Wimar Says

Sepupu Saya Sang Juara

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Cerita hidupnya bisa menjadi cerita sendiri. Sebab, ia mengalami kesulitan berat tapi mengatasi semua dengan gemilang

img

Tempo hari, saya ketemu sepupu saya. Saya panggil dia kakak. Dalam bahasa Sunda, waktu saya masih kecil, saya panggil Tjeu Micky. Sekarang Ceu Miki. Jarang ketemu, tapi setiap kali ketemu saya temukan sesuatu yang baru, yang rata-rata mengagumkan. Biar saya ceritakan secara kronologis supaya tidak hanyut oleh semangat kekaguman.

Pertama kali sadar waktu saya SMP, dan Ceu Miki mungkin SMA atau mahasiswa. Waktu itu, saya tidak pernah tahu saudara yang lebih besar itu apa kegiatannya, karena dunia saya sangat kecil. Di luar pergi sekolah, saya tidak terlalu tahu orang lain ngapain. Kecuali orang yang jauh sekali yang saya lihat di majalah, seperti Bung Karno dan Ferenc Puskas, pemain sepakbola terbesar asal Hongaria yang kabur setelah tentara Uni Sovyet menyerbu Budapest. Puskas menetap di Spanyol, masuk di Real Madrid, dan saya tidak tahu cerita sesudahnya.

Ceu Miki tinggal di Bandung, saya di Jakarta. Kalau ketemu, dia ramah. Tapi, kelihatannya dia hanya menganggap saya anak kecil gemuk berkacamata. Jadi, saya tidak banyak diajak bicara, hanya diberi senyuman dan camilan yang banyak di Bandung. Ketika saya SMA, saya sadar bahwa dia senang main ping pong. Di rumah orang tuanya, mereka memang senang main ping pong. Tapi, ayahnya tidak suka istilah “ping pong”. Yang benar tenis meja. Sebab, katanya ini olahraga serius, bukan main-main.

Orangtuanya cukup berada dan membangun rumah kayu khusus di atas kolam untuk main tenis meja. Bahkan, tempat ini kemudian menjadi pusat kegiatan klub tenis meja yang bernama APTM, Arahkan Perhatian Terhadap Menang. APTM itu serius, berukuran ruangan sebesar gelanggang internasional. Kalau pemain jagoan bertanding tennis meja, pasti kadang-kadang berdiri jauh dari meja. Bagi saya, dari jarak sekian susah untuk memukul bola tepat di posisi yang diinginkan di meja. Mejanya sendiri dibuat dari kayu jati dan dirawat baik-baik. Katanya, harganya sama dengan mobil. Tapi, saya tidak tahu berapa harga mobil waktu itu.

Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV. Baru di situlah saya tahu, Ceu Miki seorang juara. Waktu itu, saya mendapat tugas mengemudi ‘bemo’ milik keluarga, Daihatsu warna biru. Saya juga ikut menjaga kios makanan di stadion utama yang dijalankan PASI (Pasundan Istri, bukan Persatuan Atletik). Jadi, saya menonton Asian Games secara komprehensif. Kaget dan kagum saya melihat nama Ceu Miki ada dalam daftar acara, dan kemudian banyak menang. Iseng-iseng, barusan saya periksa di internet, ada namanya dalam daftar pemain International Table Tennis Federation (ITTF) sebagai peserta Asian Games 1962.

Setelah itu, saya lebih serius mengikuti karier tenis meja sepupu saya ini. Pernah juara nasional tunggal dan ganda beberapa kali, bahkan menjadi juara tunggal putri kejuaraan lima negara ASEAN sebelum menjadi ASEAN. Itu saya nonton sendiri, mungkin terakhir sebelum perjalanan hidup saling menjauhkan kita. Cerita hidupnya bisa menjadi cerita sendiri. Sebab, ia mengalami banyak kesulitan berat tapi mengatasi semua dengan gemilang. Mungkin prestasi ini dan keluarganya yang paling bisa memberikan inspirasi. Cerita yang terlalu besar untuk kolom kecil ini.

