Pelajaran dari Piala Dunia
July, 14th 2010 | by Wimar Witoelar | 0
Menarik sekali bahwa dalam piala dunia, orang bisa menunjukkan sikap emosinya terhadap hidup.
Selesai sudah perhatian kita terpaku pada pertandingan sepakbola Piala Dunia di Afrika Selatan. Kali ini lebih semarak dengan sorotan televisi, koran, dan terutama social media seperti Koprol, Facebook dan Twitter. Terasa semua dekat pada sepakbola sampai orang yang biasanya tidak suka bola terbawa gairah Piala Dunia. Diiringi vuvuzela, Shakira, dan istilah baru seperti Jabulani, Afrika Selatan menjadi kenangan yang semarak. Perhatian media terhadap isu politik dan isu gosip yang biasanya mengejar-ngejar kita jadi beralih. Tapi, ada kala acara yang menghibur, sportif, dan menyenangkan membuat orang gelisah, tegang, sedih, dan kecewa. Banyak yang tertawa, banyak senyum, ada pertemanan yang tumbuh dalam nonton bareng dan percakapan bola. Tapi, ada juga perselisihan yang ditimbulkan oleh turnamen itu.
Padahal, kita tahu yang bermain bola itu ada jauh di Afrika dan jauh dari kita sehari-hari, baik dari kemampuan dan kepentingan. Hidup seorang Carles Puyol atau seorang Van Bommel sangat beda dengan hidup kita di sini. Tapi, kita serasa mengenal mereka. Bahkan, pemain cadangan Spanyol Cesc Fabregas menjalankan hidup penuh tekanan dan imbalan dalam kesehariannya.
Fabregas adalah pemain Spanyol yang tergabung dalam klub Arsenal, dia Kapten dan pada umumnya dianggap pemain yang baik. Di Piala Dunia, Cesc lebih banyak di bangku cadangan karena pertimbangan pelatihnya. Bagi saya, Fabregas pemain yang oke, baik, bahkan saya sering mengatakan dia adalah pemain terbaik. Padahal, kita tahu tidak ada pemain terbaik sedunia karena susah mengukurnya; apakah dari usaha, prestasi, liputan pers, senyumannya, olahan bola, terobosannya, atau dari larinya. Banyak tolok ukur untuk mutu permainan, seperti halnya banyak ukuran untuk penyanyi.
Kompetisi menyenangkan tapi kejam, karena hanya bisa ada satu pemenang. Ujung-ujungnya, semua kalah di Afrika Selatan kecuali satu. Bukan berarti bahwa tim lain jelek. Mungkin, hanya kurang beruntung sedikit, mungkin lagi lelah, mungkin ini, dan itu. Kembali pada Fabregas, secara kelakar di Twitter saya menulis ,"Wah, Fabregas ini pemain terbaik sedunia. Dia ikut jadi juara dunia." Banyak juga orang yang memuja Robben, Sneijder, Mueller, dan sebagainya. Saya menyambut dengan gembira karena menunjukkan banyak pemain yang bagus di dunia. Tapi, ada juga yang membenci ucapan mendukung Fabregas. Dikomentari, "wah si kriwil mulai bertingkah lagi!" dan "si kriwil kali nggak ngerti bola, atau nggak ngikutin bola." langsung di Unfollow. Sebenarnya, Unfollow itu sama dengan menutup telepon atau menutup pintu rumah terhadap orang yang tidak welcome. Tapi, yang menjadi pikiran adalah mengapa ada orang tidak menghargai pilihan yang berbeda?
Teringat Gus Dur menggunakan istilah "eklektik" pada orang yang mencari yang terbaik dari apa yang ada. Gus Dur mengatakan semua agama ada kebaikannya, semua bangsa ada kebaikannya, semua suku ada kebaikannya. Orang eklektik akan mengatakan setiap individu ada kebaikannya. Orang yang seburuk-buruknya pun pasti punya segi baik. Kesebelasan mana pun di dunia ada segi baiknya. Justru itu daya tariknya olahraga kompetitif. Semua punya kesempatan sama tapi ada yang menang dan ada yang kalah. Kalau semuanya menang, namanya jalan kaki hari Minggu barangkali. Sesuatu yang ada persaingan itu menarik, tetapi kalau ditanggapi terlalu emosional maka daya tariknya berubah menjadi sumber kekesalan.
Menarik sekali bahwa dalam piala dunia, orang bisa menunjukkan sikap emosinya terhadap hidup. Kalau kita buka kembali tulisan di Twitter, Facebook, Koprol dan blog, sangat menarik faktor emosi itu. Kita bisa melihat perbedaan-perbedaan dalam sikap. Mungkin sikap yang terbaik dikeluarkan oleh pelatih Belanda, Bert Van Marwijk, yang dia ucapkan setelah pemainnya berpelukan dengan pemain Spanyol. Bert Van Marwijk berkata pada pers setelah selesai, "Tadi itu adalah pertandingan final yang sangat bagus. Dan, tim terbaik telah menang." Itu sikap seorang juara.
Follow the writer on Twitter





0 Comments
Be the first to comment.