Style Conondrum

Seni Payudara Fashion

March, 16th 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 1

penampilan overdone akan berisiko dituduh sebagai barang seni instalasi bergerak.

img

Kalau berkesempatan hadir di pesta kalangan high-society (biasanya didukung majalah-majalah lifestyle papan atas) dan memperhatikan apa saja yang dikenakan orang-orang di dalamnya, sangatlah mudah untuk mengambil kesimpulan bahwa kalangan ini adalah kalangan terdepan yang punya power kelas satu untuk menaklukkan fashion terbaru. Mereka mengenakan pakaian-pakaian dari print ad yang baru muncul di majalah internasional semacam Vogue dan W. Mereka seksi, mahal, glamor, hingga melewati batas sosok yang sangat cantik. 

Berlian dan jam tangan mewah mereka asli bersertifikat. Tas dan sepatu mereka mahal dari brand yang populer dan tidak dibeli di Jakarta. Mereka siap difoto untuk halaman society di majalah-majalah glossy. Di arena ini, nyaris tak akan pernah ada barang palsu berkeliaran. Barang palsu level KW1 (kualitas 1), KW2, KW3, sampai KW kuadrat akan terseleksi alam dan gugur di pintu masuk. Ironisnya bukan berarti arena ini bebas barang palsu. Malah, di sini paling mudah menemukan barang palsu yang hidup. Yang paling mudah ditemukan: hidung dan bibir palsu. Elemen-elemen ini sudah berubah dari bawaan lahirnya berkat rekayasa dan sumpalan bedah kecantikan. Kita bisa menemukannya dengan mata telanjang (tak perlu latihan). Dan yang paling grand adalah payudara palsu. How do you know? Apakah boleh dipegang-pegang dulu? No! In fashion, fake stories travel very fast. Berita Nose & Boob Job akan tersebar sendiri secara alamiah lengkap dengan alamat dokter bedahnya.

Mudah menyimpulkan bahwa karakter komunitas ini bergelimang sosok-sosok yang high-effort, push the limit; satu hal yang sebenarnya dihindari dalam fashion. Fashion lebih memuji penampilan yang effortless, sosok yang natural. Sama seperti laporan red carpet di TV kabel, pujian akan jatuh pada sosok yang natural dan tampak effortless ketika berpenampilan. 

Kontra dengan arena barang asli tubuh palsu, coba kita datang ke acara-acara semacam pertemuan besar peserta Multi Level Marketing atau reuni perkumpulan alumni penerima beasiswa luar negeri. Di arena ini, umumnya wajah-wajah bawaan lahir dan payudara asli jali menguasai arena. Hidung-hidung berbentuk jambu air akan sangat percaya diri berkomunikasi dengan tertawa lepas. Alamiah. Namun sebaliknya, arena ini rentan dengan bawaan palsu; Louis Vuitton KW1, Gucci KW2, dan Prada hasil bajakan KW1. Kita pun bertanya, mana yang lebih baik dipalsukan? Tubuh atau barang? Ya, tentu sebaiknya semua asli.

Sejauh ini, komunitas favorit saya adalah komunitas acara-acara musik jazz. Kalau sempat hadir di acara festival jazz ini atau jazz itu, perhatikanlah pengunjungnya. Umumnya, mereka berusaha tampil gaya dalam batas natural. Hasil akhirnya berupa penampilan yang 'effortless', ini spirit fashion yang benar. Sangat terasa bahwa kenyamanan nomor satu dan fashion nomor dua. 

Komunitas yang menarik juga terdapat di arena acara-acara seni rupa. Sebagian orang di dalamnya cukup menahan diri untuk bergaya down-to-earth (padahal, mampu beli lukisan seharga Rp2 milyar). Apa yang membuat mereka menahan diri? Mungkin, karena komunitas ini berisi orang-orang berilmu visual tinggi, orang-orang yang mampu mengartikan apa di balik tampak visual seseorang, termasuk mengerti bahwa penampilan overdone akan berisiko dituduh sebagai barang seni instalasi bergerak.

