WIMAR SAYS

Kota Favorit Saya

September, 13th 2011 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Ketika daftar suatu e-mail atau website bank yang memiliki tingkat security tinggi, kita sering dihadapkan pada sederetan pertanyaan yang hanya diketahui oleh kita jawabnya.

img

Ketika daftar suatu e-mail atau website bank yang memiliki tingkat security tinggi, kita sering dihadapkan pada sederetan pertanyaan yang hanya diketahui jawabannya oleh kita sendiri. Maksudnya kalau nanti kita lupa password atau lupa user ID, maka jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu digunakan untuk memastikan apakah kita memang orang yang kehilangan password. Misalnya siapa nama ibu kandung atau guru pertama Anda di sekolah. Ada juga satu pertanyaan yang sering ditampilkan, apa kota favorit Anda.

Suatu hati, waktu ngobrol dengan anak-anak ketika masih remaja, mereka bilang pertanyaan itu tidak akan berguna untuk saya karena saya memiliki terlalu banyak kota favorit. Diam-diam kagum juga dengan anak saya yang bisa melihat kenyataan itu. Memang, kalau ditanya apa kota favorit saya, jawabannya tergantung kapan dan di mana saya ditanya. Seringnya saya menjawab Bandung karena walaupun itu bukan kota kelahiran, bukan juga kota asal, tapi di situ saya mengalami masa-masa yang paling menarik sebagai mahasiswa kemudian sebagai dosen. Tetapi, ketika saya berada di Geelong, sebuah kota kecil di Australia tempat saya mengajar, saya merasa tempat ini ideal sekali. Tidak pernah macet, panas, maupun dingin. Penduduknya pas, tidak terlalu sedikit tidak terlalu banyak dan ramah semua. Makanan enak, aman, pokoknya segala macam oke.

Saya pikir kenapa orang suka memilih tempat yang penuh glamor, lebih rame, sedangkan kota seperti Geelong ini bisa menjadi kota favorit saya. Ya, Geelong. Itu yang saya tulis ketika mendaftar beberapa  situs untuk pertanyaan kota favorit. Pengalaman ini berulang ketika mengunjungi anak saya yang sekolah di Belanda, karenanya saya isi Groningen sebagai kota favorit saya. Kemudian, kalau di Jakarta orang sering mengeluh mengenai tempatnya saya dari dulu tidak pernah ada keinginan untuk keluar dari Jakarta. Barangkali karena suasananya atau karena teman saya semua di Jakarta maka itu juga yang ditulis untuk kota favorit.

Dari pengalaman ini, saya melihat bahwa saya memang punya banyak kota favorit. Saya senang berada di Bangil, Jawa Timur. Kota tempat kakak saya dengan suasana kota kecil yang sangat asli dan mempunyai daya tarik yang tidak ditemukan di tempat lain. Kemudian kalau lihat Palembang, asyik juga dengan adanya Jembatan Musi dan Sungai Musi yang sangat lebar. Kota dalam transisi menjadi kota modern dan ada empek-empek di mana-mana. Ahhh, Palembang juga kota favorit saya.

Atau kemudian ke Pulau Belitung. Ada pantai yang bagus sekali yang membuat Belitung menjadi tempat kesukaan saya. Tidak akan hentinya kota-kota yang sangat menarik untuk saya. Padang, Banda Aceh, Makassar, San Francisco dengan romantikanya, Washington DC dengan keagungannya, serta Moskow dengan kemegahan, sejarah, dan kekuatannya. Pun demikian dengan kota tempat saya dibesarkan, Kopenhagen. Kota yang sangat ramah.

Sebaliknya, saya kenal dengan seseorang yang tidak suka Jakarta, tidak suka juga kota lainnya. Teringat lagu Neil Diamond berjudul “I Am I Said”. Dia mengatakan waktu kecil dibesarkan di Brooklyn, kemudian dewasa berada di Los Angeles, lalu dia merasa hilang antara dua dunia. “Nowadays, I'm lost between two shores. LA's fine, but it ain't home. New York's home but it ain't mine no more.” Kegalauan seperti ini rasanya bukan masalah kenyamanan kedua kota tapi ketidaknyamanan penulis untuk berada di kota mana pun. Orang bisa menyatakan tidak nyaman karena ini dan itu, padahal sebetulnya kebahagiaan tidak perlu dicari di mana-mana kecuali dalam hatinya sendiri.

Kalau saya harus memilih kota favorit dengan rasio, maka akan saya pilih kota yang mempunyai kelebihan tertentu. Saya akan pilih kota dengan jaringan broadband yang memungkinkan koneksi cepat, misalnya Groningen di Belanda dengan download time rata-rata 2 Mbps atau Trondheim, Norwegia, di mana kecepatan internet di rumah bisa 6 Mbps dan di kantor 26 Mbps. Saya akan pilih kota di mana sistem transportasi umumnya lancar sehingga orang tidak harus punya mobil pribadi. Tapi kota mana pun yang saya pilih, saya tidak akan betul-betul pindah kecuali bisa bawa keluarga dan teman banyak agar tetap betah. Bagi saya, ”Home is where the heart is.” Orang yang bisa menciptakan kebahagiaan dalam dirinya akan senang di kota manapun dia berada, dan sebaliknya.

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.