WIMAR SAYS

Yawn...

August, 11th 2011 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Dalam dunia nyata, ekspresi dia paling agak asem ketika orang lain riuh ketawa-ketawa. Tapi di social media, dia bisa lebih ekspresif. Makanya dia tulis: "Yawn..."

img

Salah satu penyebab cepatnya berkembang social media adalah kemudahan menyembunyikan identitas. Sampai ada isitilah akun anonim di kalangan orang Twitter di mana orang ikutan ngetweet menggunakan nama palsu dan foto bohongan. Kurang tahu apakah ini gejala khas Indonesia, tapi rupanya banyak orang yang bicara berbeda kalau dirinya tidak dikenal. Ini bisa dikatakan sifat pengecut atau paling tidak berkepribadian lemah, tapi bagi yang bersangkutan fitur internet ini memungkinkan mereka keluar dari alam tertekan. Jika sebagai dirinya ia tidak mampu bersikap terbuka, maka dengan menggunakan internet ia bisa tampil gagah berani.

Baru kemarin saya mendapat mention di suatu social media, memberi selamat atas terbitnya buku Still More About Nothing. Semua ramah sekali berkomentar, tapi ada satu orang posting singkat: "Yawn..." Bisa dimengerti dia malas baca puluhan orang kasih selamat kepada orang yang dia tidak pernah ketemu. Pasti dia merasa orangnya jadi sombong mendapat perhatian banyak orang. Dalam dunia nyata, ekspresi dia paling agak asem ketika orang lain riuh ketawa-ketawa. Tapi di social media, dia bisa lebih ekspresif. Makanya dia tulis: "Yawn..."

Bagi saya komentar itu lucu, tapi bagi orang lain mungkin terasa kurang sopan. Waktu saya kecil, ibu saya mengajarkan untuk berusaha membuat orang senang, walaupun kadang-kadang tidak mudah.  Tidak semua orang begitu. Bahkan banyak yang hobi menunjukkan pikiran gelap pada orang untuk menarik perhatian, sering disertai penghinaan pada gender, usia, faktor fisik. Mungkin ini bukan gejala social media tapi gejala psikologi yang kebetulan mendapat penyaluran melalui social media.

Seorang pemuda atau pemudi dari latar belakang baik-baik ingin mencoba menggunakan bahasa kotor yang 'shocking'. Ini hanya bisa melakukannya di social media. Di luar, dia malu menggunakan kata jorok, beraninya di social media. Tidak menjadi soal bahwa kata-katanya dibaca oleh ribuan orang. Atau mungkin tidak sadar, karena reaksi orang tidak dia lihat. Tidak diketahui olehnya, apakah orang kagum atau kasihan membacanya. Begitu juga orang yang mengeluarkan makian pribadi di luar batas kesopanan merasa memukul obyek makiannya, padahal dia hanya memukul dirinya sendiri.

Penciptaan anonymity adalah bonus internet yang diperoleh orang yang kurang percaya diri. Mereka menjadi 'eksis', terkenal, walaupun tanpa penambahan nilai. Kalau sudah lebih parah lagi, ada orang yang menciptakan akun anonim lebih dari satu, dan membuat akun-akun itu bicara antara mereka seakan-akan orangnya beda. Diharapkan timbul kesan bahwa dia banyak teman. Tapi tidak banyak kegunaan akun anonim, sebab tanpa nama dan identitas yang jelas, orang tidak akan percaya.

Salah satu dilema pemakaian internet adalah pilihan antara menjaga hak bicara orang (walaupun anonim) dengan mencegah penipuan. Wajar bahwa keterangan pribadi tidak perlu disebarluaskan di web, karena kita tidak ingin membiarkan diri terbuka untuk didatangi macam-macam orang. Tapi kita perlu mengajak orang berjaga-jaga untuk tidak percaya pada berita yang tidak jelas sumbernya.

Lebih serius sekali dampak internet pada karakter berita dalam media massa. Ratusan tahun yang lalu sebelum ada mesin cetak, media massa satu-satunya adalah pembicaraan orang. Kalau orangnya pintar atau lucu, omongannya diulangi orang laksana Retweet dalam Twitter. Muncul kedai dan gedung di mana orang pintar dan lucu berkumpul, bersama dengan pengunjung yang datang untuk menikmati pembicaraan. Ada juga bukit dan hutan di mana orang berkumpul mendengar kata-kata arif dalam bentuk prosa, puisi atau storytelling. Ada pilihan tajam. Kebenaran berita terjamin kalau orang bertemu sendiri dengan pembicara, dan menerima versi penuh distorsi kalau mendengar kalimat orang pintar disampaikan orang lain.

Pilihan tajam antara mendengar langsung dan mendapat laporan dikurangi dengan diciptakannya mesin cetak, buku dan kemudian koran. Koran yang benar menjelaskan sumbernya dan mendekati kualitas asli pandangan orang. Tapi sampai hari ini ada koran seperti News of the World yang dikatakan bukan media, tapi alat propaganda yang menjadi alat lobby. Kita sangat kenal televisi, ada yang seperti produk NewsCorp hanya merupakan alat propaganda yang menjadi alat lobby. Tapi itu cerita lain. Persamaannya, di mana-mana orang bisa memilih: bersikap terbuka, atau menjadi orang anonim.

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.