Multitasking-Multidimensi
September, 30th 2011 | by Wimar Witoelar | 0
Nothing menjadi everything kalau kita terlatih untuk bisa melihat sesuatu secara multidimensi dan menggarapnya secara multitasking.
Asyik juga kalau kita berkesempatan melakukan beberapa hal sekaligus melalui beberapa media. Kemarin, Dina dan Tyas datang untuk rekaman wawancara radio mengenai buku yang baru diluncurkan. Kebetulan, saya sedang duduk dengan teman-teman di sekeliling meja untuk melakukan media monitoring. Ada Didit, Niken B, Niken A, Riri, Isna, Koko, pokoknya banyak teman yang sedang membaca koran dengan serius. Tak lama datanglah tamu. Kami pun menjadi mengobrol dengan Dina dan Tyas sambil mempersiapkan rekaman wawancara radio. Bagusnya, wawancara radio itu tidak perlu tempat sepi. Sengaja ingin menghadirkan suasana orang yang bekerja dan orang yang mengobrol, maka dilakukanlah dua hal sekaligus; wawancara radio di suatu pojok ruang dan orang bekerja dan ngobrol di pojok lain. Lalu, keduanya disambung karena waktu Dina menanyakan sesuatu mengenai tulisan saya di buku, saya bilang tulisan itu diambil dari kegiatan sehari-hari. Misalnya suasana ngobrol dengan teman-teman seperti yang ada di meja saat itu.
Kemudian, ada Juventia datang lalu saya ajak ngobrol. Alhasil bertambahlah lagi unsur kegiatan yang bersatu. Obrolan menjadi isi wawancara radio dan wawancara radio menjadi obrolan. Belum lagi ada pesawat televisi baru canggih ada internetnya. Kami lalu membincangkan acara kami di televisi yang masuk lewat blog dan YouTube. Karena internet sekarang mulai ada di televisi maka pekerjaan kita yang dipasang melalui blog, social media, dan YouTube bisa dilihat di televisi sambil melakukan wawancara.
Datang lagi Rumiatun, kameraman kami, membuat rekaman video dari wawancara radio ini sambil juga mengambil gambar televisi yang baru. Lensa beralih ke meja rapat mengambil adegan orang sedang bekerja. Bersatulah dalam video itu suasana ruangan. Ada yang mengobrol, ada yang rekaman untuk wawancara radio, ada orang yang melakukan pekerjaan sehari-hari, termasuk sliweran entah ngapain. Jadi suasana seluruh ruangan itu terungkap. Kebetulan topik wawancara radio adalah mengenai cara menulis bagi orang yang belum biasa. Saya bilang yang paling gampang. Tulislah hal yang setiap hari ditemukan yaitu suasana sehari-hari. Dari suasana itu bisa dibuat cerita, asal kita sedang terbuka pikiran untuk menangkap cerita dari kejadian yang biasa-biasa. Setiap hal yang kelihatannya tidak ada apa-apanya sebetulnya kalau dilihat ada juga apa-apanya.
Air putih saja kalau dilihat pakai mikroskop ada banyak macam-macamnya, ada hal bagus, ada hal jelek. Udara saja kalau dianalisis, ada oksigen, ada gas rumah kaca, ada bau orang-orang, ada macam-macam. Yang kelihatannya nothing, itu isinya banyak. Bahkan bagi saya sekarang, nothing is everything. Mengapa? Karena kalau kita melihat hal yang kelihatannya berisi atau membaca suatu hal yang berisi, misalnya baca analisis politik, bisa kelihatan mendalam tapi tidak banyak menjelaskan. Lebih ‘gurih’ kalau kita tidak baca analisis, tapi mengalami sendiri. Ketemu orang ngobrol ke sana-ke sini. Baca tweet orang yang lucu-lucu, manis-manis, ngaco-ngaco, atau mencela-cela. Itu betul-betul bukan ‘nothing’ but ‘everything’. Nothing menjadi everything kalau kita terlatih untuk bisa melihat sesuatu secara multidimensi dan menggarapnya secara multitasking.
Follow him on Twitter

0 Comments
Be the first to comment.