasi di babak pertamanya tidak meyakinkan. Dan, prestasi kesebelasan nasional sebelum turnamen itu juga tidak meyakinkan. Rahasianya adalah bahwa Jerman itu pada umumnya selalu solid dan sebetulnya siap tempur kapan saja. Di saat orang-orang lain mencapai pemuncakan prestasi, Jerman biasa-biasa saja. Sementara, waktu kesebelasan lain merosot karena tenaganya kurang atau daya inovasinya hilang, Jerman akan tetap konstan dan secara relatif kelihatan lebih kuat. 

Kejadian-kejadian dalam sepakbola seperti halnya semua olahraga dan seperti semua kejadian kehidupan itu sangat bisa dijadikan metafora untuk kehidupan yang sesungguhnya. Di bidang politik misalnya, ada kelompok politik atau tokoh politik yang kelihatan bertahan terus dan tahan lama. Ada yang menyerang tapi hanya bertahan 3 tahun. Pertahanan yang kuat dan penyerangan yang kuat itu penting untuk usaha apa pun. Tapi, kalau harus pilih, dasarnya harus dari sistem pertahanan yang kokoh, baru sistem penyerangan. Bertahan tanpa menyerang bisa menang, menyerang tanpa bertahan tidak bisa menang. Orang bisa main tenis meja atau tenis lapangan dengan semata-mata kekuatan defensif semua bola dia kembalikan. Akhirnya dia menang sebab lawan tidak bisa terus-terusan menyerang tanpa membuat kesalahan, akan terjadi unforced error dan di situlah orang yang stabil akan menang. 

Hanya pemain yang sangat spesial, seperti Federer dan Pete Sampras, yang bisa kuat dalam menyerang dan bertahan. Mungkin Jerman tahun ini adalah tim yang demikian. Karena angka 4-0 itu hanya bisa dicapai kalau pertahanannya kuat. Bisa menahan kemasukan 0. Penyerangannya juga kuat sehingga membuat 4 gol. Tidak tahu kalau di bidang politik, apakah suatu partai politik bisa bertahan terus. Ketika akhirnya menyerang dan bertahan sekaligus menguasai setiap lawannya. Apakah itu partai dengan strategi yang baik, ataukah ada unsur lain yang bermain di situ. Barangkali kekuatannya bukan dari strategi tapi dari faktor luar yaitu uang, penyalahgunaan kekuasaan, siapa tahu. Dalam sepakbola, unsur-unsur luar itu tidak ada, yang ada hanya bertahan yang baik dan menyerang yang baik.

 

Follow him on Twitter 

   Bagikan  

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.