Wimar Says

Merawat Kebun

February, 25th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Hak Azasi Manusia menjadi patung pujaan. Mula-mula diperjuangkan, kemudian disakralkan dalam pidato.

img

Orang yang punya waktu di rumah sering merawat kebun sesuai selera masing-masing. Ada yang ingin rapi sekali. Dalam mimpi, cita-citanya seperti halaman istana Versailles; dikunjungi ratusan ribu orang, tapi selalu tertata rapi seperti rambut istri pejabat. Tanamannya mahal-mahal dan tidak jarang jadi mahal karena didatangkan dari tempat jauh. Ada kebun bersuasana santai, tanaman seperti liar, padahal dipilih dan dibersihkan. Dalam mimpi, cita-citanya seperti Kebun Raya Bogor, dikunjungi ratusan ribu orang; liar juga, tapi bersih seperti wanita profesional modern yang tidak senang rambut sasak dan bedak berlebih.

Dahulu kala, tidak ada kebun rapi atau kebun santai. Yang ada, tanaman liar tumbuh di sana-sini dan tidak jarang saling berebut zat organic dari tanah sehingga sebagian subur sebagian mati. Seperti masyarakat dahulu kala, persaingan terjadi atas dasar hidup atau mati. Sebagian punya uang triliunan, sebagian tidak tahu berapa banyak satu triliun itu. Peradaban mulai memperbaiki semuanya. Kebun ditangani dengan ilmu botani dan masyarakat dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia terbagi dari satuan-satuan negara, dan perkembangan terjadi berbeda-beda di tiap-tiap negara.

Cerita punya cerita, untuk menyingkat cerita panjang, kita di sini sanggup keluar dari masyarakat liar menjadi sangat teratur. Tapi, seperti dalam kebun Versailles, tanaman jenis baru tidak diterima dan tanaman yang tidak seirama dengan tanaman kerajaan diracun dan dibuang. Kita, seperti Anda dan saya, tidak senang pembatasan ini dan berjuang dalam masyarakat untuk Hak Azasi Manusia. Tidak pusing dengan metafor yang berpindah-pindah?

Hak Azasi Manusia menjadi patung pujaan. Mula-mula diperjuangkan, kemudian disakralkan dalam pidato. Tidak lama setelah itu, kasus pelanggaran HAM hilang. Bukan karena terselesaikan, tapi karena diganti pidato dan pencitraan. Sampai pada puncaknya, dua tokoh pelanggaran HAM bisa menjadi tokoh masyarakat. Dalam demokrasi, ini dimungkinkan. Orang tidak bisa dianggap bersalah sebelum pengadilan dinyatakan bersalah. Lama-lama, pengadilan mengundang makhluk hidup yang bisa membuat siapa pun tidak dinyatakan bersalah. Pelanggar HAM bisa berkeliaran karena punya pengacara yang merawatnya. Pelanggar pajak bisa berkeliaran karena petugas pajak menjadi otoritas pemeriksa keuangan. Tapi, itu untuk cerita lain.

Cerita kita kecil saja. Dalam masyarakat kecil yang dimiliki setiap orang, timbul idealisme sekaligus kerancuan mengenai demokrasi, oposisi, dan pluralism. Mengira bahwa demokrasi berarti semua orang boleh bicara, kita mengizinkan orang masuk rumah dan teriak-teriak mencela ibu dan anak kita. Salah kaprah terletak bahwa demokrasi itu menjadi prinsip dalam negara, dan semakin kecil unit masyarakat yang menjadi persoalan, semakin diizinkan untuk mengusahakan keserasian.

