Wimar Says

Pelajaran dari Piala Dunia

July, 14th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Menarik sekali bahwa dalam piala dunia, orang bisa menunjukkan sikap emosinya terhadap hidup.

img

Selesai sudah perhatian kita terpaku pada pertandingan sepakbola Piala Dunia di Afrika Selatan. Kali ini lebih semarak dengan sorotan televisi, koran, dan terutama social media seperti Koprol, Facebook dan Twitter. Terasa semua dekat pada sepakbola sampai orang yang biasanya tidak suka bola terbawa gairah Piala Dunia. Diiringi vuvuzela, Shakira, dan istilah baru seperti Jabulani, Afrika Selatan menjadi kenangan yang semarak. Perhatian media terhadap isu politik dan isu gosip yang biasanya mengejar-ngejar kita jadi beralih. Tapi, ada kala acara yang menghibur, sportif, dan menyenangkan membuat orang gelisah, tegang, sedih, dan kecewa. Banyak yang tertawa, banyak senyum, ada pertemanan yang tumbuh dalam nonton bareng dan percakapan bola. Tapi, ada juga perselisihan yang ditimbulkan oleh turnamen itu. 

Padahal, kita tahu yang bermain bola itu ada jauh di Afrika dan jauh dari kita sehari-hari, baik dari kemampuan dan kepentingan. Hidup seorang Carles Puyol atau seorang Van Bommel sangat beda dengan hidup kita di sini. Tapi, kita serasa mengenal mereka. Bahkan, pemain cadangan Spanyol Cesc Fabregas menjalankan hidup penuh tekanan dan imbalan dalam kesehariannya.

Fabregas adalah pemain Spanyol yang tergabung dalam klub Arsenal, dia Kapten dan pada umumnya dianggap pemain yang baik. Di Piala Dunia, Cesc lebih banyak di bangku cadangan karena pertimbangan pelatihnya. Bagi saya, Fabregas pemain yang oke, baik, bahkan saya sering mengatakan dia adalah pemain terbaik. Padahal, kita tahu tidak ada pemain terbaik sedunia karena susah mengukurnya; apakah dari usaha, prestasi, liputan pers, senyumannya, olahan bola, terobosannya, atau dari larinya. Banyak tolok ukur untuk mutu permainan, seperti halnya banyak ukuran untuk penyanyi.

Kompetisi menyenangkan tapi kejam, karena hanya bisa ada satu pemenang. Ujung-ujungnya, semua kalah di Afrika Selatan kecuali satu. Bukan berarti bahwa tim lain jelek. Mungkin, hanya kurang beruntung sedikit, mungkin lagi lelah, mungkin ini, dan itu. Kembali pada Fabregas, secara kelakar di Twitter saya menulis ,"Wah, Fabregas ini pemain terbaik sedunia. Dia ikut jadi juara dunia." Banyak juga orang yang memuja Robben, Sneijder, Mueller, dan sebagainya. Saya menyambut dengan gembira karena menunjukkan banyak pemain yang bagus di dunia. Tapi, ada juga yang membenci ucapan mendukung Fabregas. Dikomentari, "wah si kriwil mulai bertingkah lagi!" dan "si kriwil kali nggak ngerti bola, atau nggak ngikutin bola." langsung di Unfollow. Sebenarnya, Unfollow itu sama dengan menutup telepon atau menutup pintu rumah terhadap orang yang tidak welcome. Tapi, yang menjadi pikiran adalah mengapa ada orang tidak menghargai pilihan yang berbeda?

Teringat Gus Dur menggunakan istilah "eklektik" pada orang yang mencari yang terbaik dari apa yang ada. Gus Dur mengatakan semua agama ada kebaikannya, semua bangsa ada kebaikannya, semua suku ada kebaikannya. Orang eklektik akan mengatakan setiap individu ada kebaikannya. Orang yang seburuk-buruknya pun pasti punya segi baik. Kesebelasan mana pun di dunia ada segi baiknya. Justru itu daya tariknya olahraga kompetitif. Semua punya kesempatan sama tapi ada yang menang dan ada yang kalah. Kalau semuanya menang, namanya jalan kaki hari Minggu barangkali. Sesuatu yang ada persaingan itu menarik, tetapi kalau ditanggapi terlalu emosional maka daya tariknya berubah menjadi sumber kekesalan.