 

Follow the writer on Twitter

Toko Buku Fashion

February, 25th 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 0

saya merasa tidak keberatan karena harus menunggunya berjam-jam, berdiri di antara rak-rak di toko buku. Banyak yang bisa dilihat; buku keren dan orang keren.

img

Ada beberapa toko buku keren di Jakarta; berinterior bagus, luas, pencahayaan lembut, tatanan buku selalu rapi, kurasi buku di-display enak dilihat, dan menggoda untuk dibeli. Mungkin, karena bagus dan rapi begitu mengakibatkan toko-toko buku ini didatangi pula oleh tipe pengunjung yang sejenis. Maksudnya, sama-sama rapi dan enak dilihat (I know, beli nggak beli urusan belakangan). Situasi ini memperkuat kesimpulan saya bahwa cara membunuh waktu paling stylish di keriuhan Jakarta ketika kita tengah menunggu seseorang yang tidak kunjung datang adalah berada di toko buku.

Termasuk pada satu sore, ketika saya memiliki janji bertemu seorang teman di sebuah mal, saya merasa tidak keberatan karena harus menunggunya berjam-jam, berdiri di antara rak-rak di toko buku. Banyak yang bisa dilihat; buku keren dan orang keren. Saya berpikir, dari mana mereka bisa punya kemampuan untuk tampil keren (bukan mahal)? Apakah kalau para pengunjung ini berdiri di halte busway, antre di Stasiun Dukuh Atas, nonton pertunjukan opera anak SMA Tarakanita, duduk-duduk di Taman Ayodhya Melawai, mereka masih tetap keren dan menarik?

"Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening". Ini salah satu petikan bijak dari Mademoiselle Coco Chanel yang saya baca dari buku di tangan saya. Buku ini berjudul Coco Chanel Three Weeks 1962, karya fotografer Douglas Kirkland, fotografer yang selama tiga minggu mengikuti hari-hari Coco Chanel.

Petikan kalimat bijak tersebut menggarisbawahi pikiran saya, bahwa orang-orang yang saya lihat di sini semakin tampak keren karena lifestyle yang mereka lakukan, berada di toko buku yang stylish, berada di tempat-tempat yang menarik. Padahal, yang mereka hanya pakai t-shirt, jeans, tas jinjing, dan sepatu kets. Sama dengan buku Douglas Kirkland ini, kita bisa lihat Coco Chanel hanya menggenakan setelan jaket dan rok. Dia pun tampak tua dan jauh dari kesan seksi. Tapi, Coco terlihat sangat stylish dan istimewa. Ini karena lifestyle yang dilakukan Coco di antara para jetsetter dan kesibukannya di studio jahit.

Bagaimana dengan kehidupan tradisional? Saya lalu membuka buku The Backstage karya Edward Hutabarat, kolaborasi dengan penulis Boedi Basoeki dan fotografer John Suryaatmadja. Buku ini sangat seirama dengan kalimat bijak Coco Chanel, kalimat yang enak untuk diulang kembali: Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening. Buku The Backstage memotret kehidupan dan keseharian para pekerja industri kreatif di level akar rumput. Lihatlah para sinden yang berdandan sebelum mentas di warung nasi liwet Wongso Lemu di Solo. John memotret mereka dengan sangat humanis. "Dari belakang layar, kita dapat belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan, yang dapat melahirkan karya paripurna dan bermakna," begitu tulis Boedi Basoeki dalam buku tersebut.