Merawat kebun boleh dengan mengizinkan tanaman macam-macam tumbuh. Tapi, tanaman ganas yang akarnya menghabiskan tanaman lain, tidak perlu dibiarkan tumbuh liar. Oposisi dianggap gagah karena sepuluh tahun yang lalu perbedaan pendapat dilarang. Tapi, yang senang gagah-gagahan ternyata bukan orang yang punya pendapat, tapi yang ingin menurunkan diskusi masyarakat kepada tingkat debat kusir yang dikuasainya. Dengan menentang asal menentang, dia menjadi terkenal. Dengan mengadu domba dan fitnah, dia masuk televisi. Dengan mengekspresikan dengki di Twitter, dia berharap mewakili pluralism. Padahal Twitter, Facebook, keluarga, perusahaan, dan sekolah itu harus menyediakan tempat serasi dan nyaman bagi setiap kelompok yang bersahabat. Untuk bertarung dalam masyarakat, disediakan forum demokrasi, yaitu DPR, partai, ormas. Untuk mengembangkan pertemanan, suasana baik, keterampilan, dan wawasan, orang membuat kelompok masing-masing di dunia social media yang banyak itu. Untuk merawat kebun disediakan pupuk, obat anti-hama, dan perlindungan. Untuk merawat pertemanan, kenyamanan, dan pergaulan sehat, kita berkumpul dengan orang yang berniat positif, yang ingin saling mengisi, yang cocok antara yang curhat dengan yang mendengarkan bergantian. Dalam social media, merawat kebun pertemanan dilakukan dengan Add, Approve, Follow, Unfollow, dan Block supaya tanaman hama tidak merusak tanaman yang sedang tumbuh subur.

 

Follow him on Twitter

 

Kalau Teman Kita Jadi Monster

February, 12th 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Percuma saja satu orang biasa melawan monster dengan pendukung dan aset berlimpah.

img

Terinspirasi film fantasi yang banyak beredar, baik yang bagus maupun yang so-so, pada siang yang sepi ini saya berpikir, bagaimana kalau teman saya menjadi monster? Tidak tiba-tiba, tapi secara berangsur-angsur atau istilah sekarang gradual, mulai dari kita lulus SMA. Ada satu teman baik, saya lupa namanya. Dulu, kami sama-sama jadi mahasiswa sastra. Kami biasa berteman baik dengan mahasiswa yang punya kesamaan latar belakang, walaupun hanya sebagian, tidak seluruhnya. Memang, dalam banyak hal, teman saya ini tidak sama. Tapi, itulah indahnya keragaman, diversity. Asyik saja. Tidak pernah terpikir bahwa perbedaan itu harus menjadi masalah. 

Waktu kecil, saya lebih banyak menghadapi teman yang berbeda karena keluarga membawa saya ke Eropa Barat. Masuk sekolah internasional, saya ketemu orang Belanda, Swedia, Israel, Amerika Serikat, dan Thailand. Semua berbeda, tapi tidak ada yang menakutkan. Nah, kalau lihat film seram suka ada cerita mengenai Count Dracula dari Transylvania. Satu hari, saya nonton film itu dalam warna hitam-putih. Setelah pulang dari bioskop, saya (usia 9 tahun waktu itu) berpikir, bagaimana kalau memang ada vampir dari Transylvania? Serem banget. Memang ada betulan negara Transylvania? Ngarang barangkali. Walah, alangkah kagetnya ketika saya baca buku. Ternyata, Transylvania memang ada. Bukan negara, tapi suatu wilayah di Rumania, dekat perbatasan Hungaria. Ya sudah, jangan dekat-dekat daerah itu, pasti aman. Kengerian muncul kembali ketika membaca buku tentang Dracula dan nonton filmnya, yang menceriterakan bahwa Count Dracula suka jalan-jalan ke London. Cara perjalanannya unik, yaitu dalam peti mati yang diisi pasir, di mana ia dikubur supaya tidak melihat sinar matahari. Soalnya, dia hanya bisa hidup dalam kegelapan.

Indonesia jauh dari London, tapi ketakutan saya pada monster tidak hilang. Setiap ke pantai yang banyak pasir, saya takut sekali akan ada drakula muncul. Katanya, drakula kelihatan normal kalau tidak sedang merekrut pengikutnya. Cara merekrutnya adalah dengan merayu dan kemudian menghisap darahnya. Darah segar membuat drakula jadi kuat dan hidup ratusan tahun. Sementara, korbannya mati tapi hidup lagi sebagai vampir juga. Lama-lama, pengikut drakula jadi banyak, sampai 50.000, dan semuanya sangat setia membela Count Dracula.