Menarik sekali bahwa dalam piala dunia, orang bisa menunjukkan sikap emosinya terhadap hidup. Kalau kita buka kembali tulisan di Twitter, Facebook, Koprol dan blog, sangat menarik faktor emosi itu. Kita bisa melihat perbedaan-perbedaan dalam sikap. Mungkin sikap yang terbaik dikeluarkan oleh pelatih Belanda, Bert Van Marwijk, yang dia ucapkan setelah pemainnya berpelukan dengan pemain Spanyol. Bert Van Marwijk berkata pada pers setelah selesai, "Tadi itu adalah pertandingan final yang sangat bagus. Dan, tim terbaik telah menang." Itu sikap seorang juara.

 

Follow the writer on Twitter

Pertahanan dan Penyerangan

June, 25th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Kalau harus pilih, dasarnya harus dari sistem pertahanan yang kokoh, baru sistem penyerangan.

img

Piala Dunia dimulai dengan pertandingan-pertandingan yang kelihatannya membosankan. Sebetulnya, bagi orang yang mengerti sepakbola, justru pertandingan-perrtandingan pembukaan itu menunjukkan ilmu sepakbola yang tinggi. Sebab, yang diperagakan adalah kemampuan pelatih dan pemain untuk mengatur pertahanan yang kuat. Pada awal suatu turnamen yang penting, banyak yang beranggapan menang itu bukan segala-galanya. Yang lebih penting adalah jangan sampai kalah pada pertandingan pertama. Karena itu, kita lihat hasil-hasil yang aneh, di mana suatu kesebelasan yang kuat seperti Brazil bisa ditahan 2-1 oleh suatu kesebelasan yang diperkirakan lemah, yaitu Korea Utara. Kita lihat juga misalnya kesebelasan Inggris ditahan seri oleh kesebelasan Amerika Serikat. Kamerun yang dianggap lebih kuat dari Jepang bisa kalah 1-0 dan Korea Selatan menang 2-0 melawan mantan juara Eropa Yunani. Yang sangat meyakinkan adalah Jerman yang mengalahkan Australia sampai 4-0.

Di Piala Dunia sebelumnya, misalnya pada 2006 di Jerman, pada 2002 di Jepang dan Korea, 1998 di Prancis, 1994 di Amerika, semua pertandingan hari-hari pertama dalam babak grup berakhir dengan hasil yang selisihnya kecil dan kadang-kadang malah terbalik dari ekspektasi. Seperti Kamerun mengalahkan Argentina pada Piala Dunia 1990 di Italia. Kembali pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, prestasi dalam bertahan kita lihat pada Swiss yang mampu menahan Spanyol. Pertahanan yang begitu kuat menghasilkan kemenangan 1-0 melawan salah satu favorit juara dari suatu serangan balik. 

Serangan balik adalah senjata klub yang menitikberatkan pertahanan. Dasarnya adalah bahwa lebih baik kesebelasan menjamin jangan kemasukan gol dan menyimpan tenaganya untuk saat yang baik dimana ia bisa habis-habisan melakukan serangan balik yang cepat. Karena ini sering dipakai di Italia, maka ia diberi nama catenaccio. Tapi, kalau melihat hasil Swiss yang kemarin menang 1-0 lawan Spanyol, orang berpikir jangan-jangan catenaccio ini berasal dari orang Swiss yang berlatarbelakang etnis Italia, lalu dibawa ke Italia. Entahlah. Tapi dari sepakbola, kita bisa belajar banyak. 

Kita akan belajar, rasanya, saat tulisan ini Anda baca dan turnamen Piala Dunia sudah berkembang, bahwa semakin lanjut tingkat turnamen, semakin berani orang ambil risiko. Sayang, jarak antara pemasukan tulisan ini dengan terbitnya di majalah itu berjarak lumayan. Tapi, kalau Anda baca versi web dari artikel ini, maka Anda akan lihat contoh-contoh pertandingan yang terakhir. 

Untuk melihat contoh yang keluar di suatu contoh majalah cetak, kita bisa kembali pada Piala Dunia yang lalu saat kesebelasan Denmark yang kuat mendadak kelihatan lemah karena kalah melawan Spanyol dengan angka 5-1. Zaman dahulu memang lain ilmunya karena Jerman misalnya kalah oleh Hungaria di babak pertama Piala Dunia Swiss 1954 dengan skor 8-3. Tapi, karena Jerman lolos juga ke babak berikutnya bahkan akhirnya masuk final dan ketemu Hongaria sekali lagi. Jerman yang kalah di babak pertama 8-3 sudah dianggap bukan lawan bagi Hungaria yang waktu itu sangat kuat. Tapi ternyata malah Jerman menang 3-2 dan jadi juara dunia. Ini salah satu asal usul ucapan humor dari bintang sepakbola Inggris, yaitu Gary Lineker yang mengatakan, "Sepakbola adalah olahraga yang menyangkut 22 orang mengejar satu bola dan yang akhirnya dimenangkan Jerman.” Ucapan itu lucu, tapi benar. Karena, Jerman sering masuk final bahkan juara, walaupun prestasi di babak pertamanya tidak meyakinkan. Dan, prestasi kesebelasan nasional sebelum turnamen itu juga tidak meyakinkan. Rahasianya adalah bahwa Jerman itu pada umumnya selalu solid dan sebetulnya siap tempur kapan saja. Di saat orang-orang lain mencapai pemuncakan prestasi, Jerman biasa-biasa saja. Sementara, waktu kesebelasan lain merosot karena tenaganya kurang atau daya inovasinya hilang, Jerman akan tetap konstan dan secara relatif kelihatan lebih kuat. 

