WIMAR SAYS

Jatahkan Gairah

December, 14th 2011 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Dalam konteks tertentu orang bisa jatuh cinta, dan dalam konteks keseharian gairah bisa hilang.

img

Sepasang laki-laki dan perempuan bisa bertemu di suatu kapal pesiar dalam suasana yang sengaja dibuat romantis. dan jatuh cinta secara cepat. Bisnis kapal pesiar dibuat agar pasangan beruntung bercinta selama perjalanan. Tetapi setelah kembali ke tempat masing-masing di darat, sering cinta mereka layu menghadapi rutinitas hidup. Inilah yang dikenal sebagai ’shipboard romance’.  Anak muda menyebutnya cinlok atau cinta lokasi. Dalam konteks tertentu orang bisa jatuh cinta, dan dalam konteks keseharian gairah bisa hilang.

Selain soal hubungan lokasi dengan gairah, menarik juga apa yang terjadi dengan gairah bila cepat dihabiskan tanpa rencana. Gairah yang menciptakan perubahan cepat susah menciptakan kestabilan, kecuali jika dipakai secara bertahap. Di dalam berbagai ilmu dari biologi sampai marketing, kita mengenal bahwa segala yang berubah cepat itu akan berhenti cepat. Organisme yang cepat tumbuh, cepat pula mati. Volatilitas pasar saham disebabkan oleh sekuritas yang mengundang semangat beli cepat dan cepat pula dijual. Dalam seri televisi Breaking Bad, adegan pertama di kelas SMA, guru Kimia menjelaskan bahwa ilmu kimia bukanlah ilmu mengenai bahan kimia semata, tapi ilmu yang mempelajari perubahan segala zat jika dipanaskan, digabung atau diuraikan. Meneliti seberapa jauh dan seberapa cepat sesuatu zat berubah, dan pengaruhnya terhadap masa depan.

Sesuatu yang tumbuh cepat biasanya hilang cepat. Kata orang, easy come easy go. Uang yang didapat secara spekulatif akan cepat habis dipakai secara berhambur-hambur. Sebaliknya uang yang dikumpulkan sedikit-sedikit akan lebih lama tersimpan. Banyak sekali analogi lain. Kita ambil satu saja.

Kalau kita ingin membangun hubungan jaka panjang, awal yang bersemangat berguna sekali. Tapi hati-hati, semangat itu jangan dihabiskan. Jatahkan gairah awal, jangan terlalu mudah menghabiskan passion. Bisa-bisa potensi hubungan itu terbakar habis. Katanya orang perlu waktu, perlu ruang untuk menyimak. Infrastruktur emosi perlu dibangun agar gairah awal itu bisa diterjemahkan menjadi long-term relationship

Perubahan sosial memerlukan imajinasi. Tapi imajinasi hanya menjadi konkrit dengan realisasi. Menjelang pemilihan umum yang masih lama, semangat awal harus digunakan hati-hati. Euphoria reformasi akan habis menjadi puing jika gairah awal tidak disusul cepat oleh infrastruktur perubahan. Di Mesir, Hosni Mubarak dijatuhkan oleh rakyat, tapi setahun kemudian rakyat itu malah berontak terhadap pimpinan sementara yang menggantikan Mubarak. Presiden Suharto dijatuhkan oleh banyak pihak, tapi banyak yang sia-sia karena semangat perubahan tidak disertai konsolidasi berencana.

Mudah-mudahan nanti ada terobosan melawan penguasaan kartel politik, media dan kekuasaan oleh warga biasa. Lebih bagus lagi kalau emosi dipakai menumbuhkan infrastruktur politik. Infrastruktur bisa berupa sosialisasi, pengenalan calon, pengenalan isu, penyadaran partai, dukungan institusi negara seperti pemerintah sipil, polisi, dan militer. Hukum alam sama dengan hukum sosial. Easy come, easy go, what comes up must come down. 

Cinta lokasi, shipboard romance memang indah, tapi lebih indah lagi kalau menjelma menjadi perubahan jangka panjang.

 

Contact the writer at www.perspektif.net
Follow him on Twitter

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.