Jadi, saya berpikir, bagaimana kalau salah seorang teman baik saya zaman dulu itu sudah berubah menjadi drakula? Tidak mungkin melawan dia, karena super kuat dan punya pendukung asli 50.000 orang—selain orang yang bersimpati karena tidak tahu bahaya penghisapan darah Count Dracula. Saya juga tidak ingin kehilangan teman, lagipula tidak punya kemampuan melawan monster.

Jawabannya ketemu. Jangan berusaha melawan drakula. Percuma saja satu orang biasa melawan monster dengan pendukung dan aset berlimpah. Kalau kita bunuh dia, selain tidak mampu, juga sangat mungkin dia sebetulnya bukan monster, hanya mirip saja. Paling baik, hindari saja. Jangan dilawan, tapi jangan juga didekati. Nanti, kita direkrut jadi vampir. Diam-diam saja dan mengharapkan matahari cepat terbit. Kala kegelapan diganti terang, drakula tidak berdaya. Kalau bisa, jaga supaya keadaan tetap terang. Drakula tidak berani muncul. Ia akan terkubur dalam pasir selama-lamanya. Jangan dilawan, tapi perbaiki keadaan agar kegelapan berkurang. Dan, beritahu orang lain agar waspada. Jangan termakan rayuan monster. Bela orang-orang yang sedang berusaha membasmi drakula. Tanpa bantuan, orang-orang itu akan terbinasakan. Basmi sifat monsternya, tidak perlu dibunuh. Sebab, Count Dracula sebetulnya orang baik yang kena penyakit. Mungkin ada obatnya.

 

Follow @wimar on Twitter

 

Hero (Bukan Iklan Supermarket)

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

We didn't lose the game, we just ran out of time

img

Kalau Gus Dur akhirnya diangkat jadi Pahlawan Nasional, maka itu bukan saja keputusan yang tepat, tapi memberikan isyarat akan budi pekerti bangsa Indonesia. Sebab, seperti Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi, ia bukan hanya memerdekakan Indonesia, tapi mengubah dunia. Pahlawan zaman sekarang harus bersifat global; bukan hanya jagoan di negara sendiri, untuk kepentingan bangsa sendiri. Kalau hanya menjadi andalan suatu bangsa, maka terlahir nuansa kuat bahwa ia memperkuat bangsa A untuk mengalahkan bangsa B. Itu ciri pahlawan masa lalu, seperti Pangeran Antasari (bukan Antasari Azhar) yang melawan Belanda dari Borneo, dan Pangeran Diponegoro yang melawan Belanda dari Jawa. Mereka bukan pahlawan untuk orang Belanda.

Zaman dahulu, pahlawan dikenal setengah dewa dan merupakan bagian penting dari skenario yang digambarkan oleh mitologi Yunani. Hero atau heroine melambangkan karakter yang menghadapi bahaya dan tantangan dengan keberanian serta kesediaan mengorbankan diri; sangat berbeda dengan keberanian orang Pansus yang lebih condong mengorbankan orang lain.

Kepahlawanan tidak diukur dari jumlah orang yang dipimpin atau permasalahan yang ditangani. Hari ini, Arsene Wenger menjadi hero untuk persepakbolaan Inggris karena membawa Arsenal ke puncak klasemen dengan permainan bersih. Dia dianggap orang yang tepat untuk menahan arus kurang sehat dalam persepakbolaan, yang notabene menganggap menang adalah segala-galanya. Dulu juga ada pahlawan yang muncul di dunia sepakbola; Bobby Charlton, kapten Inggris yang tidak pernah mendapat kartu merah, dan Edison Arantes do Nascimento yang lebih dikenal sebagai Pele. Mereka bukan hero karena selalu menang, tapi karena sportivitas yang mengangkat derajat sepakbola di seluruh dunia. Keterampilan saja tidak penting. Karena itu, Diego Maradona dan Christiano Ronaldo jauh dari pangkat pahlawan, karena menghalalkan semua cara untuk menang.