Kejadian-kejadian dalam sepakbola seperti halnya semua olahraga dan seperti semua kejadian kehidupan itu sangat bisa dijadikan metafora untuk kehidupan yang sesungguhnya. Di bidang politik misalnya, ada kelompok politik atau tokoh politik yang kelihatan bertahan terus dan tahan lama. Ada yang menyerang tapi hanya bertahan 3 tahun. Pertahanan yang kuat dan penyerangan yang kuat itu penting untuk usaha apa pun. Tapi, kalau harus pilih, dasarnya harus dari sistem pertahanan yang kokoh, baru sistem penyerangan. Bertahan tanpa menyerang bisa menang, menyerang tanpa bertahan tidak bisa menang. Orang bisa main tenis meja atau tenis lapangan dengan semata-mata kekuatan defensif semua bola dia kembalikan. Akhirnya dia menang sebab lawan tidak bisa terus-terusan menyerang tanpa membuat kesalahan, akan terjadi unforced error dan di situlah orang yang stabil akan menang. 

Hanya pemain yang sangat spesial, seperti Federer dan Pete Sampras, yang bisa kuat dalam menyerang dan bertahan. Mungkin Jerman tahun ini adalah tim yang demikian. Karena angka 4-0 itu hanya bisa dicapai kalau pertahanannya kuat. Bisa menahan kemasukan 0. Penyerangannya juga kuat sehingga membuat 4 gol. Tidak tahu kalau di bidang politik, apakah suatu partai politik bisa bertahan terus. Ketika akhirnya menyerang dan bertahan sekaligus menguasai setiap lawannya. Apakah itu partai dengan strategi yang baik, ataukah ada unsur lain yang bermain di situ. Barangkali kekuatannya bukan dari strategi tapi dari faktor luar yaitu uang, penyalahgunaan kekuasaan, siapa tahu. Dalam sepakbola, unsur-unsur luar itu tidak ada, yang ada hanya bertahan yang baik dan menyerang yang baik.

 

Follow him on Twitter 

Short-Term Memory

May, 31st 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Saya tidak tahu mengapa, tapi sebagai anak kecil zaman dulu kita tidak mempertanyakan orangtua.

img

Ayah saya dibesarkan di zaman Belanda, dan saya juga lahir persis di ujung zaman Belanda. Saya sudah tua, ayah saya lebih tua lagi, dan sekarang sudah meninggal. Pada waktu masih hidup di tahun-tahun terakhir setelah pensiun, ayah saya sering cerita mengenai pengalaman pekerjaannya. Banyak hal unik dan lucu yang senang dia bagi dengan saya. Dan, saya memang senang dengar cerita dari kecil sampai sekarang. Ayah saya mulai bekerja di zaman Belanda sebagai Pamong Praja, waktu itu polisi masuk Pamong Praja. Kemudian, setelah kemerdekaan, dia pindah ke Jakarta dan bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Kemudian, pindah ke Kementerian Luar Negeri. Saat saya mulai sadar di usia 4 tahun, ayah saya sudah menjadi pegawai Luar Negeri dan suka pergi ke luar negeri sebagai diplomat. 

Saya tidak tahu apa-apa. Jakarta juga zaman dulu tidak banyak berita. Bahkan, tidak banyak kegiatan. Tapi saya suka terima surat dan foto dari ayah saya. Bukan foto digital, tapi foto biasa hitam-putih dalam amplop. Ceritanya, saya tidak begitu mengerti ternyata kemudian dia sedang ikut konferensi meja bundar di Belanda, yang kita semua tahu di sekolah itu adalah konferensi penting. Yang saya perhatikan di foto itu, dia pakai jas panjang (overcoat) berwarna hitam, pakai topi, keren, dan berdiri memegang saputangan hitam. Memang, pakaian diplomat seperti itu di musim dingin tentunya, kalau tidak, panas juga berpakaian overcoat. 