Setelah ketemu kemarin di Bandung, kakak saya yang paling tua menambahkan beberapa prestasi Ceu Miki seingatnya. Di PON III Medan 1963, Ceu Miki juara I putri dan juara I ganda berpasangan dengan ibunya. Dan, baru saya ketahui bahwa kalau dicari di internet, banyak berita mengenai prestasi Ceu Miki itu. Misalnya, di Pikiran Rakyat tertanggal 3 Februari 2009. Tertulis “Micky Gurmiresmi, Nenek dari 9 Cucu yang Harumkan Nama Bangsa… MENJADI tua tidak selalu identik dengan keringkihan dan kerapuhan. Tengoklah Micky Gurmiresmi. Di usianya yang ke-72 tahun, dia masih melanglang buana menorehkan prestasi. Dua medali emas dan satu medali perak berhasil Micky persembahkan untuk ibu pertiwi atas upayanya yang pantang menyerah di Asia Master Athletics (AMA) Championships 2008, Chiang Mai Thailand. Sekilas, Micky tampak seperti per...”

Sekarang, saya sudah bukan anak SMP, dan Ceu Miki sudah berusia 73 tahun. Dia masih baik, manis, dan banyak senyum pada saya. Anaknya ada delapan, besar-besar dan berprestasi. Ia sudah tidak main tenis meja, tapi pindah ke atletik, khususnya lari jarak jauh. Selain menjadi juara Asia 5.000 m, banyak yang ia menangkan. Tapi, yang saya paling kagumi sekarang adalah konsistensinya. Setiap hari, ia rutin lari pagi keliling stadion sebanyak dua puluh lima kali. Di masa muda pun, saya tidak pernah sanggup lari lebih dari dua kali keliling lapangan bola.

Ahmad Mughni Mengingatkan Saya

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 1

Sebodoh-bodohnya orang yang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap

img

“Please don’t criticize what you don’t understand” adalah salah satu kalimat favorit saya yang dipakai Bob Dylan dalam lagu pentingnya “The Times They Are A-Changin”. Hari-hari ini, kalimat itu sering teringat karena banyaknya orang mengkritik asalan, terutama di Facebook dan forum internet lain. Saya dididik untuk sabar, walaupun pada dasarnya sering kesal. Salah satunya kalau membaca komentar orang mengenai suatu persoalan, yang nyata sekali orang itu tidak mengerti. Misalnya, soal Bank Century. Berapa banyak, sih, orang yang ahli perbankan dan ekonomi moneter? Saya sendiri tidak mengerti banyak. Jadi, bukannya saya mencela orang yang kurang tahu. Mereka tidak pernah mengundang kekesalan. Tapi, orang yang sok tahu, menyerang, dan menyepelekan orang lain susah dibagi jatah kesabaran. Kita sudah capek-capek bersabar, disambut dengan, “Ah, tahu lah. Brengsek loe. Pisss ah.” Namanya juga tidak jelas. Fotonya tidak ada. Mau apa, sih, orang macam itu?

Tapi, tunggu dulu. Ternyata, curhat saya itu banyak yang mendukung dengan pandangan serupa. Malah, teman saya Anita menambahkan,  “Never judge a man until you have walked a mile in his shoes.”  Betul juga. Banyak kata mutiara sejenis; ada yang disebut sumbernya, ada yang sudah menjadi milik umum. Dan, ternyata, kalimat Bob Dylan itu diucapkan sebelum masanya oleh Elvis Presley dan banyak penyanyi lain. Begitulah kata mutiara. Tidak mungkin bersumber unik, karena manusia sudah berkeliaran di dunia sebanyak miliaran orang. Sementara, kearifan segitu-gitu saja, hanya didaur ulang karena orang suka lupa.