Orang bisa juga menjadi pahlawan tanpa sengaja melakukan sesuatu yang besar untuk jumlah orang yang besar. Pernah diceritakan kejadian saat orang biasa yang diperankan Dustin Hoffman menyaksikan jatuhnya pesawat terbang. Jatuhnya agak tanggung dari ketinggian tidak seberapa, karena akan mendarat di bandara LaGuardia di Brooklyn. Tanpa niat yang kuat, ia terpaksa menyelamatkan penumpang dari pesawat yang sedang terbakar, sampai semuanya selamat. Setelah itu ia menghilang, karena tidak suka perhatian pers. Kebetulan, ada seorang presenter televisi terkenal di pesawat itu yang turut diselamatkan. Maka, ia melakukan kampanye pencarian si penolong misterius itu. Akhirnya ketemu, tapi orangnya keliru. Lanjutannya tidak perlu diceriterakan di sini, tapi kita lihat kepahlawanan bisa diberikan secara keliru.

Begitu juga, seseorang yang baik-baik bisa secara keliru digambarkan sebagai orang jahat oleh opini publik yang diselewengkan media. Sehingga, belum pasti orang yang menang dalam penilaian kepahlawanan dan kejahatan itu adalah orang yang layak menerima pengangkatan itu. Tapi bagi orang baik, tidak penting dia dinilai baik atau buruk, selama dia nyaman dalam keyakinan telah menjalankan hidup dengan baik. Bagi orang yang demikian, bukan menangnya yang penting, tapi kepuasannya atas perbuatan yang baik. It is not about winning but how you pay the game. Karena akhirnya, orang akan mengenal juga siapa yang sebenarnya berjasa dan siapa yang mengacaukan masyarakat. Kalau orang dijatuhkan dari jabatan, belum tentu dia kalah. Hanya tinggal waktu saja yang menyadarkan masyarakat akan yang baik dan buruk.

We didn't lose the game; we just ran out of time.

 

Arman dan Ken Arok

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Banyak orang yang lancung alias bohong sekian kali, korupsi, dan menipu, tapi tetap bisa menjadi wakil rakyat

img

Semua hal penting bisa diterangkan lebih jelas dalam bentuk cerita. Daripada menulis Curriculum Vitae lengkap, buatlah The Story of My Life yang bisa dinyanyikan dalam tiga menit. Di SMP, Arman susah sekali menghafal kejadian sejarah dan tanggal-tanggalnya. Seperti, siapa Ken Arok, lahir tanggal berapa, berkuasa tanggal berapa? Baru selesai hafal, muncul nama lain; Ken Dedes. Arman yang berusia 12 itu bingung, siapa lagi, nih, orang satu? Akhirnya, dia switch off dan mendapat nilai 4 untuk Sejarah. Untung nilainya tinggi di Matematika dan Fisika. Jadi, dia naik kelas. 

Di SMA datang guru Pak Rahardjono yang datang tanpa catatan. Aneh juga, pikir Arman, pelajaran sejarah kok tidak disuruh menghafalkan tanggal? Kata Pak Guru, kalau mau tahu tanggal, lihat saja di Wikipedia. Dia mau bercerita saja, katanya. Dan, mulailah Pak Guru cerita mengenai Ken Arok. Arman kaget, "Wah, ini yang gue disuruh hafalin tanggal lahirnya. Males dengerin ah." Tapi, begitu Pak Rahardjono memasuki cerita, Arman seakan terhipnotis. Menurut Pak Rahardjono, Ken Arok adalah putra Dewa Brahma hasil selingkuh dengan wanita bernama Ken Ndok. Rupanya semua nama menggunakan "Ken" waktu itu. Gila, macam infotainment pakai selingkuhan segala. Karena malu punya anak tidak sah, ibunya membuang Ken Arok ke tempat sepi. Tapi, kemudian ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong. Lalu, cerita semakin seru. Tapi, Arman mengantuk karena baru main bola. Dia bangun waktu adegan seru Ken Arok membunuh Raja Tumapel bernama Tunggul Ametung saat sang raja tidur. Entah bagaimana, dengan spin yang luar biasa, dia bisa jadi raja. Bukan hanya itu, malah dia menikahi Ken Dedes istrinya Tunggul Ametung, dan menjadi raja Jawa yang besar. Tikam-menikam seperti cerita politik hari ini.

