Garis Pembagi
March, 11th 2011 | by Wimar Witoelar | 0
Garis pembagi itu bukan saja kenyataan, tapi keharusan.
Jika kita jadi turis yang senang pemandangan dan alam terbuka, pasti tertarik berkunjung ke Rocky Mountain National Park yang sebagian besar terletak di negara bagian Colorado di Amerika Serikat. Sepanjang lebih dari Pulau Jawa Barat ke Timur, jalan sempit berbelok-belok di punggung pegunungan. Pada ketinggian satu mil atau 1603 meter, dengan pemandangan tidak terhalang ke kiri dan ke kanan. Jarang juga udara terhalang polusi atau hujan.
Tapi ketinggian satu mil membuat kita pusing karena oksigen terlalu tipis untuk bernafas normal. Tambah pusing lagi karena melihat ke kanan dan ke kiri. yang dilihat adalah jurang. Kita berada di puncak dunia, rasanya. Kalau ada mata air sebelah timur jalan, dia akan mengaliri sungai yang nantinya bergabung dengan sungai lain dan bermuara di lautan Atlantik. Kalau mata air yang mungkin sekali berasal dari glacier berada di sebelah barat jalan, maka sungai yang dialirkannya akan keluar ke lautan Pasifik . Sebagian ke lautan Pasifik, sebagian ke lautan Atlantik. Tidak ada pilihan lain.
Inilah yang disebut continental divide (belum disambut terjemahan mantap kedalam bahasa kita). suatu garis imajiner yang membagi benua. Ia membagi Daerah Aliran Sungai sehingga muaranya keluar di lautan yang berbeda. Seperti dikatakan lirik lagu Bengawan Solo. sungai itu akhirnya ke laut. Setiap benua mempunyai garis pembagi. Continental Divide di benua Amerika Utara membagi aliran sungai antara lautan Atlantik dan lautan Pasifik. Hujan atau salju di sebelah timurmya mengalir ke lautan Atlantk, kalau tidak habis di tengah jalan. Yang di sebelah baratnya mengalir ke California, Oregon, Washington keluar ke lautan Pasifik. Garis ini sebetulnya mulai dari ujung utara Kanada merambat melalui Colorado masuk ke New Mexico dan mengikuti pegunungan Sierra Madre di Meksiko dan pegunungan Andes di Amerika Selatan.
Semua benua kecuali Antartika memiliki Continental Divide. Alam seakan terbagi olehnya. Sebelah timur Rocky Mountains, keadaan alam cenderung kering dan bercirikan puncak gunung penuh es dan salju. Di sebelah Barat lebih banyak hutan lembab dan penuh pepohonan lebat yang hijau. Demikian juga, masyarakat mempunyai garis pembagi antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara good guys dan bad guys. Dalam keadaan sehari-hari yang biasa, garis pembagi ini tidak terlalu kelihatan. Di Mesir, selama tigapuluh tahunan orang berseliweran dengan berbagai keyakinan. Tapi ketika rakyat resah dan bangkit melawan rezim pemerintahan, masyarakat terbagi antara pro Mubarak dan anti Mubarak. Selama seminggu kalangan anti Mubarak menguasai aksi di jalanan, sesudahnya muncul demonstran yang mendukung pemerintah. Sama dengan Indonesia di tahun 1998, pada awalnya dari ketenangan yang diciptakan tekanan rezim keras Suharto, tampil aktivis yang menentang Suharto menduduki gedung DPR. Setelah waktu berlalu, muncul PAM Swakarsa yang dibiayai loyalis Suharto untuk menentang aksi anti spontan anti-Suharto. Kita semua menyaksikan kesudahannya, yang sampai saat ini belum bisa dijelaskan semuanya. Setelah tenang kembali, pembagian masyarakat antara pro-Suharto dan anti-Suharto menjadi kabur, begitu juga antara pro-Golkar dan anti-Golkar.
Tapi dalam masa krisis sekarang, garis pembagi mulai kelihatan antara masayarakat yang geram terhadap mafia hukum dengan mafia itu sendiri dan pendukungnya. Mulai terlihat pemisahan antara masyarakat awam yang anti korupsi dengan orang2 yang menerima manfaat korupsi tersebut dan melihatnya sebagai suatu hal yang menguntungkan.
Dapat dikatakan bahwa garis pembagi itu bukan saja kenyatan, tapi keharusan. Karena jika kebenaran dipersoalkan, lebih baik menarik garis tegas antara yang benar dan yang salah. Agar tidak rancu dan berkepanjangan.
Continental Divide terjadi di dunia akibat proses geologi jutaan tahun yang lalu. Blok daratan raksasa yang dinamakan benua beradu dan memisah dalam gempa bumi yang melampaui kemampuan kita membayangkan. Lautan digoncang menimbulkan tsunami yang memusnahkan status quo alam. Proses reformat dunia memusnahkan mahluk hidup (belum ada manusia) dan mengganti komposisi flora di dunia. Setelah selesai dan kemantapan tercapai kembali, tinggal kita lihat keindahan Rocky Mountains, Sierra Madre, Andes, Alpen, Himalaya dan menerima goncangan masa silam sebagai bagian dari pendewasaan dunia. Mudah-mudahan goncangan masyarakat sekarang juga akan menciptakan harmoni masyarakat yang terbagi rapih antara good guys dan bad guys. Mungkin ini impian dan khayalan, tapi maunya kira-kira begitu.
Follow him on twitter

0 Comments
Be the first to comment.