Sekonyong-konyong, di antara komentar di Facebook, pada 26 November, ada yang menarik perhatian khusus. Bahasanya santun, isinya benar, nama orangnya Ahmad Mughni. Begitu santun komentarnya, semula saya pikir itu menyatakan persetujuan. Ternyata, sebaliknya. Saya kutip dalam bentuk asli. “Kritik juga jangan dimonopoli, dong.  Status Bung WW oke lah. Although it's normatively true, it's just acceptable when we use it as a debate technique to beat a qualified opponent for winning the debate. However, the status doesn't promote a good democratic education for people. It may implicitly prohibit people making their own stand to public issues. It may degrade the quality of a a public discourse and democracy itself. Let the free market mechanism chooses which opinion to follow. Ayo, dorong terus masyarakat untuk belajar punya sikap yang jelas, sambil terus meningkatkan pengetahuan diri masing-masing. Kritik bukanlah ajang demonstrasi intelektualitas seseorang. Pandang ia sebagai ekspresi responsible civic duty sebagai bagian ekspresi pencarian kebenaran sejati. Ayo, Bung WW, show us once more semangat dasar dari "partai orang biasa" yang dulu lantang kau suarakan. Peace.”

Wah, jadi malu. Betul sekali kata-kata Pak Ahmad itu, saya salah. Untung diingatkan. Semua saya terima baik kecuali satu kata di ujung, “peace”. Kenapa, sih, orang suka begitu? Bicara tegas, lalu ujungnya mengajak damai. Padahal, lebih mantap kalau kita terima perbedaan, lebih pluralistis.

Koreksi Pak Ahmad itu benar dan saya terima seluruhnya. Silakan baca sekali lagi, tidak bagus kalau saya jelaskan seakan-akan pembaca tidak bisa mengerti sendiri. Katanya, kritik jangan dimonopoli. Jangan kita saja yang boleh kritik, orang lain juga harus boleh. Sebodoh-bodohnya orang menyatakan sikap, masih lebih baik daripada tidak menyatakan sikap. Jadi, saya tidak boleh lagi mengatakan “please don’t criticize what you don’t understand“. 

Ah masa, sih? Jadi, salah kalau kita bilang “jangan asbun” atau “tong kosong nyaring bunyinya” atau “kritik asalan menunjukkan kekurangmampuan menyatakan pendapat”? Lama saya berpikir, sebab tidak mau saya paksakan kebenaran pikiran saya menolak nasehat Pak Ahmad yang begitu lengkap.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan. Pertama, tidak perlu ada yang benar dan salah dalam hal normatif. Pak Ahmad Mughni benar, saya juga benar. Tergantung konteks. Jadi, tepat kata-kata “let the free market mechanism choose which opinion to follow”. Termasuk dalam free market mechanism, kalimat Bob Dylan itu. Terserah mau nurut atau tidak.

Cerita Samarinda dan Balikpapan

February, 2nd 2010 |  by  Wimar Witoelar  | 0

Indonesia tidak punya semua ini pada awalnya, kecuali kesamaan sejarah dijajah Belanda

img

Dari kamar saya di Balikpapan, terbentang laut luas dan teduh. Namanya Selat Makassar. Bentangan air ini merupakan selat yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi di Indonesia. Selat ini juga menghubungkan Laut Sulawesi di bagian utara dengan Laut Jawa di bagian selatan. Selat Makassar termasuk kategori laut dalam dan merupakan salah satu Alur Laut Kepulauan Indonesia. Kota pelabuhan utama di selat ini ialah Balikpapan, Makassar, dan Palu. Tempat ini juga menjadi lokasi jatuhnya pesawat Adam Air Penerbangan yang menewaskan 102 penumpang dan awak pesawat pada 1 Januari 2007.

Okelah, jangan melantur. Ini hanya kutipan dari Wikipedia. Pikiran asli saya sedang merenungkan, berapa jauh pantai Sulawesi itu dari kamar saya. Ada tidak, ya, orang yang sanggup berenang ke seberang? Selat Sunda sudah, Selat Inggris sudah. Malah ada yang menyeberang lautan Atlantik. Saya punya teman yang bisa berenang dari pantai Makassar ke pulau lepas pantai. Mungkin bisa berlatih untuk menyeberang dari Balikpapan ke Palu. Mungkin kalau terbawa arus, bisa mendarat di Mamuju. Disitu banyak hutan yang menyimpan sumber oxygen dan bisa dijadikan modal carbon trading menangkal keparahan pemanasan global.