Arman tidak disuruh menghafal tanggal dan tahun. Tapi, dia mencari sendiri di Wikipedia dan sumber lain di internet. Dari Matematika dan Fisika, dia jadi berminat pada sejarah. Hanya saja, tekanan sosial menggiring dia ke ITB dan sejarah menjadi minat di luar profesi. Semua karena cerita lebih berbicara dari fakta sejarah. Sejarah dunia penuh cerita yang menjadi bahan subur untuk buku dan film Hollywood. A picture is worth a thousand words, but a story is worth a thousand pictures.

Ilmuwan komunikasi mengatakan, cerita itu ada macam-macam. Bukan saja dari seru-tidaknya, tapi dari kekuatannya untuk menyampaikan pesan. Katanya, cerita menjadi kuat kalau dia benar. A great story is true. Kuat kalau dia konsisten dan otentik. Hari ini, TV ramai dengan berbagai cerita. Selalu ada cerita seru muncul bergantian. Tapi, yang berdampak jangka panjang adalah cerita yang bisa dipercaya. Kepercayaan adalah resource yang langka. Kata pepatah zaman dulu, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya. Kelihatannya pepatah itu tidak berlaku lagi. Banyak orang yang lancung alias bohong sekian kali, korupsi, menipu, tapi tetap bisa menjadi wakil rakyat. Bagian-bagian media bisa tersangkut agenda politik dan dibeli uang besar. Tapi, di akhir cerita kita, saya yakin bahwa yang benar akan dipercaya. Pembaca dan konsumen media punya kejelian untuk mencium inkonsistensi. 

Bagaimanapun, semua bisa disampaikan dalam suatu cerita. Kalau tidak, dia kurang punya relevansi. Seperti dongeng anak-anak yang diceriterakan pada Arman waktu kecil, yang bagus adalah cerita yang membuat anak mengerti pesan yang dikandung. Atau paling tidak mengundang pertanyaan, "So, what is the message?" Belum Arman temukan, apa pesan yang terkandung dalam cerita Ken Arok. Bahwa kekuasaan adalah segalanya, dan bisa diraih dengan kesungguhan, kelicikan, dan keris sakti? Harusnya ada pesan yang lebih berguna dari itu.

Sepupu Saya Sang Juara

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Cerita hidupnya bisa menjadi cerita sendiri. Sebab, ia mengalami kesulitan berat tapi mengatasi semua dengan gemilang

img

Tempo hari, saya ketemu sepupu saya. Saya panggil dia kakak. Dalam bahasa Sunda, waktu saya masih kecil, saya panggil Tjeu Micky. Sekarang Ceu Miki. Jarang ketemu, tapi setiap kali ketemu saya temukan sesuatu yang baru, yang rata-rata mengagumkan. Biar saya ceritakan secara kronologis supaya tidak hanyut oleh semangat kekaguman.

Pertama kali sadar waktu saya SMP, dan Ceu Miki mungkin SMA atau mahasiswa. Waktu itu, saya tidak pernah tahu saudara yang lebih besar itu apa kegiatannya, karena dunia saya sangat kecil. Di luar pergi sekolah, saya tidak terlalu tahu orang lain ngapain. Kecuali orang yang jauh sekali yang saya lihat di majalah, seperti Bung Karno dan Ferenc Puskas, pemain sepakbola terbesar asal Hongaria yang kabur setelah tentara Uni Sovyet menyerbu Budapest. Puskas menetap di Spanyol, masuk di Real Madrid, dan saya tidak tahu cerita sesudahnya.

Ceu Miki tinggal di Bandung, saya di Jakarta. Kalau ketemu, dia ramah. Tapi, kelihatannya dia hanya menganggap saya anak kecil gemuk berkacamata. Jadi, saya tidak banyak diajak bicara, hanya diberi senyuman dan camilan yang banyak di Bandung. Ketika saya SMA, saya sadar bahwa dia senang main ping pong. Di rumah orang tuanya, mereka memang senang main ping pong. Tapi, ayahnya tidak suka istilah “ping pong”. Yang benar tenis meja. Sebab, katanya ini olahraga serius, bukan main-main.