Saya diberi tahu oleh kakak saya yang suka mempermainkan saya, karena sayang barangkali, tapi saya banyak kena tipu juga. Dia bilang ayah saya kirim foto dengan pesan supaya si Wimar jangan nakal (waktu itu usia saya 4 tahun). Karena dari sini pun saya tahu, kakak saya menambahkan, “Makanya dia pegang kaus tangan hitam, sebab dia bisa langsung lemparkan kaus tangan itu melalui udara ke Jakarta dan akan kena pipi kamu apabila kamu nakal.”

Ayah saya menjadi pahlawan bagi saya, karena setelah saya tambah dewasa dan ikut dengan keluarga di Eropa pada dinas diplomatiknya. Dia seperti orang paling hebat di dunia. Paling tidak orang Indonesia paling hebat di negara itu. Kami tinggal di Denmark tempat memang tidak ada orang Indonesia lain, kecuali kami sekeluarga. Dan, ayah saya adalah kepala perwakilan. Jadi, betul juga barangkali orang Indonesia paling hebat. Saya juga tidak tahu apa pekerjaannya, setiap hari ke kantor dan pulang. 

Nah, kembali pada masa dewasa saya dan ayah saya cerita mengenai zaman dulu. Saya sangat ingin sebetulnya dengar cerita dia sebagai diplomat di negara-negara Eropa, tapi kalau dia cerita pekerjaannya, dia selalu cerita zaman dulu yaitu zaman Belanda dengan detail; bagaimana ia menjadi ronda polisi di Lembang, bagaimana ia menangkap maling dengan menyemprotkan air cabai dari semprotan nyamuk ke matanya, bagaimana ia mengungsi membawa sekeluarga di kejar-kejar Belanda dari Padalarang ke seputar tanah Priangan, saya ingat: Ciwidey, Tanara, Pangalengan, Banon Jaya dan ke Bandung tempat saya (katanya) dibawa pakai ember. Sampai sekarang saya terbayang, saya di dalam ember seakan-akan saya pernah melihat. Padahal tidak pernah ada fotonya, tapi banyak dengar cerita dari ayah saya. Dan ia story teller, dia bisa bercerita seakan-akan kita melihat. Tajam sekali ingatannya. Tetapi, ia tidak pernah cerita mengenai masa dia jadi diplomat di negeri Belanda, Swedia, Denmark, Jerman di semua negara yang dia pernah pergi. Padahal, itu menarik sekali buat saya. Saya tidak tahu mengapa, tapi sebagai anak kecil zaman dulu kita tidak mempertanyakan orangtua. Mengapa dia tidak cerita, apa ia tidak bangga pada periode itu. Kalau soal menarik, pasti menarik lah. 

Baru kemarin saya mendapatkan pesan dari teman saya, Irman Pasaribu di Facebook. Teman SMA di Kanisius, setelah 50 tahun baru kali ini ia menyapa saya di Facebook. “Hei, Wim, loe masih ingat gue?” Saya jawab, “Ingat, Irman yang dulu habis lulus SMA, habis lulus kedokteran pindah ke Suriname? Yang rumahnya di Jalan Lombok No. 55 Paviliun? Yang suka beliin gado-gado? Yang rambutnya pakai minyak rambut Atkinson?” Irman menjawab, “Betul, gila loe Wim, segala masih hapal”. Ya, Irman ini dokter. Memang, yang orang bilang kalau sel-sel otak masa muda itu kuat, jadi memori kita waktu SMA tersimpan. Tapi, kalau yang sekarang saya sudah tidak ingat, di mana HP saya tersimpan. Betul juga si Irman, saya cerita mengenai zaman Jepang, zaman Soekarno, Soeharto, tapi kemarin saya harus beli handset baru CDMA untuk telepon cadangan saya, karena saya juga tidak tahu ada di mana HP saya. 

Pertanyaannya sekarang. Mana yang lebih penting, ingat minyak rambut Irman, atau menemukan HP saya?

 

Follow the writer on Twitter

Jungkir Balik Burung Berkicau

May, 13th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Ada beberapa segi yang rupanya menjadi penentu popularitas, yaitu konsep, konten, dan komunitas. Kebetulan tiga

img

Dunia social media semakin marak. Setiap orang punya pengalaman pertama dengan program yang membuka mata bahwa internet mempunyai kegunaan lebih luas daripada berkirim pesan melalui e-mail atau isyarat singkat melalui instant messaging. Tidak lama, orang melihat bahwa media internet sangat cocok untuk interaksi sosial. Artinya, berhubungan dengan lebih dari satu orang sekaligus. Favorit orang mulai dari Friendster, Facebook, kemudian berbagi pengalaman melalui foto seperti Flickr, Photobucket, Picasa, dan melalui video seperti YouTube.