Ngelantur lagi. Memang memandang laut lepas itu mengundang orang untuk melamun. Kalau orang sedang menghadapi persoalan pribadi, maka lamunannya makin merupakan lamunan masalah pribadi. Tapi kalau agenda curhat sedang kosong, maka kita ngelamun soal lain. Satu soal yang mengisi kepala dan hati saya selama perjalanan ke Samarinda dan Balikpapan adalah mengapa bisa tempat-tempat ini yang begitu jauh dari Jakarta, Banda Aceh dan Manokwari bisa tergabung dalam satu negara yaitu Indonesia.

Waktu saya kecil, sekolah mengajarkan bahwa Indonesia itu muncul karena Sumpah Pemuda, semangat merah putih dengan maju tak gentar, jiwa merdeka atau mati, dan konsep NKRI. Semua betul, tapi tetap saya heran mengapa Kaltim ingin tetap menjadi bagian Indonesia dan menjadi penyumbang pada negara besar Indonesia. Sedangkan leluhur Sultan Hasanah Bolkiah dari dulu tidak mau bergabung pada Federasi Malaya atau Malaysia, dan bertahan sebagai negara merdeka dimana penduduknya menjadi tuan rumah dan minyaknya diambil oleh perusahaan Inggris. Semua pekerjaan dilakukan oleh orang asing temasuk warung-warung yang diurus orang Melayu dari Malaysia dan Indonesia.

Istana Sultan punya 2000 kamar yang membuat saya berpikir dulu, harus banyak pesawat telpon di tiap kamar. Sekarang tentu tinggal dibagi PDA, orang tidak makin hilang di rumah yang lima kali lebih besar dari hotel bintang lima. Di Balikpapan ini bagus-bagus hotelnya, walaupun tidak 2000 kamar. Yang paling bagus diurus perusahaan hotel internasional. Bagi saya tidak jadi soal, malah bagus, tapi banyak orang yang suka tersinggung kalau ada orang asing kerja di Indonesia. Padahal, tanpa orang asing, tidak ada negara yang bisa maju cepat. China, India, Saudi Arabia, Iran semuanya maju karena ada investasi asing. Apalagi Brunei dan Singapura. Lalu, mengapa Kaltim menjadi bagian Indonesia dengan tenang?

Memang banyak keluhan mengenai ketidak adilan anggaran pusat setelah desentralisasi, tapi tidak ada yang bermimpi untuk membuat negara sendiri. Penduduk Kaltim sangat kosmopolitan, pluralis dan demokratis. Karena itu masa depan mereka aman di negara yang sedang berusaha kuat untuk melanjutkan perjalan menjadi negara kosmopolitan, pluralis dan demokratis.

Negara adalah kumpulan orang yang share kebersamaan dalam sejarah, budaya, bahasa atau asal etnis. Indonesia tidak punya semua ini pada awalnya, kecuali kebersamaan sejarah dijajah Belanda. Setelah merdeka, kebersamaan sejarah kita tambah tebal lagi, Bersama-sama ditekan sistem politik yang tidak stabil. Penderitaan bersama membentuk kebersamaan, jadi modal kita cukup dengan tambahan terakhir soal KPK-Polri.  

Tapi semua kebersamaan itu berada dalam pikiran orang yang memandangnya. Sekali orang kehilangan perasaan itu, atau istilahnya ‘hilfil’ mengenai Negara kita, maka orang akan melihat Selat Makassar dan merasa jauh dari wilayah Indonesia lain. Tapi selama masih ada perasaan, ia akan  bersyukur  bahwa bagian Indonesia yang paling runyam  tidak berada di bumi Kaltim, tapi tetap merasa tidak terpisahkan dari temannya di seberang laut dan gunung dan hutan belantara.

« previous 1 2 3 next »