Orangtuanya cukup berada dan membangun rumah kayu khusus di atas kolam untuk main tenis meja. Bahkan, tempat ini kemudian menjadi pusat kegiatan klub tenis meja yang bernama APTM, Arahkan Perhatian Terhadap Menang. APTM itu serius, berukuran ruangan sebesar gelanggang internasional. Kalau pemain jagoan bertanding tennis meja, pasti kadang-kadang berdiri jauh dari meja. Bagi saya, dari jarak sekian susah untuk memukul bola tepat di posisi yang diinginkan di meja. Mejanya sendiri dibuat dari kayu jati dan dirawat baik-baik. Katanya, harganya sama dengan mobil. Tapi, saya tidak tahu berapa harga mobil waktu itu.

Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV. Baru di situlah saya tahu, Ceu Miki seorang juara. Waktu itu, saya mendapat tugas mengemudi ‘bemo’ milik keluarga, Daihatsu warna biru. Saya juga ikut menjaga kios makanan di stadion utama yang dijalankan PASI (Pasundan Istri, bukan Persatuan Atletik). Jadi, saya menonton Asian Games secara komprehensif. Kaget dan kagum saya melihat nama Ceu Miki ada dalam daftar acara, dan kemudian banyak menang. Iseng-iseng, barusan saya periksa di internet, ada namanya dalam daftar pemain International Table Tennis Federation (ITTF) sebagai peserta Asian Games 1962.

Setelah itu, saya lebih serius mengikuti karier tenis meja sepupu saya ini. Pernah juara nasional tunggal dan ganda beberapa kali, bahkan menjadi juara tunggal putri kejuaraan lima negara ASEAN sebelum menjadi ASEAN. Itu saya nonton sendiri, mungkin terakhir sebelum perjalanan hidup saling menjauhkan kita. Cerita hidupnya bisa menjadi cerita sendiri. Sebab, ia mengalami banyak kesulitan berat tapi mengatasi semua dengan gemilang. Mungkin prestasi ini dan keluarganya yang paling bisa memberikan inspirasi. Cerita yang terlalu besar untuk kolom kecil ini.

Setelah ketemu kemarin di Bandung, kakak saya yang paling tua menambahkan beberapa prestasi Ceu Miki seingatnya. Di PON III Medan 1963, Ceu Miki juara I putri dan juara I ganda berpasangan dengan ibunya. Dan, baru saya ketahui bahwa kalau dicari di internet, banyak berita mengenai prestasi Ceu Miki itu. Misalnya, di Pikiran Rakyat tertanggal 3 Februari 2009. Tertulis “Micky Gurmiresmi, Nenek dari 9 Cucu yang Harumkan Nama Bangsa… MENJADI tua tidak selalu identik dengan keringkihan dan kerapuhan. Tengoklah Micky Gurmiresmi. Di usianya yang ke-72 tahun, dia masih melanglang buana menorehkan prestasi. Dua medali emas dan satu medali perak berhasil Micky persembahkan untuk ibu pertiwi atas upayanya yang pantang menyerah di Asia Master Athletics (AMA) Championships 2008, Chiang Mai Thailand. Sekilas, Micky tampak seperti per...”

Sekarang, saya sudah bukan anak SMP, dan Ceu Miki sudah berusia 73 tahun. Dia masih baik, manis, dan banyak senyum pada saya. Anaknya ada delapan, besar-besar dan berprestasi. Ia sudah tidak main tenis meja, tapi pindah ke atletik, khususnya lari jarak jauh. Selain menjadi juara Asia 5.000 m, banyak yang ia menangkan. Tapi, yang saya paling kagumi sekarang adalah konsistensinya. Setiap hari, ia rutin lari pagi keliling stadion sebanyak dua puluh lima kali. Di masa muda pun, saya tidak pernah sanggup lari lebih dari dua kali keliling lapangan bola.