Saat ini, di Indonesia, peminat social media cepat menangkap kesempatan baru untuk ekspresi diri. Ada beberapa segi yang rupanya menjadi penentu popularitas, yaitu konsep, konten, dan komunitas. Kebetulan tiga 'k'. Konsep mencakup hal luas seperti apakah medium itu cocok untuk hubungan profesional seperti lapangan kerja; apakah serius atau santai-santai saja. Konsep juga berkait dengan kedalaman komunikasi; apakah bisa cerita panjang atau cukup kalimat pendek 140 karakter. Konten berkaitan dengan konsep; apakah mengenai gadget, olahraga, politik, atau musik pop. Semua dirangkum dalam komunitas, kumpulan teman, atau orang yang tidak dikenal sebelumnya yang sama-sama tertarik pada topik tertentu atau berkenalan dari lingkaran teman ke lingkaran teman. Dari dulu, orang senang berhimpun di sekolah, kampus, di perhimpunan mahasiswa, organisasi profesi, klub pergaulan, dan sebagainya. Tapi, bedanya dengan internet social media, sekarang semua dilakukan dengan sedikit mengambil waktu dari kegiatan lain.

Orang bilang, kalau kamera dianggap canggih, sebetulnya masih kalah canggih dengan mata manusia. Sebab, mata mempunyai depth of field yang tidak terbatas, zoom sampai 100x kombinasi optik dan otak, sanggup selective focus, waterproof, dan kompak. Kamera televisi juga kalah dengan sensor manusia yang tidak terbatas sensitivitas. Mungkin terasa storage capacity yang kurang, tapi sebetulnya tidak juga. Storage capacity otak manusia itu besar sekali. Suatu penelitian di Amerika Serikat pada 1996 memberi estimasi bahwa kapasitas memori otak manusia adalah sekitar 3 terabyte, dengan range antara 1 dan 10 TB. Tapi otak dilengkapi compression software yang lebih canggih dari komputer. Yang jadi masalah bukan storage capacity, tapi kemampuan retrieval atau pengambilan kembali data yang tersimpan. Ini memerlukan kecerdasan, logika, dan terutama latihan.

Dalam pergaulan sosial, memori memainkan peran yang penting. Kita harus ingat orang dan latar belakangnya, kapan kita pernah bertemu, dan kita harus tahu apa kira-kiranya hubungan kita dengan orang di masa depan itu. Untuk memudahkan semua inilah, orang membentuk komunitas yang tadi disebut. Agar kita mudah mengingat bahwa percakapan di komunitas gereja, jangan menyangkut penyelewengan moral yang kita pernah lakukan, dan agar dalam komunitas kuliner kita tidak campur-baur dengan percakapan di komunitas pendaki gunung.

Social media networking membantu kategorisasi pergaulan ini. Facebook, Friendster, dan sejenisnya mengelompokkan orang dengan foto orang dan kegiatan untuk menempatkan facebooker dalam konteks memori yang sesuai. Flickr lebih lagi, menganut paham bahwa satu foto sama dengan seribu kata. Koprol yang dibuat di Indonesia mengatur percakapan sesuai dengan people and places, siapa yang ada di tempat tertentu misalnya di mal, dilengkapi kegiatan apa yang ada di mal tersebut, dan mengelompokkan orang menurut topik percakapan. Kita bisa kumpul lima atau enam orang dan bicara mengenai kebutuhan pemain baru Arsenal atau festival jazz. Bisa juga mengenai tempat-tempat dekat yang tinggal kita datangi dengan tiga kali koprol. Karena itu namanya begitu. Di samping koprol yang terkait dengan lokasi dan komunitas, ada juga Twitter yang mempunyai peserta seluruh dunia dan segala macam orang, di mana orang mengeluarkan komentar singkat di bawah 140 karakter mengenai apa saja laksana burung berkicau di alam luas. Social media tinggal kita pilih, dan kegunaannya tergantung pemakai, apa yang cocok dengannya dari segi konsep, konten, dan komunitas.