 

 

Follow him on Twitter

Backstage Party

February, 2nd 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 0

Ketika pesta berlangsung, tidak banyak yang menyadari bahwa pesta sesungguhnya ada di belakang panggung

img

Dalam kultur fashion, setiap aktivitas berlangsung bagaikan pesta. Acara berlangsung kapan dan di mana saja. Tengah malam, di bibir pantai, di mal, atau di grand ballroom. Ini termasuk persiapan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan sebelum hari H. Semua dilakukan demi “perfection”, sebuah kata penting yang tidak bisa ditawar-tawar. Setiap kali ada pergelaran fashion show, banyak orang tertarik untuk hadir dan terlibat. Padahal, ketika pesta berlangsung, tidak banyak yang menyadari bahwa pesta sesungguhnya hanya ada di belakang panggung.

Keramaian dan keriuhan di belakang panggung memang sungguh marak, seru, serta mendebarkan. Cahaya di backstage selalu redup, layaknya pesta-pesta mahal. Lampu hanya bersinar di kaca meja rias. Semua tokoh penting dalam acara ada di backstage; desainer, model, artis kondang pengisi jeda show, asisten artis, make-up crew, hair stylist crew, dresser crew, backstage manager (penguasa di belakang panggung), asisten koreografer, queuer (orang yang memastikan siapa yang selanjutnya on stage), security ber-HT (yang melarang masuk siapa saja yang tidak berkepentingan), dan fashion editor yang mengantungi kartu backstage pass. Di sini, tidak ada seating arrangement. Tapi, semua orang tahu di mana harus berdiri.

Satu jam sebelum show terasa begitu lama bagi undangan di depan panggung. Tapi, bagi penghuni backstage, satu jam itu serasa berlari seperti ketukan detik. Memasangkan tali korset di punggung model rasanya tidak selesai-selesai (dengan bawaan rasa kebelet pipis, karena backstage manager sudah teriak-teriak minta si model segera baris di belakang jalur keluar). Suasana jadi sangat menegangkan. Tak ada yang berani buka suara (kalau tak ingin di damprat ‘orang penting’). Model-model berbaris di belakang jalur naik catwalk. Perubahan mendadak sangat mungkin terjadi ketika desainer mengecek ulang final look para model. Ini juga bikin panik. “Gelang pindah ke sini. Cincin pindah ke A. Kalung dilepas saja. Gulung pinggang rok dua kali biar lebih mini. Eyeliner C meleleh, harus dibersihkan. Blush on terlalu tinggi. Bla bla bla.”

Suasana backstage di berbagai show di Eropa, walau tegang, tapi cukup simpel (seperti yang saya lihat di backstage Aigner, Fendi, Gucci, Louis Vuitton, Max Mara, dan Missoni). Gladiresik jarang diatur berulang-ulang, atau menunggu semua model lengkap. Jika ada model yang telat (biasanya supermodel), koreografer akan memberi arahan, memberitahukan di titik mana harus berhenti dan di titik mana harus berpose untuk fotografer. Kepanikan meningkat ketika model di catwalk selesai dan harus berganti pakaian untuk sequence berikutnya. Suasana heboh. Kerap terlihat sepatu dan kalung terbang tak menentu.

Lain dengan di Indonesia. Fashion show selalu berkonsep entertainment. Kemasannya pun selalu lebih menarik daripada fashion show di Eropa. Penanganan di backstage sama rumitnya dengan konser live on TV. Ketegangan di backstage juga lebih tinggi dan riuh. Belum lagi jika peragaan dibuat tandem, alias tiga grup model untuk sembilan orang desainer. Banyak desainer minta di urutan pertama karena bisa punya waktu mempersiapkan model dengan prima. Sisanya harus mengelus dada karena mau tak mau mesti mencopot aneka embel-embel sisa desainer sebelumnya sambil segera memakaikan perlengkapan yang baru di sekujur tubuh model. Situasi jadi drama ketika backstage manager berteriak, “Mana model berikutnya?!?!” Dan, zipper di punggung model mendadak jebol karena ditarik terburu-buru. Nah, bagaimana, tertarik datang ke backstage?