Ahmad Mughni Mengingatkan Saya

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Sebodoh-bodohnya orang yang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap

img

“Please don’t criticize what you don’t understand” adalah salah satu kalimat favorit saya yang dipakai Bob Dylan dalam lagu pentingnya “The Times They Are A-Changin”. Hari-hari ini, kalimat itu sering teringat karena banyaknya orang mengkritik asalan, terutama di Facebook dan forum internet lain. Saya dididik untuk sabar, walaupun pada dasarnya sering kesal. Salah satunya kalau membaca komentar orang mengenai suatu persoalan, yang nyata sekali orang itu tidak mengerti. Misalnya, soal Bank Century. Berapa banyak, sih, orang yang ahli perbankan dan ekonomi moneter? Saya sendiri tidak mengerti banyak. Jadi, bukannya saya mencela orang yang kurang tahu. Mereka tidak pernah mengundang kekesalan. Tapi, orang yang sok tahu, menyerang, dan menyepelekan orang lain susah dibagi jatah kesabaran. Kita sudah capek-capek bersabar, disambut dengan, “Ah, tahu lah. Brengsek loe. Pisss ah.” Namanya juga tidak jelas. Fotonya tidak ada. Mau apa, sih, orang macam itu?

Tapi, tunggu dulu. Ternyata, curhat saya itu banyak yang mendukung dengan pandangan serupa. Malah, teman saya Anita menambahkan,  “Never judge a man until you have walked a mile in his shoes.”  Betul juga. Banyak kata mutiara sejenis; ada yang disebut sumbernya, ada yang sudah menjadi milik umum. Dan, ternyata, kalimat Bob Dylan itu diucapkan sebelum masanya oleh Elvis Presley dan banyak penyanyi lain. Begitulah kata mutiara. Tidak mungkin bersumber unik, karena manusia sudah berkeliaran di dunia sebanyak miliaran orang. Sementara, kearifan segitu-gitu saja, hanya didaur ulang karena orang suka lupa.

Sekonyong-konyong, di antara komentar di Facebook, pada 26 November, ada yang menarik perhatian khusus. Bahasanya santun, isinya benar, nama orangnya Ahmad Mughni. Begitu santun komentarnya, semula saya pikir itu menyatakan persetujuan. Ternyata, sebaliknya. Saya kutip dalam bentuk asli. “Kritik juga jangan dimonopoli, dong.  Status Bung WW oke lah. Although it's normatively true, it's just acceptable when we use it as a debate technique to beat a qualified opponent for winning the debate. However, the status doesn't promote a good democratic education for people. It may implicitly prohibit people making their own stand to public issues. It may degrade the quality of a a public discourse and democracy itself. Let the free market mechanism chooses which opinion to follow. Ayo, dorong terus masyarakat untuk belajar punya sikap yang jelas, sambil terus meningkatkan pengetahuan diri masing-masing. Kritik bukanlah ajang demonstrasi intelektualitas seseorang. Pandang ia sebagai ekspresi responsible civic duty sebagai bagian ekspresi pencarian kebenaran sejati. Ayo, Bung WW, show us once more semangat dasar dari "partai orang biasa" yang dulu lantang kau suarakan. Peace.”

Wah, jadi malu. Betul sekali kata-kata Pak Ahmad itu, saya salah. Untung diingatkan. Semua saya terima baik kecuali satu kata di ujung, “peace”. Kenapa, sih, orang suka begitu? Bicara tegas, lalu ujungnya mengajak damai. Padahal, lebih mantap kalau kita terima perbedaan, lebih pluralistis.

Koreksi Pak Ahmad itu benar dan saya terima seluruhnya. Silakan baca sekali lagi, tidak bagus kalau saya jelaskan seakan-akan pembaca tidak bisa mengerti sendiri. Katanya, kritik jangan dimonopoli. Jangan kita saja yang boleh kritik, orang lain juga harus boleh. Sebodoh-bodohnya orang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap. Jadi, saya tidak boleh lagi mengatakan “please don’t criticize what you don’t understand“. 

Ah masa, sih? Jadi, salah kalau kita bilang “jangan asbun” atau “tong kosong nyaring bunyinya” atau “kritik asalan menunjukkan kekurangmampuan menyatakan pendapat”? Lama saya berpikir, sebab tidak mau saya paksakan kebenaran pikiran saya menolak nasehat Pak Ahmad yang begitu lengkap.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan. Pertama, tidak perlu ada yang benar dan salah dalam hal normatif. Pak Ahmad Mughni benar, saya juga benar. Tergantung konteks. Jadi, tepat kata-kata “let the free market mechanism choose which opinion to follow”. Termasuk dalam free market mechanism, kalimat Bob Dylan itu. Terserah mau nurut atau tidak.

« previous 1 2 next »