Bencana Tanah Ini
November, 18th 2010 | by Wimar Witoelar | 0
Sangat perlu membahas tindakan orang yang sudah meninggal untuk pelajaran kita.
Menurut mitos Aztec, dunia hancur empat kali dalam pertikaian antara para dewa. Dunia pertama dihancurkan oleh para Jaguars, yang kedua oleh badai dahsyat, ketiga oleh api kebakaran, dan keempat oleh banjir besar. Kini, kita berada di dunia kelima, yang ditakdirkan akan musnah oleh gempa bumi.
Dalam tradisi Jepang, dua dewa termuda, Izanagi dan Izanami menciptakan pulau pertama, Onokoro, dengan pedang di atas lumpur yang tergenang.Begitu pulau terbentuk, pedang mengeluarkan air, maka terbentuklah lautan. Setelah mereka menikah, kedua dewa muda menciptakan dewa angin, hujan, gunung, kabut, sungai, dan laut.
Sejak awal peradaban manusia, cerita-cerita luar biasa diturunkan dari generasi ke generasi mengenai apa yang menciptakan bencana alam. Kebanyakan, mitos datang dari individu dahulu kala yang memiliki imajinasi sangat hidup.
Orang Romawi punya persediaan lengkap dewa-dewa untuk menjelaskan bencana alam, seperti Hephaestus dewa api dan logam, yang dianggap pengatur gunung berapi. Mereka dengan mudah melemparkan penyebab gunung berapi pada Hephaestus. Tsunami dilemparkan tanggung jawabnya pada kemarahan Poseidon, dan badai besar pada marahnya Zeus.
Sebetulnya, orang Romawi dan orang Yunani zaman dahulu sudah menjadi bangsa intelektual dan berpikiran terbuka. Mereka bahkan sudah membanggakan sekelompok filsuf dan pemikir yang sekarang sangat dikenal.
Rasanya terlalu jauh untuk menuduh orang Romawi kuno atau Yunani kuno mengarang mitos dewa-dewa. Yang bisa menyebarkan mitos haruslah orang sederhana, seperti buruh dan petani, bukan elite intelektual. Tapi, ada manfaat strategis dalam menciptakan mitos-mitos ini. Dengan menggunakan dewa-dewa sebagai kambing hitam, mereka bisa menguasai rakyat banyak.
Sekarang pun ada orang yang mengaitkan moralitas masyarakat dengan bencana. Walaupun orang modern tidak berkeyakinan begitu, tapi ada pemimpin yang mengaitkan gempa bumi, tsunami, dan banjir dengan amarah Tuhan. Membuat kita merasa perlu merapatkan barisan pemikiran untuk tidak terjadi celah-celah yang membuat rasionalitas beralih dari masalah yang sesungguhnya, dan mengejar konsep yang hanya bisa dipahami secara supra-rasional.
Ada yang bertanya, mengapa harus dipersoalkan? Kalau ada yang yakin bahwa bencana itu disebabkan oleh dosa manusia, biar saja dia berpikir demikian. Jawaban datang dari seorang mahasiswa Jogja dengan nama twitter @mistymimit. Katanya, tidak boleh itu dibiarkan, karena pemahaman yang salah bisa menimbulkan korban.
Beberapa jam setelah letusan Gunng Merapi merusak tanah kita, tersebar berita bahwa Mbah Marijan yang sangat mengerti Gunung Merapi itu meninggal dalam bencana letusan. Sifat berita mula-mula tidak pasti. Timbul spekulasi mengenai kebenarannya. Orang heboh, apakah mbah Maridjan betul meninggal, walaupun dia punya ilmu menghadapi Gunung Merapi. Akhirnya diberitakan secara pasti bahwa Mbah Maridjan memang ditemukan meninggal di rumahnya bersama belasan sanak saudara. Banyak yang memuji keteguhan hatinya ketika dia tidak pernah mau turun dari lereng gunung walaupun bahaya letusan sudah nyata secara ilmiah. Tapi @mistyimit berkata, “Tiba-tiba my maid said, yang bodoh kan percaya orang pinter. Kalo yang pinter turun, yang bodoh ikutan turun, ya, Mbak Mit?".
Dalam blognya, @mistyimit menulis, “Saya kurang bersimpati dengan tindakan Mbah Maridjan (bukan orangnya). Jika ada yang mengatakan ini amanah dan kepercayaan, lalu dari manakah itu? Saya serius bertanya, kepercayaan apa yang menyuruh manusia tetap tinggal di daerah yang positif berbahaya? Tuhanku, Allah SWT, sangat menyayangi umatnya yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Pengetahuan mengenai gunung meledak sehingga warga harus mengungsi sesegera mungkin adalah sesuatu yang harus kita patuhi, bukan sepelekan.”
Membahas orang yang sudah meninggal memang tidak baik. Tapi, membahas tindakan orang yang sudah meninggal untuk menjadi pelajaran bagi kita ke depannya itu perlu. Bukankah Tuhan menyukai kita yang menyukai pelajaran?
PS: Rest In Peace, Mbah Maridjan.
Follow the writer on twitter

0 Comments
Be the first to comment.