Gaya Hujan dalam Facebook

February, 2nd 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 1

Tanpa disadari, panas atau dingin memang merupakan unsur yang mempunyai andil dalam penentuan gaya berpakaian warga Jakarta (iya, ok. Dunia juga)

img

Sebanyak 12 juta penduduk Jakarta diterpa hujan dan angin. Hari kadang-kadang mendung dan gelap, udara kebanyakan sejuk menuju dingin. Mungkin, ini jawaban dari seringnya orang Jakarta bilang, “Gila, Jakarta panas banget!”

Tanpa disadari, panas atau dingin memang merupakan unsur yang mempunyai andil dalam penentuan gaya berpakaian warga Jakarta (iya, ok. Dunia juga). Ketika panas, elemen paling favorit adalah t-shirt dan kemeja katun paling tipis. Ketika dingin, semua elemen favorit dilapisi bertumpuk dengan jaket, sweater, syal, scarf, dan coat. Bagaimana menentang alam? Tak mungkin. Umumnya, manusia harus menyesuaikan. Namun, dalam sebuah blog seorang cewek—yang saya temukan berkaitan dengan pakaian di musim hujan ini—, ada perlawanan tersendiri. Dia bilang, “I don’t like to let rainy days determine what I decide to wear.

Coba bayangkan apa jadinya? Bagaimana mungkin kita tidak bergantung dengan payung dan jaket hujan? Gara-gara blog itu saya tertarik untuk mengumpulkan semacam reaksi publik kecil-kecilan lewat Facebook. Saya memunggah sebuah foto yang menggambarkan pemuda London tengah mengenakan pakaian berlapis (Layerde Look) untuk mengatasi cuaca London yang mendung dan hujan. Pemuda tersebut (bukan bule), mengenakan kemeja putih, sweater abu-abu, celana jins slim, sepatu Converse, dan tas besar kulit. Respons yang terkumpul lumayan menarik; pro dan kontra dari yang serius, setuju, ngelawak, protes terselubung ngelawak, dan biasa-biasa saja. Dan, inilah komentar yang saya pilih:

“Dipake di Jakarta? Biar musim ujan gini, teteup puanasss, coy…!!”

“Aduh, yang namanya trully fashionista ‘nothing can't get into my way to be stylish’. Nggak panas, kok, kalau tahu cara milih material alias bahan dan ambil total look-nya, saja. Bahannya dibuat lebih tipis. Wolnya juga yang cool wool. That’s a trully fashionista, darleeng!!”

“Wah, HITSSSSSSSS, nih”.

“Love it… :)”

“Kalo semua cowok Jakarta bisa tampil sekeren ini, berarti profesi stylist di Indonesia berhasil banget, tuhhh.”

“Di Bandung, sih, sah-sah saja make ini. He-he-he. Apalagi, sekarang... brrr... ding dong!”

“Syaratnya, Bandung-nya di daerah Lembang dan sekitarnya kali ya? ;-)”

“Coba rambutnya keriting, seperti saya. He-he-he”.

“Cocok, nih, buat ide berpakain di saat Jakarta yang lagi diiingggiiinn bgt! Sedingin hatiku!”

“Wah, cocok, nih, buat ke pasar!! He-he”.

“Kalo mau kondangan pake ini gimana??? Hmmm, kalo jalan-jalan di Monas gimana???”

“Wah, ini seru banget”.

Hard to apply.”

“Eh, siapa bilang hard to be exerted? Untungnya, orang Indonesia punya paham BGAG alias Biar Gerah Asal Gaya... Contohhnya aakkkyuuuuuuuu...."  (dengan intonasi lagu berjudul “Tidak Semua Laki-Laki”)”

“Betul setuju”.

“Jangan lupa pake sepatu buduk, biar kesannya bandel”.

“Biar kesannya bandel? >>> RRrrr... Gukk Gukkk.. Gukk.. *lho?*”

“Ada sepatu bermerek "BUDUK"??? Kesannya jadi badung apa bandel? Binun??!!! Hi-hi-hi.”

“Ada, 2nd line-nya 'BELLY'. Bisa dicari di Budut...”