 

Follow thw writer on Twitter

Lagu untuk Sebuah Nama, Bersama Salam Hormat kepada Ebiet G. Ade

March, 25th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Karena itu, setiap kali Ebiet G Ade menyanyikan “Lagu Untuk Sebuah Nama”, saya mengangguk dan tersenyum.

img

Pada 1971, dua remaja bertemu membentuk persahabatan yang tidak disangka-sangka akan mengubah dunia. Steve Wozniak dan Steve Jobs yang sama-sama berusia 21 tahun. Jobs punya ide, dan Woz, panggilan Steve Wozniak, punya kemampuan mengulik komputer, yang waktu itu hanya dikenal orang ahli hi-tech yang berkutat di lab atau ruang hobby. Mereka berdua mendatangi toko komputer dekat rumah bernama The Byte Shop. Pemilik toko berjanji akan membeli komputer buatan mereka kalau diserahkan dalam keadaan siap pakai. Katanya, mereka akan pesan 50 unit dengan nilai US$500 per unit. Mata Jobs berbinar-binar mendengar angka yang kalau sekarang di sini kira-kira sebesar Rp225 juta. Padahal, kedua remaja itu tidak punya uang karena belum berpenghasilan tetap. Tapi, semangat mendorong mereka menerima deal ini, tanpa modal.

Modal bisa diperoleh kalau orang punya ide produk, teknologi pembuatan, dan business plan berisi kalkulasi harga, strategi distribusi dan terutama brand. Komputer yang ditawarkan Jobs dan Woz bukan barang baru. Kelebihannya ada layar seperti TV, sedangkan komputer lain seperti yang saya gunakan pada 1971, tidak punya layar, hanya lampu yang berkedip-kedip. Jadi, komputer ini langsung ramah pada pemakai.

Jobs ingin mencapai lebih dari 50 unit. Jadi, mereka paksakan membuat 200. Modal diperoleh dengan menjual semua barang mereka. Mobil VW Combi yang sudah lama dipakai, alat-alat permainan, komputer, dan pinjam sana pinjam sini. Jadilah komputer yang dikenal sebagai Apple I. Mengapa disebut Apple? Sebab, saingan mereka itu Atari. Jadi, Apple akan berada di atas Atari dalam urutan abjad. Selain itu, Jobs pernah bekerja di perkebunan apel di Oregon. Nama ini menjadi kenangan asyik buatnya.

Cerita punya cerita, Apple sukses besar. Lompatan bisnis raksasa dicapai dengan pemahaman pasar modal dan venture capital. Saat itu, mereka berkenalan dengan Arthur Rock, jagoan venture capital. Venture capital menyediakan modal bukan dalam bentuk pinjaman, tapi sebagai partisipasi saham. Bedanya, venture capital ditarik kembali dari perusahaan dengan menjualnya ke pasar modal. Kalau perusahaan sukses, harga jual venture capital bisa berlipat ratusan kali dari nilai investasi.

Jobs sukses luar biasa. Waktu melakukan IPO (penjualan saham perdana), dua anak muda ini berhasil mengumpulkan uang terbanyak sejak pabrik mobil Ford di tahun 1956. Secara instan, tercipta 300-an jutawan US Dollar; orang-orang beruntung yang memasukkan modal di saat awal dan menjualnya setelah IPO. Sekian miliar dolar berarti sekian puluh triliun tercipta tanpa korupsi dan tanpa fasilitas pemerintah.

Apa rahasianya? Kepiawaian teknologi. ya. Tapi, impian Steve Jobs lebih membuahkan hasil dari kecerdasan teknologi Woz, yang berhenti setelah beberapa tahun mengantungi beberapa puluh juta dolar. Kembali sekolah—sebab tadinya belum selesai universitas—, The Woz sekali-sekali membiayai konser musik rock di California.

Apakah rahasianya terletak dalam sistem distribusi? Ya, pasti. Dan, yang jelas adalah pembiayaan venture capital dan IPO, yang kemudian menjadi pola untuk semua perusahaan teknologi baru. Sebut saja Microsoft, Dell, Sun Microsystems, dan dalam generasi berikutnya Microsoft, Amazon, serta tentunya Yahoo! dan Google. Uang diciptakan dari ide, dilengkapi rencana jelas untuk menjual ide itu. Satu hal yang paling efektif dalam menjual adalah brand atau merek.

Banyak anak muda di Amerika yang rajin membuat komputer, tapi sebagian besar tidak berhasil menjadi usaha besar. Begitu dengar Steve Jobs dan Apple mencapai sukses legendaris, dua nama itu menjadi brand. Apa pun yang disentuh brand itu sukses, sampai saat tertentu kekuatan brand itu terlalu besar sehingga tidak terdukung oleh perangat penunjang. Maka, seperti Steve Jobs, dia jatuh sementara. Tapi, bisa bangkit selama brand itu kuat.

