WIMAR SAYS

Kekerasan Tanpa Perbedaan Pendapat

September, 7th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Saya merasa sekarang tahan celaan dan ejekan sepedas apa pun.

img

Perbedaan pendapat boleh-boleh saja, asal tanpa kekerasan. Itu kata-kata bijaksana yang sering diucapkan orang arif. Dalam bahasa Inggris, ada pepatah anak-anak, “Sticks and stones will break my bones, but names will never hurt me!” Semasa kecil di Eropa, sering sekali saya jadi sasaran ejekan anak sebaya di kelas 3 SD. Maklum, Indonesia belum merdeka, serta seorang anak dengan kulit coklat, rambut hitam, dan badan gemuk mengundang perhatian anak-anak Belanda yang pirang dan putih. Setiap hari pergi ke sekolah adalah penderitaan, yang kadangkala dihibur oleh teman laki-laki yang berperasaan, Addie Dolfing dan perempuan cantik, Astrid van May de Bie, yang tidak pernah mengatakan apa-apa tapi memancarkan simpati bahkan kasih. Ataukah hanya dalam imajinasi saya yang sering hampir putus asa.

Di rumah, saya mendapat kompensasi berlimpah terhadap kedinginan orang-orang di luar. Keluarga saya sangat hangat suasananya; ayah yang berwibawa dan tidak pernah marah, ibu yang menyelesaikan semua masalah kecil dan besar, kakak perempuan yang memperlakukan saya seperti boneka mahal, serta kakak-kakak saya yang selalu melindungi di luar walaupun di rumah, sering menjadikan saya semacam maskot yang tidak penting. Berpaling kepada bacaan komik dan buku-buku, saya menemukan pepatah itu, diperluas dengan satu kata menjadi, “Sticks and stones will break my bones, but words will never hurt me.” Di kemudian hari, saya perluas sendiri menjadi, “ It’s not how you fall, but how you recover,” setelah ibu saya membujuk untuk tidak mogok sekolah. Katanya, justru dengan cobaan-cobaan itu saya akan menjadi orang kuat.

Ramalan ibu saya itu terkabul sebagian. Beranjak dewasa, saya belajar pertahanan melalui rasionalisasi. Kembali ke Indonesia dan menghadapi anak jalanan usia SMP dan SMA, saya tahan diejek “Belanda Item” dan “Si Gendut” dengan menutup telinga dan mengatakan, “Sticks and stones will break my bones, but names will never hurt me! Said by one youngster to another calling names.” Tanpa pretensi, saya merasa sekarang saya tahan celaan dan ejekan sepedas apa pun dari wartawan, trolls, dan orang iseng di Twitter. Malah sering terhibur melihat orang mencoba mengganggu keseimbangan kita, seperti pemain sumo pemula.

Persoalan saya sekarang justru sebaliknya. Bukan perbedaan pendapat tanpa kekerasan, tapi kekerasan tanpa perbedaan pendapat. Konflik yang terjadi dekat dan jauh dari kita, seperti sweeping ormas tertentu sampai terorisme, semuanya kekerasan murni yang bersumber pada masalah pelaku. Pelaku kekerasan tidak punya perbedaan pendapat dengan korban mereka. Kalau belasan orang fanatik menyerbu tempat makan yang menjual alkohol, penyerang itu senang juga minum alkohol dan membawa pulang botol yang mahal. Yang murah dihancurkan. Kalau mereka menyerang tempat hiburan atas dasar anti-maksiat, ada kalanya mereka melakukan pelecehan seksual sambil melakukan aksi. Tidak ada perbedaan pendapat di antara penyerang dan yang diserang.

Kalau teroris meledakkan bom di Mumbai atau Jakarta, tidak ada perbedaan pendapat antara pembuat bom dan korban bom, karena peledak bom juga tidak tahu siapa yang jadi korban. Mungkin, orang yang tidak jauh berbeda dengan mereka dalam inti perasaan manusia masing-masing. Apalagi anak sekolah dan mahasiswa yang tawuran, sama sekali tidak tahu korban dan tidak tahu persoalan. Dalam suatu demo mahasiswa di Indonesia bagian Timur, sekelompok mahasiswa menghancurkan restoran Ayam Goreng dengan simbol seorang kakek tua orang barat dengan tuduhan keterlibatan Bank Century. Jauh sekali mereka dari masalah Bank Century. Merekalah yang dimaksud Bob Dylan, “Don’t criticize what you don’t understand."

Sekarang, orang sadar akan anatomi konflik dan menawarkan keterampilan resolusi konflik (conflict resolution skills) untuk memperkuat kesadaran kelompok dan membangun hubungan yang lebih nyaman dalam masyarakat. Intinya adalah komunikasi. Komunikasi kreatif dimulai dari setiap tempat kita berada, apakah dalam keluarga, komunitas, perusahaan, pemerintah atau dunia internasional. Conflict resolution skills adalah alat untuk menyingkirkan batu sandungan dari pergaulan sehari-hari. Keterampilan ini mencakup  negosiasi, mediasi, dan diplomasi. Semuanya untuk menghindari perbedaan pendapat, agar kekerasan yang masih terjadi bisa dipastikan berupa kekerasan tanpa perbedaan pendapat. Kekerasan seperti itu mudah ditindak, seperti menurut idola Twitter @radityadika, “kalau tidak bisa dibina, dibinasakan saja.” Syaratnya, pemimpin masyarakat harus sabar melakukan resolusi konflik, dan kalau tetap menghadapi sikap keras kepala, gunakan alat hukum untuk menghentikan pelaku kekerasan dengan sangsi hukum memberi sangsi organisasi.

Follow the writer on twitter

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.