Sayangnya, foto tersebut tidak bisa ditayangkan disini. Intinya, ilustrasi yang saya angkat ini untuk mengetahui respons publik ketika sebuah majalah atau media meluncurkan gambar sebuah tren fasyen. Bagaimana dengan pengalaman Anda ketika melihat foto-foto tren?

Desainer Kaki Karet

February, 2nd 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 0

Di mata fashion, merek ini dinilai telah melakukan fashion crime (tenaaang, it’s only fashion).

img

Pada suatu briefing koreografi untuk fashion show besar beberapa waktu lalu, sejumlah desainer fashion, tiga koreografer, dan tim sound director berkumpul di sebuah ruang di basement Jakarta Convention Center. Rata-rata setiap orang berpenampilan chic, aura khas ketika para desainer bertemu. Di antara mereka, ada seorang yang menarik perhatian saya. Ia mengenakan paduan senada polo shirt dan celana cokelat yang chic, plus sandal karet Crocs berwarna neon. Gubrak. Semangat pakaian dan alas kakinya tidak bertemu. Saya berpikir, mungkin pria desainer ini sedang sangat ingin kasual-slash-malas.

Apa yang salah dengan sandal karet super color ini? Nggak ada. Sandal ini berkesan riang gembira; melengkapi gairah anak-anak yang berlari ke sana kemari, menginjak-injak genangan air di taman, dan berjalan-jalan di tepian pantai berpasir. Jiwa anak-anak sangat kuat dalam citra sandal ini (Mal Pondok Indah melarang pemakaian sandal Crocs di eskalator. Menurut Google, ada medan elektrik yang bisa menarik kaki sehingga tersedot ke celah-celah metal eskalator. Di Wina, sandal ini dilarang masuk ruang ICU dan X-Ray).

Kalau kaki manusia dewasa seusia Brad Pitt dan Angelina Jolie beralaskan sandal ini, tentu sisi kanak-kanak mereka akan keluar. Kelihatannya tentu menyenangkan dan terkesan periang. Orang-orang akan memandang santai, tersenyum, dan menganggap tidak perlu memperhitungkan si kaki neon. Jika mereka mengenakan sandal ini ke tempat-tempat semi-formal atau malah formal, penilaian akan lebih tajam lagi. Di mata fashion, merek ini dinilai telah melakukan fashion crime (tenaaang, it’s only fashion).

Ketika memasukkan kata-kata kunci “fashion crime crocs dalam bar Google, ditemukan sedikitnya 40.700 hasil telusur. Mayoritas berisi kritik dan serangan pedas pencinta penampilan ideal beserta balasannya. Sementara, kalau dimasukkan kata “bahaya sandal crocs”, muncullah 543 hasil telusur berisi cerita-cerita ancaman sandal, mulai dari alas karet gosong sampai jari-jari kaki anak kecil hilang dijepit eskalator. Hasil perolehan yang sangat tinggi di penelusuran fashion crime tentu tergolong memprihatinkan.

Times menjuluki sandal ini sebagai The Most Non-elegant Shoes in the World. Malah ada blog unik, I Hate Crocs Dot Com, yang isinya penuh makian orang-orang yang tersinggung karena kebebasannya mengenakan Crocs diusili serta orang yang ujung-ujungnya jualan t-shirt bergambar Crocs dan gunting. Motto blog ini adalah “dedicated for the elimination of Crocs and those who think that their excuses for wearing them are viable”. Ironisnya, sandal ini dinilai cukup ergonomis, mengurangi kelelahan kaki ketika berdiri dan berjalan, ringan, mudah dipakai dan dilepaskan, serta mudah dibersihkan. Saya kembali memandangi desainer muda bersandal karet di depan saya, “Ide apa yang telah melintas di kepalanya?”