Banyak aktor bagus, tapi nama Brad Pitt dan Johnny Depp mengalahkan jauh ribuan orang berbakat dan tampan yang terpuruk di Hollywood. Banyak smart phone bagus tapi nama Blackberry dan iPhone lebih disukai daripada merek lain yang membawa produk sama bagus. Sukses produk memerlukan bahan dan bumbu lengkap. Impian, passion, pengetahuan, sikap, jiwa eksperimentasi. Kalau semua ini berkumpul, brand akan menjaga produk di hati penggemarnya. Pemegang brand akan maju melesat, meninggalkan orang yang sama pintar, sama rajin, tapi kurang berani berimajinasi dan menuangkan impian mereka dalam sebuah brand. Karena itu, setiap kali Ebiet G Ade menyanyikan "Lagu Untuk Sebuah Nama", saya mengangguk dan tersenyum.

 

Follow the writer on Twitter

 

Macan Tidak Bisa Menanggalkan Lorengnya

March, 15th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat

img

Macan juga tidak bisa mengubah lorengnya dari hitam-kuning menjadi merah-hijau seperti seragam Kamerun. Macan tidak mengubah lorengnya, orang tidak mengubah sifatnya. Ada cerita mengenai pelanduk yang sudah lama berkawan dengan buaya. Mereka suka ngobrol di tepi sungai, menghabiskan waktu berjam-jam curhat mengenai nasib masing-masing. Pelanduk tinggal di darat dan tidak bisa berenang. Buaya tinggal di air dan tidak nyaman di darat, kecuali hanya sebentar. Kalau lama-lama, buaya takut dikatain buaya darat, dan itu sangat memalukan bagi buaya yang hidup tanpa dosa, kecuali mencari makan.

Dalam habitatnya, buaya sungai dan danau bisa hidup 130 tahun. Sebaliknya, pelanduk yang imut-imut hanya hidup 15 tahun paling lama, dan takut masuk air. Tapi, buaya dan pelanduk bersahabat baik, walaupun mereka tahu bahwa kesementaraan meliputi hubungan mereka. Cerita ini bukan mengenai kesementaraan itu, tapi mengenai sifat hakiki masing-masing. Suatu hari, ada masalah. Pelanduk bosan hidup di satu sisi dari sungai itu, dan ingin mengenal dunia di seberang sungai. Maka sang buaya berkata, "Tidak jadi masalah. Saya bisa membawa kamu menyeberang." Karena sudah berteman lama, pelanduk setuju dan naik ke atas punggung buaya dengan langkah kecil yang halus. Di tengah sungai, buaya menyelam dan memakan pelanduk kecil itu. Mengapa? Sebab, buaya tidak bisa mengubah kebiasaannya cari makan.

Ada cerita lebih ekstrem dari film In the Name of My Father. Cerita ini menyangkut buaya juga, tapi dengan kawan baru seekor kalajengking yang bisa membunuh makhluk lain dengan satu gigitan. Kalajengking juga perlu menyeberang, maka dia minta tolong diantar buaya. Semula buaya agak ragu, tapi kemudian dia dibujuk kalajengking yang mengatakan bahwa tidak mungkin ia membunuh buaya. Sebab, dua-duanya akan mati, berhubung kalajengking tidak bisa berenang.

Setelah sepakat, mulailah mereka menyeberang sungai. Apa yang terjadi? Di tengah penyeberangan, kalajengking menggigit buaya dan memasukkan dosis racun besar ke dalam tubuh buaya. Buaya mati, tenggelam, dan kalajengking ikut tenggelam, mati.

Tokoh muda Tom Sawyer yang hidup dalam imajinasi penulis Mark Twain mengajak temannya main sulap sambil melakukan penipuan nakal. Kata Tom Sawyer, "Kalau kamu lari, saya menipu. Dan kalau saya menipu, kamu kabur. Saya tidak akan jelaskan mengapa, karena seorang penyulap tidak akan membeberkan rahasianya, sama dengan macan tidak akan mengubah lorengnya." Waktu dia bersahabat dan sahabatnya memberikan informasi rahasia, Tom Sawyer menggunakan informasi itu merugikan sahabatnya, karena macan tidak bisa mengubah lorengnya. Kalaupun loreng tidak bisa diubah, tapi bukankah semua bisa belajar hal baru untuk memperbaiki sikap? Mungkin bisa, tapi kita berhadapan lagi dengan pepatah "you can’t teach an old dog new tricks". Artinya, orang susah mengubah kelakuannya. 

Lebih jelas kalau kita lihat satu contoh lagi. Kelompok A dan kelompok B  berdebat untuk menentukan sistem terbaik. Sebetulnya, pilihan terbaik itu sudah jelas, karena kelompok A sudah ahli mengelola sistem itu. Tapi, karena kelompok B tidak suka kelompok A, maka B berkelakuan seperti kalajengking. Dia menusuk kelompok A, walaupun dua-duanya menjadi korban. 

