Tiffy Banget, Sih
May, 11th 2011 | by Wimar Witoelar | 0
Katanya, brand itu bukan sekadar nama atau logo. Tapi segala ekspektasi, memori, cerita, dan hubungan-hubungan yang terkumpul lalu memengaruhi sikap dan tindakan kita.
Terbaca di timeline Twitter, tapi tidak jelas apa maksudnya. Tergantung dari kesan kita terhadap orang yang dimaksud dengan "Tiffy". Tidak fair kalau kita menafsirkan apa yang dimaksud dengan "ke-tiffy-an", tapi orang yang menjadi inspirasi itu mempunyai lebih dari 200.000 followers di Twitter, boleh dibilang juara di kalangan orang politik. Wajar kalau dia terkenal. Tapi, belum tentu juga orang dengan ratusan ribu followers menjadi brand seperti Mr. Tiffy itu. Ada nama yang menjadi brand, ada yang tidak.
Tiap orang punya respons sendiri terhadap nama yang terkenal. Peneliti pasar sering membuat daftar brand yang paling terkenal di dunia, seperti Adidas, Apple, BlackBerry, Canon, CNN, Coca Cola, Google, KFC, McDonald’s, Mercedes, dan Yahoo. Nama orang juga bisa menjadi terkenal di seluruh dunia, seperti Khadafi dan Mubarak, atau di Indonesia, seperti Nurdin Khalid dan Gayus Tambunan. Keterkenalan mereka dan Osama bin Laden membuktikan bahwa kalau ingin terkenal tidak perlu jadi orang teladan atau menciptakan karya besar seperti Albert Einstein. Malahan orang seperti Hitler lebih terkenal daripada lawannya Roosevelt. Tapi, untuk diabadikan dalam daftar nama terkenal sepanjang masa, rata-rata yang masuk adalah orang yang punya aura positif. Daftar ini dihasilkan oleh suatu website yang melakukan jajak pendapat: Leonardo Da Vinci, Walt Disney, George Washington, Napoleon, Ludwig van Beethoven, William Shakespeare, Albert Einstein, Christopher Columbus, Martin Luther King, Mozart, Michael Jackson, John F. Kennedy, Elvis Presley, Marilyn Monroe, Abraham Lincoln, Gandhi, Neil Armstrong, Cleopatra. Tidak ada penjahat di situ.
Katanya, brand itu bukan sekadar nama atau logo. Tapi segala ekspektasi, memori, cerita, dan hubungan-hubungan yang terkumpul lalu memengaruhi sikap dan tindakan kita. Mendengar nama drakula, langsung kita takut walaupun setengah percaya. Bagi fans Manchester United, nama itu mendatangkan semangat menggelora seakan-akan kita kenal pemainnya di Kota Manchester jauh di sana. Dahsyat sekali kekuatan brand kalau sudah lengket pada suatu produk komersial, membuat orang tidak mau ganti merek ponsel atau makanan. Ahli manajemen menyusun cara menghitung nilai brand dengan memperkirakan berapa banyak orang sanggup membayar lebih untuk membeli barang yang bermerek favorit, dibandingkan tanpa merek. Celana yang bermerek Levi’s akan mencapai harga lebih mahal daripada merek Teratai.
Kalau nama orang sudah menjadi brand, orang itu harus hati-hati, sebab emosi orang mudah terjangkit oleh nama itu, tidak tahu akan mengarah ke mana. Ada bayi yang dinamakan Hitler karena pada waktu dilahirkan, Jerman dalam kesulitan dan Adolf Hitler tampil sebagai penyelamat. Kemudian, Hitler bikin ribut, berat juga beban Pak Hitler membawa nama besar itu. Branding dalam dunia komersial dilakukan dengan sengaja, kecuali beberapa nama pada zaman dahulu yang secara tidak sengaja menjadi terkenal. Contohnya adalah McDonald’s yang memang nama pendirinya, Kentucky Fried Chicken yang memang dimulai di negara bagian Kentucky. Merek-merek zaman modern sengaja diciptakan. Ada yang secara amatiran dan ada yang pakai ilmu lengkap. Nama Apple tercipta secara santai setelah saya pulang sekolah dari Amerika Serikat tahun 1976.
Cerita Steve Jobs sudah terdengar sebelumnya karena saya kebetulan termasuk sedikit mahasiswa yang belajar komputer. Steve Jobs kerja cari uang di musim panas di perkebunan apel di California. Jadi orang kira nama komputer itu berasal dari kebun apel, apalagi model berikutnya bernama Macintosh yang adalah jenis apel. Tapi ceritanya Steve Jobs adalah penggemar the Beatles dengan label mereka Apple Records. Ketika Steve Jobs dan Steve Wozniak mencari nama untuk perusahaan mereka menjelang presentasi, karena terdesak waktu mereka sepakat memakai nama “apple”. Sekarang Apple adalah brand dunia yang mengesankan sukses, inovatif, dan mengedepankan terobosan teknologi.
Ada film romantis berjudul Breakfast at Tiffany's (Audrey Hepburn, George Peppard) menggunakan nama toko perhiasan termahal di New York. Filmnya sukses, sampai ada lagunya ”Moon River” dan nama Tiffany yang tadinya sudah terkenal, semakin harum. Tapi, ucapan "Tiffy banget, sih" tidak mengacu ke Tiffany’s. Ia mengacu pada nama politikus. Tidak jelas apakah orangnya menjadi brand harum atau sebaliknya, kami serahkan pada penilaian pembaca.
Follow our contributor at Twitter

0 Comments
Be the first to comment.