Anti-keriput untuk Laki-Laki

February, 2nd 2010 |  by  Syahmedi Dean  | 0

Dalam waktu kurang dari dua jam, saya mendapatkan respons yang lucu, informatif, usil, dan benar-benar jualan.

img

Bumi semakin tua, tapi usaha-usaha untuk memperlambat penuaan kulit manusia semakin gencar berkibar. Salah satunya, yang paling menarik dan elegan, adalah produk anti-aging—produk peremajaan kulit untuk melawan keriput.

Kalau diperhatikan, semua iklan produk anti-aging dikemas dengan menarik, dan semakin nyata mengesampingkan kaum pria. Atas ide itu, saya jadi ingin tahu apa reaksi teman-teman kalau saya bertanya tentang anti-aging untuk laki-laki. Media yang saya pakai, apalagi kalau bukan Facebook. Dalam waktu kurang dari dua jam, saya medapatkan respons yang lucu, informatif, usil, dan benar-benar jualan. Pertanyaan yang saya lempar di kolom status saya adalah “ada yang jual anti-aging for man nggak?”

Dan, inilah komentar-komentar dari teman-teman saya.
Just take a look at my groups in this Facebook, there is an anti-aging groups you can find. (14:14)
Hm, coba ke L’Oreal, deh, Mas. (14:14)
Loe liat aja infonya di Vanity Fair terbaru (Maret 2009, cover-nya Obama). Kali aja ada yang cocok. (14:17)
Waduh, botox aja, Mas. He-he-he. (14:19)
Hmm, there is no such thing as anti-aging. Botox works just fine, Mas. He-he-he. (14:21)
Kalau artis-artis Hollywood, ada yang pakai krim wasir. Mungkin perlu dicoba, Dean. (14:26)
Waduh, kenapa memang, Mas? (14:27)
Kemarin-kemarin, saya coba L'Oreal Vita Lift. Not bad. Mirip-mirip Idealist hasilnya, hanya beda di harga. Ha-ha-ha. Harga, mmm, hundred something. (14:46)
Kenapa, De? Udah tuaan, ya? Bagian dagu saja? Aku puas pake Olay. Coba aja. Tapi, itu buat seluruh muka, lho :D (14:51)
Kalau gue pake sabun mandi aja. Hi-hi-hi. (14:53)
Maaf, aye ndak jualan di Facebook. Coba liat aja di www.neimanmarcus.com atau pergi ke mal. (14:58)
Abis, biar praktis. Kalau mandi sekalian semuanya, biar mandinya nggak lama. (14:59)
Dean, serius ya? (15:01)
Tuh, kan. Saya pakai Retro-Lifting (TM) Cream, face treaming cream. Di boksnya tertulis, “Restores Suppleness, Lift & Firms, Sculpts & Contours, Re-Texturizes Skin.” Saya beli di Beijing. Harga kisaran 600-an RB. Barang sebenarnya dari Prancis. Kalo mau, titip saya aja, Dean. (15:20)
Dean, ke malnya bagian mana, sih? Di Neiman Marcus, kan, ada men's store-nya. Lalu, ada section Grooming, Skincare, banyak. Jangan-jangan tersesat lagi? (15:23)
Ganti judul dong, Mas. Jadi “A Serious Case of Benjamin Bottox”. He-he-he. (15:24)
Ya ampuuuuun, nggak rusak, tuh, muka? Restore sana, restore sini? Serem ah. Ada sample nggak? (15:26)
Nggak rusak! Kok rusak? Bahannya alami organik (kan presiden mencanangkan Go Organic tahun 2010), 0% zat kimia sintetis. Sama aset sendiri, kok, saya main-main, Dean. Cuma 1 boks kecil, dipakai 3x seminggu. Daripada coba sana coba sini, botox tumbuh kempis, mending langsung aja yang dipakai raja-raja dan presiden. Iklannya bilang begini, “Anda nggak perlu ke dokter bedah plastik lagi.” (15:39)
“Biar dokternya datang sendiri.” Bisa aja dikau, tahu kebutuhan pria Indonesia. (16:28)

« previous 1 2 next »