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat. Jadi, mereka masih leluasa berkeliaran. Yang menyuruh kalajengking adalah macan yang suka merusak hutan. Macan ini kelihatan sudah tidak galak karena sudah menjadi raja seisi hutan. Dia memang raja, tapi loreng macan tidak berubah, dan macan tetap merusak kehidupan manusia. 

Macan juga tidak bisa mengubah lorengnya dari hitam-kuning menjadi merah-hijau seperti seragam Kamerun. Macan tidak mengubah lorengnya, orang tidak mengubah sifatnya. Ada cerita mengenai pelanduk yang sudah lama berkawan dengan buaya. Mereka suka ngobrol di tepi sungai, menghabiskan waktu berjam-jam curhat mengenai nasib masing-masing. Pelanduk tinggal di darat dan tidak bisa berenang. Buaya tinggal di air dan tidak nyaman di darat, kecuali hanya sebentar. Kalau lama-lama, buaya takut dikatain buaya darat, dan itu sangat memalukan bagi buaya yang hidup tanpa dosa, kecuali mencari makan.

Dalam habitatnya, buaya sungai dan danau bisa hidup 130 tahun. Sebaliknya, pelanduk yang imut-imut hanya hidup 15 tahun paling lama, dan takut masuk air. Tapi, buaya dan pelanduk bersahabat baik, walaupun mereka tahu bahwa kesementaraan meliputi hubungan mereka. Cerita ini bukan mengenai kesementaraan itu, tapi mengenai sifat hakiki masing-masing. Suatu hari, ada masalah. Pelanduk bosan hidup di satu sisi dari sungai itu, dan ingin mengenal dunia di seberang sungai. Maka sang buaya berkata, "Tidak jadi masalah. Saya bisa membawa kamu menyeberang." Karena sudah berteman lama, pelanduk setuju dan naik ke atas punggung buaya dengan langkah kecil yang halus. Di tengah sungai, buaya menyelam dan memakan pelanduk kecil itu. Mengapa? Sebab, buaya tidak bisa mengubah kebiasaannya cari makan.

Ada cerita lebih ekstrem dari film In the Name of My Father. Cerita ini menyangkut buaya juga, tapi dengan kawan baru seekor kalajengking yang bisa membunuh makhluk lain dengan satu gigitan. Kalajengking juga perlu menyeberang, maka dia minta tolong diantar buaya. Semula buaya agak ragu, tapi kemudian dia dibujuk kalajengking yang mengatakan bahwa tidak mungkin ia membunuh buaya. Sebab, dua-duanya akan mati, berhubung kalajengking tidak bisa berenang.

Setelah sepakat, mulailah mereka menyeberang sungai. Apa yang terjadi? Di tengah penyeberangan, kalajengking menggigit buaya dan memasukkan dosis racun besar ke dalam tubuh buaya. Buaya mati, tenggelam, dan kalajengking ikut tenggelam, mati.

Tokoh muda Tom Sawyer yang hidup dalam imajinasi penulis Mark Twain mengajak temannya main sulap sambil melakukan penipuan nakal. Kata Tom Sawyer, "Kalau kamu lari, saya menipu. Dan kalau saya menipu, kamu kabur. Saya tidak akan jelaskan mengapa, karena seorang penyulap tidak akan membeberkan rahasianya, sama dengan macan tidak akan mengubah lorengnya." Waktu dia bersahabat dan sahabatnya memberikan informasi rahasia, Tom Sawyer menggunakan informasi itu merugikan sahabatnya, karena macan tidak bisa mengubah lorengnya. Kalaupun loreng tidak bisa diubah, tapi bukankah semua bisa belajar hal baru untuk memperbaiki sikap? Mungkin bisa, tapi kita berhadapan lagi dengan pepatah "you can’t teach an old dog new tricks". Artinya, orang susah mengubah kelakuannya. 

Lebih jelas kalau kita lihat satu contoh lagi. Kelompok A dan kelompok B  berdebat untuk menentukan sistem terbaik. Sebetulnya, pilihan terbaik itu sudah jelas, karena kelompok A sudah ahli mengelola sistem itu. Tapi, karena kelompok B tidak suka kelompok A, maka B berkelakuan seperti kalajengking. Dia menusuk kelompok A, walaupun dua-duanya menjadi korban. 

Kalajengking sangat mengerikan, tapi tidak banyak dikenal masyarakat. Jadi, mereka masih leluasa berkeliaran. Yang menyuruh kalajengking adalah macan yang suka merusak hutan. Macan ini kelihatan sudah tidak galak karena sudah menjadi raja seisi hutan. Dia memang raja, tapi loreng macan tidak berubah, dan macan tetap merusak kehidupan manusia. 

 

Follow the writer on Twitter

 

« previous 1 2 3 next »